Oleh Taufik A Rifai
Penulis adalah seorang wartawan di Banda Aceh
POPULARITAS.COM – Tuk… tuk… tuk…, Bunyi itu terdengar lebih dulu, sebelum sosoknya terlihat. Ketukan palu yang ajek itu memantul pelan di antara rumah-rumah di Simpang Tiga Redelong, Bener Meriah, Rabu siang, 14 Oktober 2026.
Langit di atas dataran tinggi Gayo itu menghitam. Awan kelabu menggumpal rendah, seolah bisa diraih dari bubung rumah. Udara terasa lembap dan dingin di kulit, membawa bau tanah yang bersiap menyambut hujan. Sesekali angin berembus dan menggoyang dedaunan, lalu reda lagi.
Di bubung sebuah rumah warga yang sedang direhab, seorang pria berdiri di antara rangka kayu. Rambutnya panjang dan mulai memutih, jatuh hingga bahu dan lengket oleh keringat. Punggung bajunya basah. Setiap kali palu terangkat, otot lengannya menegang. Setiap kali palu turun, paku amblas lebih dalam ke balok kayu.
Bau kayu yang baru dipotong menguar, bercampur aroma keringat dan udara basah. Dengan jemarinya yang kasar dan kekar, ia menggeser balok yang akan menjadi pondasi teras sedikit demi sedikit hingga lurus. Langit terus menggelap, tetapi ia tetap bekerja tanpa tergesa.

Saat disapa, ketukan itu berhenti. Untuk sejenak, yang terdengar hanya desau angin. Ia menyeka dahi dengan punggung tangan, menyibak rambut yang menempel di wajah, lalu menoleh ke bawah. Senyumnya ramah dan bersahaja.
“Maaf, Bang, saya masih kerja bantu rehab rumah orang. Kita ngobrol sebentar lagi. Gak lama lagi,” ucapnya santai, lalu kembali mengayunkan palu.
Dialah Teungku Junaidi, pria yang kini bekerja serabutan untuk menyambung hidup. Namun di belantara Aceh pada masa konflik, ia dikenal dengan nama lain yang pernah begitu disegani: Pang Genancing.
Tangan yang kini menggenggam palu itu dulu menggenggam senjata. Tangan itu pernah memimpin pasukan gerilya. Tangan itu pula yang pernah dipercaya menjaga nyawa orang paling penting di tubuh Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Benteng Hidup Sang Panglima
Pada masa perang, para pimpinan GAM hidup berpindah-pindah, menembus hutan demi hutan untuk menghindari kejaran pasukan TNI. Suatu ketika, Muzakir Manaf, yang akrab disapa Mualem, memilih kaki Gunung Burni Telong di Aceh Tengah untuk menyusun strategi perlawanan.
Di kaki gunung itu, kabut turun cepat dan dingin menusuk hingga ke tulang. Di sana Mualem menyerahkan pengawalan dirinya kepada pasukan elit GAM Wilayah Linge. Pasukan itu dipimpin Pang Genancing. Saat yang lain beristirahat, dialah yang berjaga di barisan terdepan barikade di sekeliling sang panglima.
Fauzan Azima, mantan Panglima GAM Wilayah Linge, masih mengingat sosoknya dengan jelas. Menurut dia, Pang Genancing bukan kombatan biasa. Ia komandan pasukan elit GAM Wilayah Linge/Gayo Lues yang gagah berani, taktis, dan memiliki ketahanan fisik luar biasa.
Menggali Kubur Untuk Sahabat dengan Tangan Sendiri
Ketangguhan itu diuji pada medio November 2004, menjelang akhir konflik. Pang Genancing memimpin pasukan gabungan menembus batas wilayah hingga Tanah Karo. Mereka bergerak dari kawasan Bukit Lawang, Bahorok, Sumatra Utara. Mereka menyusuri lereng terjal dan rimbun belukar yang asing, sementara aparat keamanan mengepung dari segala arah.
Di lembah Mardinding, rentetan tembakan tiba-tiba memecah sunyi. Pang Gegur, sahabat sekaligus anggota Pang Genancing yang paling setia, roboh dan gugur.
Tak ada cangkul di tengah belantara itu. Duka menghimpit dada Pang Genancing, sementara musuh belum berhenti memburu. Ia berlutut, lalu mengorek tanah hutan dengan jemarinya sendiri. Dengan tangan itu pula ia membaringkan sahabatnya untuk terakhir kali.
Suara di Tengah Rimba
Di balik tangan yang keras, Pang Genancing memiliki sesuatu yang jarang dimiliki seorang komandan perang, yaitu suara yang sangat merdu.
Di rimba Samarkilang yang lebat dan di kaki Burni Telong yang dingin, malam datang pekat tanpa cahaya. Perut para gerilyawan sering kosong, tenggorokan mereka kering, dan rasa cemas tak pernah benar-benar pergi.
Lalu, saat subuh menyingsing, suara Pang Genancing mengalun. Azannya merambat di antara batang-batang pohon dan menembus kabut. Dialah yang mengimami salat berjamaah. Dialah yang melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dan menyanyikan bait-bait lagu perjuangan Gayo dengan lirih. Bagi para gerilyawan yang hidup di ambang kematian, suara itu adalah penawar jiwa.
Ia juga dikenal sebagai penyelamat. Suatu kali, rombongan pasukan GAM Gayo Lues keracunan asap pembakaran kayu medang gatal. Asap itu menyesakkan dada, hingga mereka berhalusinasi dan sekarat di tengah hutan. Pang Genancing bersama 12 anggotanya menembus bahaya, membawa obat-obatan dan vitamin penambah darah untuk menyelamatkan kawan-kawannya.
Memilih Jalan Sunyi
Kini, 21 tahun sudah Aceh damai sejak MoU Helsinki diteken di Finlandia. Bunyi senjata telah lama berganti dengan kokok ayam dan riuh pasar. Banyak rekan seperjuangan Pang Genancing menjadi politisi, pengusaha, bupati, atau pengurus KPA/PA. Mualem, yang dulu ia kawal sepenuh hati, kini menjabat Gubernur Aceh.
Pang Genancing memilih jalan lain. Dengan sadar, ia menepi. Jabatan, kekuasaan, dan fasilitas politik tak menarik hatinya. Ia kembali menjadi rakyat biasa, yang berkebun, menjual kopi, atau bekerja sebagai buruh bangunan.
“Kadang-kadang apa aja. Jadi buruh bangunan dan berkebun. Kerja apa saja asalkan halal dan tenang,” tuturnya, lirih namun tegas.

Ia menolak meminta-minta atau berharap iba dari pemerintah, padahal hubungannya dengan Mualem tak pernah putus. Sesekali, saat ke Banda Aceh, ia memang menemui sang mantan panglima. Namun ia datang tanpa proposal dan tanpa meminta proyek. Ia hanya bersilaturahmi.
“Saya hanya mendoakan semoga beliau selalu dalam keadaan sehat walafiat dan mampu menjalankan amanah sebagai orang nomor satu di Aceh,” ucapnya tulus.
Pria ini pernah mempertaruhkan nyawa untuk sang panglima. Kini ia tak menagih jasa, dan yang ia bawa hanya doa.
Damai ala Pang Genancing
Bagi Pang Genancing, perdamaian tak dirayakan dengan memburu jabatan atau menagih jasa masa lalu. Damai baginya adalah jiwa yang tenang, keringat yang halal, dan pengabdian kepada sesama, meski hanya lewat sebatang balok kayu dan beberapa biji paku.
Di medan perang, ia gagah berani membela keyakinannya. Di masa damai, ia tahu diri dan rendah hati.
Angin dingin kembali berembus di Simpang Tiga Redelong, membawa bau hujan yang kian dekat. Pang Genancing meraih palunya lagi. Tuk… tuk… tuk… Ketukannya kembali beradu dengan desir angin Bener Meriah.
Tak lama kemudian, ia meletakkan palu dan turun dari bubung. Ia mengibaskan serbuk kayu dari pakaiannya. “Udah mau Ashar. Izin, Bang, saya mau pulang dan mandi dulu, bersiap ke masjid,” ucapnya menutup obrolan.









Leave a comment