Ija Kroeng, kain sarung khas Aceh yang mendunia

POPULARITAS.COM – DUA belas tahun sudah Khairul Fajri, rintis usahanya membuat kain sarung. Mengawali bisnisnya sektor tekstil, pria itu menamai brandnya Ija Kroeng.

Turun naiknyanya bisnis Ija Kroeng, telah dilewati Khairul Fajir, dan saat ini, usaha yang Ia bangun selama lebih dari satu dasa warsa tersebut, telah menorehkan sejumlah prestasi, dan bahkan di akui oleh dunia. 

Produk Ija Kroeng ini sudah saya kirim ke sejumlah negara Eropa, seperti Belgia, Denmark, Belanda, dan negara Asia Tenggara lainnya, kata Khairul Fajri, Owner IKM Ija Kroeng, dalam obrolannya dengan popularitas.com, beberapa waktu lalu.

Penamaan brand produknya Ija Kroeng, sebab nama itu telah menjadi bagian hidup masyarkaat Aceh secara luas. Di daerah ini, tidak ada satu orangpun yang tidak mengetahui apa itu Ija Kroeng, pasti semua tau, ujar kemudian.

Bahkan, kata Khairul Fajri Yahya, dari literasi yang pernah Ia baca, ija kroeng sudah ada sejak era kerajaan Aceh Darussalam. Sejarawan Rusdi Sufi dalam bukunya berjudul ‘Pakaian Tradisional di Aceh’ terbit 1993, menerangkan bahwa, salah satu lokasi pengrajin Ija Kroeng pada masa itu ada di kawasan Lambhuk, Kota Banda Aceh.

Di sana, pengrajin memproduksikan kain-kain dengan menggunakan alat tenun tangan yang disebut teupeun, sedangkan pekerjaannya disebut pok teupeun dan hasilnya disebut ija pok teupeun.

Dari desa Lambhuk juga dihasilkan kain-kain yang sangat terkenal seperti kain sarong (ija krong), kain selendang (ija sawak) dan jenis-jenis kain lainnya. Begitu terkenalnya sehingga selalu dicari orang, yang sering dinamakan dengan Ija Kroeng Lambhuk.

“Jadi, semua orang Aceh pasti tahu apa itu Ija Kroeng, nggak mungkin kalau kita bilang Ija Kroeng itu orang menyebut nama makanan, tumbuh-tumbuhan atau pot bunga. Maka dibilangnya pasti nama kain sarung,” jelas Khairul.

Khairul menceritakan, ia mendirikan Ija Kroeng bermula pada tahun 2010, di mana saat itu ia merancang kain sarung hitam putih polos. Meski belum memiliki merek, produksinya mendapat sambutan bagus dari pasar.

Beranjak dari itu, Khairul kemudian memberanikan diri untuk menjadikan usaha tersebut menjadi sebuah merek, sehingga bisa dipasarkan dalam jangkauan lebih luas.

“Sehingga di tahun 2015 kita tekatkan untuk kita jadikan sebagai brand profesional, ada prodaknya, ada brandnya, ada HAKI-nya, ada sistem produksinya, dan lain macam-macam,” ucap Khairul.

Ija Kroeng hasil produksi IKM Ija Kroeng milik Khairul Fajri Yahya

Khairul memanfaatkan rumahnya di Jalan Teuku Umar Lorong Mahya No 51 Gampong Setui, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, sebagai lokasi produksi dan penjualan Ija Kroeng.

“Ija Kroeng baru memiliki satu workshop (tempat kerja), di mana di workshop itu ada tempat produksinya, ada tempat jualannya atau mini galerinya lah,” ujar Khairul.

Ija Kroeng, lanjut Khairul, menawarkan beragam jenis produk kepada konsumen, antara lain kain sarung, celana sarung, baju, syal, dan beragam jenis lainnya.

Dari beragram jenis, kata Khairul, kain sarung warna hitam menjadi jenis produk paling diminati konsumen, terutama untuk kalangan anak muda. Kemudian disusul celana sarung, juga cukup diminati kalangan muda di Tanah Rencong.

“Untuk kalangan muda sendiri itu juga lebih diminati celana sarung, karena bisa dipakai sehari-hari dan bisa dipakai untuk aktivitas di luar tempat peribadatan,” tutur Khairul.

Adapun harganya cukup beragam, seperti kain sarung Rp285.000, celana sarung Rp335.000, baju Rp365.000 dan Rp395.000, kain sarung ikat bahan linen Rp420.000 dan ada kain sarung linen motif bordir manual Rp1.730.000.

Ija Kroeng kini sudah menembus pasar dunia, apalagi lokal dan nasional. Di tingkat dunia, Ija Kroeng sudah menyentuh pasar di berbagai negara seperti Denmark, Belanda, Norwegia, Malaysia dan negara-negara lainnya.

“Kalau dari Aceh, peminatnya hampir seluruh kabupaten/kota di Aceh dan hampir seluruh provinsi di Indonesia, dan luar negeri kita pernah kirim ke Denmark, Belanda, Norwegia, dan Malaysia juga,” ucap Khairul.

Pandemi Covid-19 merusak berbagai sektor, salah satunya ekonomi. Pembatasan-pembatasan membuat wisatawan sulit masuk ke Indonesia, terutama Aceh. Hal ini juga memberi pengaruh besar bagi IKM Ija Kroeng.

Hanya saja, Khairul lebih jeli melihat peluang pasar. Saat pandemi melanda, ia langsung banting setir, dari sebelumnya merancang dan memproduksi sarung, kini beralih merancang dan memproduksi masker.

“Dimulainya pandemi, kita mengalami penurunan omzet di 2020, itu di Oktober dan November. Menyikapi penurunan omzet ini, di awal-awal pandemi kita mengalihkan produksi sarung ke produksi masker, dan itu Alhamdulillah diterima bagus oleh pasar,” katanya.

Keunggulan Ija Kroeng

Di usianya yang 12 tahun ini, Ija Kroeng telah mewarnai Aceh, Indonesia dan bahkan dunia dengan produk yang dihasilkan. Dalam perjalannya, Ija Kroeng juga terus berkembang, dengan meningkatkan kreativitasnya agar produk terus diminati pasar.

Khairul berharap, Pemerintah Aceh untuk tetap komitmen dan terus menyokong pelaku UMKM-UMKM di provinsi paling barat Indonesia ini agar tetap eksis di tingkat lokal, nasional hingga ke pasar internasional. 

“Ayo beli dan gunakan produk lokal,” ajak Khairul.

Sebagai brand lokal, Ija Kroeng memiliki sejumlah keunggulan, salah satunya praktis serta bisa dipakai di kegiatan apa saja. Selama ini, kata dia, kain sarung hanya didentik sebagai pakaian untuk beribadah.

Namun, tambah Khairul, semenjak Ija Kroeng hadir, kain sarung yang satu ini cocok untuk setelan pakain di berbagai kegiatan.

“Keunggulan Ija Kroeng, kainnya kita buat sendiri pakai mesin, motif kita kreasi, sehingga bisa untuk kegiatan sehari-sehari, tidak hanya untuk peribadatan,” ujar Khairul.

Ija Kroeng bisa didapatkan di tempat produksi di Jalan Teuku Umar, Lr. Mahya, No. 51 Seutui dan Jalan Panglima Nyak Makam, Lampineung, Banda Aceh.

Selain secara offline, Ija Kroeng juga bisa dipesan melalui WhatsApp dengan nomor kontak 085320910099 atau menghubungi Instagram resmi Ija Kroeng @ijakroeng.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.