Home Ekonomi Krisis Ekonomi Iran Memburuk: Serangan AS-Israel Lumpuhkan Industri dan Picu PHK Massal
EkonomiInternasional

Krisis Ekonomi Iran Memburuk: Serangan AS-Israel Lumpuhkan Industri dan Picu PHK Massal

Share
Krisis Ekonomi Iran: Industri Lumpuh Akibat Serangan AS-Israel
Gambar : Ilustrasi (AI)
Share

POPULARITAS.COM — Serangan udara AS dan Israel selama lebih dari lima minggu telah melumpuhkan ribuan fasilitas industri Iran, memicu krisis ekonomi Iran yang parah dengan ratusan ribu PHK langsung dan ancaman bagi 10-12 juta pekerja.

Ekonom Iran Hadi Kahalzadeh memperingatkan, sekitar 20.000 pabrik atau 20% unit produksi nasional rusak, termasuk sektor sipil seperti farmasi. Perusahaan Tofigh Daru, produsen obat antikanker terbesar, terganggu operasinya. Pabrik aluminium, semen, dan pengembang optik juga terdampak.

Sektor baja dan petrokimia paling parah. Dua raksasa baja, Mobarakeh Steel dan Khuzestan Steel, hentikan produksi. Lebih dari 50 kompleks petrokimia tutup, lumpuhkan ekspor nonmigas utama dan industri turunan seperti plastik serta tekstil.

Wakil Menteri Tenaga Kerja Iran, Gholamhossein Mohammadi, ungkap setidaknya 1 juta pekerjaan hilang langsung akibat perang. Dampak tidak langsung jauh lebih luas, hampir setengah angkatan kerja berisiko.

Harga kebutuhan pokok melonjak dalam sebulan terakhir. Ayam naik 75%, daging sapi dan domba 68%, serta produk susu 50%. Perusahaan susu kesulitan kemasan, sementara blokade pelabuhan AS hambat impor-ekspor, termasuk minyak senilai US$98 miliar pada 2025—hampir separuh pendapatan negara.

Di Kashan, pusat karpet Iran, 80% produsen tutup. Putra pemilik pabrik karpet bilang, “Saya belum pernah mendengar ayah saya begitu sedih.” Ekspor anjlok, permintaan domestik lenyap, bahan baku seperti serat sintetis naik 50%.

Baca Juga: Perundingan AS-Iran di Islamabad Batal, Trump Tarik Utusan

Sektor konstruksi goyah. Mehdi Bostanchi, pemilik pabrik ventilasi, sebut proyek ditunda dan harga besi dua kali lipat. Seorang insinyur kimia di perusahaan besar ungkap pemangkasan 90 karyawan dari 180 di kantor pusat, plus 1.000 pekerja hilang di satu proyek.

“Saya termasuk dalam 1% teratas (masyarakat), dan saya tidak memiliki pekerjaan. Saya sangat khawatir tentang masa depan saya,” ujar warga Teheran.

Gangguan lain datang dari pembatasan internet sejak protes, hantam bisnis online. Serangan Iran ke UEA, mitra dagang utama, tekan perdagangan lebih lanjut. Situasi ini picu potensi protes baru, meski pemerintah tekan demonstrasi sebelumnya.

Iran pegang kartu strategis: Selat Hormuz, rute energi dunia. Pemerintah Teheran ancam tutup jalur kecuali blokade dicabut dan konflik usai. Mereka yakin ketahanan ekonomi, terbiasa sanksi, lebih kuat dari tekanan AS di bawah Donald Trump.

Pemerintah tingkatkan asuransi pengangguran, tapi jaminan sosial tertekan karena andalkan industri. Cadangan strategis ada: mesin listrik 8 bulan, semen 6 bulan, baja 4 bulan. Perdagangan nonmigas 50% masih lewat darat atau Laut Kaspia.

Bostanchi tegas, “Jika kita tidak dapat mencabut sanksi dalam perjanjian apa pun, tidak, perkiraan optimis, tidak akan terjadi.” Pemulihan bergantung geopolitik global. (hsn)

Sumber: beritasatu.com

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
EkonomiNews

BPS Ingatkan Petugas untuk Tingkatkan Pemahaman Responden agar Data Akurat

POPULARITAS.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mengingatkan seluruh petugas Sensus...

EkonomiNews

Apa Itu BBM B50? Biodiesel Baru yang Bakal Meluncur 1 Juli 2026

POPULARITAS.COM – Pilihan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia bakal bertambah mulai...

EkonomiNews

Impor Capai 90 Persen, Prabowo Perintahkan Swasembada Bawang Putih

POPULARITAS.COM – Pemerintah mulai menyiapkan langkah besar untuk mencapai swasembada bawang putih,...

EkonomiNews

Menteri ESDM Setujui POD I Tangkulo, Proyek Gas Raksasa South Andaman Mulai Dikembangkan

POPULARITAS.COM – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyetujui...