POPULARITAS.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat Provinsi Aceh mengalami inflasi sebesar 5,38 persen pada Juli 2026 jika dihitung secara tahunan (year-on-year/y-on-y).
Angka tersebut menunjukkan harga barang dan jasa secara umum meningkat rata-rata 5,38 persen dibandingkan Juli 2025.
Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Aceh Tengah sebesar 6,91 persen, sedangkan yang terendah terjadi di Meulaboh sebesar 3,50 persen.
Kepala BPS Provinsi Aceh, Agus Andria mengatakan berdasarkan data inflasi menurut kelompok pengeluaran, dapat dilihat bahwa kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil inflasi tahunan tertinggi, sebesar 2,44 persen.
“Pada Juli 2026, inflasi tahunan terutama didorong oleh nasi dengan lauk 0,54 persen, emas perhiasan 0,43 persen, beras 0,38 persen, cabai 0,33 persen, dan bensin 0,30 persen,” ucap Agus, Senin (3/8/2026).
Pihaknya juga mencatat lima daerah penghitungan inflasi di Aceh, yakni Kota Banda Aceh, Kota Lhokseumawe, Meulaboh, Kabupaten Aceh Tengah, dan Kabupaten Aceh Tamiang. Seluruh wilayah tersebut mengalami inflasi secara tahunan pada Juli 2026.
Sementara itu, pada Juli 2026, BPS juga mencatat bahwa Provinsi Aceh mengalami inflasi atau kenaikan harga secara month-to-month (m-to-m) sebesar 0,24 persen, dibandingkan dengan Juni 2026.
“Kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan terbesar adalah makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 0,20 persen dan memberikan andil sebesar 0,07 persen terhadap inflasi,” ucapnya.
Ia menyebutkan terdapat beberapa komoditas yang memengaruhi inflasi bulanan yaitu, beras 0,18 persen, bensin 0,09 persen, cabai rawit 0,07 persen, tomat 0,05 persen, dan semen 0,04 persen.
Selanjutnya, secara m-to-m, daerah yang mengalami inflasi adalah Aceh Tengah, Meulaboh, Aceh Tamiang, dan Lhokseumawe. Inflasi bulanan tertinggi berada di Aceh Tamiang yaitu 0,71 persen. Sementara deflasi terjadi di Banda Aceh sebesar 0,03 persen.








Leave a comment