POPULARITAS.COM – Kenaikan permukaan laut dan penurunan permukaan tanah membuat sejumlah kota di dunia semakin rentan terhadap banjir.
Ancaman ini terutama dihadapi kota-kota pesisir yang berada di dataran rendah, mulai dari Jakarta di Indonesia hingga Miami di Amerika Serikat (AS). Perubahan iklim yang meningkatkan permukaan laut bukan satu-satunya penyebab.
Pengambilan air tanah secara berlebihan juga dapat membuat daratan turun, sehingga wilayah perkotaan lebih mudah terdampak banjir rob maupun genangan yang berlangsung lama.
World Economic Forum (WEF), dalam laporan yang diterbitkan pada 2019 bersama Business Insider, mencantumkan 11 kota yang menghadapi risiko tenggelam akibat kombinasi kenaikan permukaan laut dan penurunan tanah.
Daftar tersebut mencakup Jakarta, Lagos, Houston, Dhaka, Venesia, Virginia Beach, Bangkok, New Orleans, Rotterdam, Alexandria, dan Miami.
Namun, ancaman tenggelam tidak berarti seluruh kota tersebut pasti hilang pada tahun tertentu. Risiko yang dihadapi setiap wilayah berbeda, bergantung pada kondisi geografis, laju penurunan tanah, kenaikan permukaan laut, dan efektivitas upaya perlindungan yang dilakukan.
Berikut ini 11 kota yang masuk dalam daftar WEF beserta faktor risiko dan upaya penanganan yang telah dikembangkan.
Kota di Dunia yang Terancam Tenggelam
1. Jakarta, Indonesia
Jakarta menjadi salah satu kota yang menghadapi ancaman serius akibat penurunan permukaan tanah. Salah satu penyebabnya adalah pengambilan air tanah secara berlebihan, terutama ketika kebutuhan air tidak dapat sepenuhnya dipenuhi oleh sumber air perpipaan.
Penurunan tanah di Jakarta disebut mencapai 6,7 inci atau sekitar 17 sentimeter per tahun di sejumlah wilayah. Laporan tersebut juga mengutip perkiraan sebagian besar kota berpotensi terendam pada 2050 apabila kondisi yang mendasarinya tidak tertangani.
Angka itu tidak berarti seluruh wilayah Jakarta turun dengan kecepatan yang sama. Laju penurunan tanah berbeda-beda menurut lokasi dan kondisi geologi. Oleh karena itu, angka penurunan di suatu kawasan tidak bisa langsung diterapkan untuk menggambarkan seluruh ibu kota.
Selain penurunan tanah, Jakarta menghadapi risiko banjir akibat hujan, luapan sungai, dan kenaikan air laut di kawasan pesisir. Kombinasi faktor tersebut membuat perlindungan penduduk dan infrastruktur menjadi tantangan jangka panjang.
Pemerintah Indonesia juga telah merencanakan pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan. Meski risiko lingkungan Jakarta menjadi bagian dari pembahasan mengenai masa depan kota tersebut, pemindahan ibu kota merupakan kebijakan dengan berbagai pertimbangan, bukan semata-mata akibat ancaman tenggelam.
Kondisi Jakarta memperlihatkan penanganan risiko di kota pesisir tidak cukup hanya dengan membangun tanggul. Pengelolaan air tanah, penyediaan air bersih, pengendalian banjir, dan perencanaan tata ruang juga menjadi bagian penting dari upaya mengurangi penurunan tanah.
2. Lagos, Nigeria
Lagos, salah satu pusat perkotaan terbesar di Afrika, menghadapi ancaman banjir akibat kondisi garis pantai yang terus terkikis dan kenaikan permukaan laut. Letaknya yang berdekatan dengan laut membuat sejumlah kawasan rentan terhadap perubahan kondisi pesisir.
Studi Universitas Plymouth pada 2012 menyebutkan kenaikan permukaan laut sekitar 3–9 kaki atau 0,9–2,7 meter dapat menimbulkan dampak yang sangat besar terhadap aktivitas manusia di wilayah yang dikaji.
Temuan tersebut menggambarkan risiko yang dapat muncul apabila permukaan laut meningkat secara signifikan. Perkiraan kenaikan permukaan laut global sebesar 6,6 kaki atau sekitar 2 meter pada akhir abad ini.
