POPULARITAS.COM – Usia Nathan Thomas baru 18 tahun ketika ia berdiri di depan kelas dan mengajarkan pemrograman kepada mahasiswa yang sebagian besar hampir seusia dengannya.
Pada Agustus 2023, Nathan mulai mengajar mata kuliah COP 2270: C untuk Insinyur di Miami Dade College, Amerika Serikat. Meski masih tergolong remaja, Nathan telah memiliki kemampuan akademik dan kualifikasi yang dibutuhkan untuk membimbing mahasiswa memahami materi komputasi serta pemrograman yang kompleks.
Pencapaian tersebut membuat Nathan dinobatkan sebagai profesor laki-laki termuda dalam sejarah.
Ia resmi mulai mengajar pada usia 18 tahun 346 hari, lebih muda dibandingkan pemegang rekor sebelumnya, Colin Maclaurin, yang menjadi profesor termuda pada usia 19 tahun yang dulu diraih pada tahun 1717.
Rekor Maclaurin, matematikawan asal Skotlandia yang hidup pada tahun 1698-1746, bertahan selama lebih dari tiga abad atau sekitar 306 tahun.
Nathan juga tercatat 16 hari lebih muda dibandingkan Alia Sabur saat perempuan asal Amerika Serikat itu menjadi profesor termuda di dunia pada 2008. Sabur memperoleh gelar tersebut ketika berusia 18 tahun 362 hari, sebagaimana diberitakan laman Guinness World Records, Kamis (23/7/2026).
Kuliah sejak usia 10 tahun
Perjalanan pendidikan Nathan dimulai jauh lebih awal dibandingkan anak-anak seusianya. Ia mengikuti program pendidikan ganda di Miami Dade College ketika baru berusia 10 tahun. Empat tahun kemudian, Nathan melanjutkan pendidikannya ke Florida International University.
Pada usia 18 tahun, ia telah menyelesaikan gelar sarjana dan magister di bidang teknik elektro. Kedua gelar tersebut diraihnya dengan predikat kehormatan.
Saat sebagian besar remaja seusianya baru mulai mempersiapkan pendidikan tinggi atau meninggalkan rumah untuk kuliah, Nathan justru telah memulai karier sebagai pengajar. Perbedaan usia yang tipis antara dirinya dan mahasiswa tidak menjadi persoalan ketika proses pembelajaran berlangsung.
“Begitu Anda berada di lingkungan itu, semua orang ada di sana untuk alasan yang sama, yaitu untuk belajar. Usia sebenarnya tidak menjadi faktor dalam hal itu,” kata Nathan kepada Guinness World Records, mengutip Kompas.com.
Nathan mengatakan, perhatian utamanya adalah menjalankan tugas dengan baik dan membantu para mahasiswa memahami materi.
“Saya hanya fokus untuk mencoba melakukan pekerjaan saya dengan baik dan membantu mahasiswa dengan cara apa pun yang saya bisa. Jika seseorang bersedia berusaha, itu saja yang benar-benar penting bagi saya,” ujarnya.
Ketertarikan Nathan terhadap bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika atau STEM telah tumbuh sejak kecil. Matematika menjadi salah satu pelajaran yang paling mudah dipahaminya.
Kedua orangtuanya bekerja sebagai insinyur sehingga Nathan terbiasa melihat cara berpikir yang terstruktur dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengaku baru menyadari besarnya pengaruh lingkungan keluarga terhadap perkembangan akademiknya setelah beranjak dewasa.
Nathan menyebut ibunya mampu menjelaskan persoalan rumit menjadi lebih sederhana. “Ibu saya memiliki cara untuk membuat sesuatu terasa sederhana bahkan ketika sebenarnya tidak, dan saya pikir sebagian dari itu melekat pada saya lebih dari yang saya sadari saat itu,” tuturnya.
Kemampuan tersebut kemudian diterapkan Nathan saat mengajar. Baginya, salah satu hal paling menyenangkan adalah menyaksikan mahasiswa akhirnya memahami materi yang sebelumnya terasa sulit.
“Sekarang, bagian yang paling saya sukai dari mengajar adalah melihat sesuatu dipahami oleh seorang siswa. Anda dapat melihatnya terjadi secara langsung, ketika sebuah konsep yang terasa mustahil beberapa menit yang lalu tiba-tiba masuk akal,” katanya.
Nathan juga menilai kegiatan mengajar membuat dirinya semakin memahami materi. Menurut dia, seorang pengajar harus mempelajari suatu konsep secara lebih mendalam agar dapat menjelaskannya kepada orang lain.
Menekuni sekolah hukum
Setelah menyelesaikan pendidikan teknik elektro, Nathan kembali melanjutkan studi. Ia kini menempuh pendidikan doktor hukum di Fakultas Hukum University of Miami dan ditargetkan lulus pada 2028. Nathan tetap mengajar mata kuliah secara daring sambil menyelesaikan pendidikan hukumnya. Ia berencana bekerja dalam bidang hukum kekayaan intelektual dengan fokus pada persoalan yang berkaitan dengan STEM.
Menurut Nathan, latar belakang teknik membantunya menghadapi persoalan hukum secara sistematis.
“Teknik mengajarkan saya bagaimana memecah masalah kompleks secara terstruktur, dan itu telah terbawa ke cara saya mendekati sekolah hukum sekarang,” ujarnya.
Di luar kegiatan akademik, Nathan menjalani kehidupan seperti anak muda lainnya. Ia gemar bermain bola basket, tenis, dan golf serta mendukung klub Boston Celtics dan New England Patriots.
Nathan juga memainkan piano klasik dan kerap mendengarkan musik Drake serta musik elektronik untuk bersantai.
“Jalan setiap orang terlihat berbeda, meskipun tujuannya tampak serupa dari luar,” katanya.
Ia meyakini hasil akan datang apabila seseorang menemukan cara belajar yang sesuai, terus berusaha, dan bekerja keras secara konsisten.









Leave a comment