Angka tersebut merupakan perkiraan yang dikutip dalam laporan tersebut, bukan kepastian permukaan laut akan naik dengan besaran yang sama di seluruh dunia. Bagi Lagos, kenaikan permukaan laut dapat memperburuk banjir pesisir dan mempercepat perubahan garis pantai.
Besarnya dampak akan bergantung pada kondisi setempat, perkembangan wilayah perkotaan, serta kemampuan infrastruktur dalam menghadapi banjir.
3. Houston, Texas, AS
Houston juga menghadapi persoalan penurunan permukaan tanah. Sebagian wilayah kota tersebut mengalami penurunan hingga sekitar 2 inci atau 5 sentimeter per tahun akibat pengambilan air tanah secara berlebihan.
Penurunan tanah dapat meningkatkan kerentanan suatu kawasan terhadap banjir, terutama ketika terjadi hujan ekstrem atau badai. Risiko ini menjadi perhatian di Houston, yang pernah mengalami dampak besar akibat Badai Harvey pada 2017.
Penurunan permukaan tanah bukan satu-satunya penyebab banjir akibat badai. Curah hujan ekstrem, kondisi drainase, dan karakteristik wilayah juga memengaruhi luas serta tingkat keparahan genangan.
Meski demikian, semakin rendah permukaan tanah suatu kawasan, semakin besar tantangan yang dapat muncul ketika banjir melanda. Pengendalian pengambilan air tanah dan perbaikan sistem perlindungan banjir menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko di Houston.
4. Dhaka, Bangladesh
Dhaka, ibu kota Bangladesh, menghadapi risiko banjir yang berkaitan dengan kerentanan wilayah dataran rendah di negara tersebut.
Menurut laporan The New York Times yang dikutip WEF, Bangladesh menghasilkan sekitar 0,3% emisi yang berkontribusi terhadap perubahan iklim. Meski kontribusinya relatif kecil, negara tersebut menghadapi risiko besar akibat kenaikan permukaan laut.
Air laut berpotensi membanjiri sekitar 17% wilayah Bangladesh dan memaksa sekitar 18 juta penduduk meninggalkan tempat tinggal mereka pada 2050.
Angka tersebut merupakan perkiraan untuk Bangladesh secara keseluruhan, bukan khusus untuk Dhaka. Oleh karena itu, angka tersebut perlu dipahami sebagai gambaran potensi dampak di tingkat nasional, bukan proyeksi jumlah penduduk Dhaka yang akan mengungsi.
5. Venesia, Italia
Venesia, kota bersejarah di Italia, menghadapi ancaman banjir akibat kondisi geografisnya yang rentan dan kenaikan permukaan laut. Penurunan permukaan tanah di kota tersebut disebut mencapai sekitar 0,08 inci atau 2 milimeter per tahun.
Untuk mengurangi risiko banjir, Italia mengembangkan sistem penghalang air bernama Mose. Proyek yang mulai dibangun pada 2003 itu terdiri atas 78 pintu penghalang yang ditempatkan di tiga jalur masuk air menuju laguna Venesia.
Mose dirancang untuk mengurangi risiko banjir ketika permukaan air meningkat. Pengalaman Venesia menunjukkan kota bersejarah yang rentan terhadap banjir membutuhkan infrastruktur perlindungan, pemantauan kondisi air, dan pemeliharaan sistem secara berkelanjutan.
6. Virginia Beach, Virginia, AS
Virginia Beach, kota pesisir di pantai timur AS, menghadapi kenaikan permukaan laut yang relatif cepat. Risikonya dipengaruhi oleh naiknya permukaan air sekaligus penurunan daratan, sehingga perubahan ketinggian laut relatif terhadap permukaan tanah dapat terasa lebih besar.
Laporan WEF pada 2019 mengutip perkiraan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) kenaikan permukaan laut di wilayah tersebut dapat mendekati 12 kaki atau sekitar 3,7 meter pada 2100.
Angka tersebut merupakan perkiraan yang dikutip dalam laporan tersebut. Besaran kenaikan yang benar-benar terjadi bergantung pada skenario perubahan iklim, kondisi setempat, serta perubahan permukaan daratan. Oleh karena itu, angka tersebut tidak tepat diperlakukan sebagai kepastian.
7. Bangkok, Thailand
Bangkok, ibu kota Thailand, termasuk kota yang rentan terhadap banjir karena berada di dataran rendah dan mengalami penurunan permukaan tanah. Kondisi tersebut dapat memperbesar dampak genangan, terutama ketika hujan deras terjadi bersamaan dengan tingginya permukaan air.
Menurut laporan The Guardian, penurunan tanah di Bangkok dilaporkan mencapai lebih dari 1 sentimeter per tahun. Laporan itu juga menyebutkan kemungkinan sebagian wilayah kota berada di bawah permukaan laut pada 2030. Perkiraan tersebut tidak berarti seluruh Bangkok akan tenggelam pada tahun itu.
Untuk membantu mengurangi risiko banjir, dibangun Chulalongkorn University Centenary Park, taman seluas sekitar 11 hektare yang dirancang sebagai ruang terbuka hijau sekaligus tempat penampungan air hujan.
8. New Orleans, Louisiana, AS
New Orleans menghadapi risiko banjir karena sebagian wilayahnya berada di bawah permukaan laut dan terletak di kawasan delta Sungai Mississippi. Kondisi geografis tersebut membuat kota ini rentan terhadap banjir ketika terjadi hujan ekstrem, badai, atau kenaikan permukaan air.
Studi NASA yang diterbitkan pada 2016 menemukan New Orleans dan wilayah di sekitarnya mengalami penurunan tanah dengan laju yang berbeda-beda. Pada beberapa lokasi, penurunannya mencapai sekitar 2 inci atau 5 sentimeter per tahun.
Sebagian kawasan New Orleans berpotensi terendam pada 2100. Perkiraan itu perlu dibaca sebagai gambaran risiko jangka panjang, bukan kepastian bah seluruh kota akan tenggelam pada tahun tersebut.
9. Rotterdam, Belanda
Rotterdam, Belanda, merupakan salah satu kota yang memiliki wilayah luas di bawah permukaan laut. Menurut The New York Times, sekitar 90% wilayah Rotterdam berada di bawah permukaan laut. Kondisi tersebut membuat pengelolaan air menjadi bagian penting dari perencanaan kota.
Belanda mengembangkan berbagai strategi untuk mengurangi risiko banjir. Salah satunya adalah room for the river, pendekatan yang memberi ruang lebih besar bagi sungai untuk menampung dan mengalirkan air ketika debit meningkat.
Strategi tersebut dilakukan dengan menata kembali kawasan di sekitar sungai agar aliran air memiliki ruang tambahan. Selain itu, Belanda mengembangkan taman penampung air dan membangun penghalang untuk membantu mengurangi dampak gelombang pasang.
10. Alexandria, Mesir
Alexandria, kota pelabuhan di Mesir yang terletak di pesisir Laut Mediterania, menghadapi ancaman perubahan garis pantai dan kenaikan permukaan laut.
Sejumlah pantainya dilaporkan terus menyusut, sehingga kawasan pesisir menjadi salah satu wilayah yang perlu mendapat perhatian. Permukaan Laut Mediterania dapat meningkat hingga sekitar 2 kaki atau 61 sentimeter pada 2100.
Kenaikan permukaan laut dapat memperluas wilayah yang terdampak genangan dan meningkatkan risiko banjir pesisir. Dampaknya terhadap Alexandria akan bergantung pada kondisi garis pantai, ketinggian daratan, serta kemampuan infrastruktur untuk menghadapi perubahan tersebut.
11. Miami, Florida, AS
Miami menjadi salah satu kota yang kerap dibahas dalam kajian risiko kenaikan permukaan laut. Kota di Florida ini menghadapi ancaman banjir, kerusakan rumah dan jalan, serta kemungkinan masuknya air laut ke sumber air tawar.
Penulis lingkungan Jeff Goodell pernah menyampaikan kepada Business Insider hampir tidak ada skenario yang dapat ia bayangkan untuk membuat Miami tetap ada pada akhir abad ini.
Ia juga menggambarkan Miami sebagai contoh kota besar yang menghadapi masalah serius. Pernyataan tersebut merupakan pandangan Goodell yang dikutip media, bukan kepastian ilmiah Miami akan hilang sepenuhnya pada akhir abad ini.








Leave a comment