Home Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Memek, kuliner khas Bumi Ate Fulawan
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehWisata

Memek, kuliner khas Bumi Ate Fulawan

Share
TEKS FOTO: ‘Memek’ kuliner Tradisional khas Kabupaten Kepulauan Simeulue, Aceh. FOTO : popularitas.com/Fahzi
Share

POPULARITAS.COM – Pulau Simeulue, salah satu di Kabupaten di pesisir barat Aceh tidak hanya dikenal dengan keindahan pantai, laut biru, dan ombak yang menjadi daya tarik wisatawan. Kabupaten kepulauan ini juga menyimpan kekayaan kuliner tradisional yang diwariskan secara turun-temurun, salah satunya memek.

Nama makanan ini mungkin terdengar unik bagi masyarakat di luar Simeulue. Namun, bagi masyarakat setempat, memek-red merupakan bagian dari identitas budaya sekaligus warisan kuliner leluhur yang masih dipertahankan hingga sekarang.

Sekilas, memek menyerupai bubur dengan tekstur perpaduan lembut dan kasar. Cita rasanya didominasi perpaduan manis pisang, gurih santan, serta aroma khas beras ketan yang disangrai sebelum diolah.

TEKS FOTO: ‘Memek’ kuliner Tradisional khas Kabupaten Kepulauan Simeulue, Aceh. FOTO : popularitas.com/Fahzi

Bahan-bahannya relatif sederhana, yakni beras ketan, pisang, santan kelapa, gula, dan sedikit garam. Meski demikian, proses pengolahan serta perpaduan bahan tersebut menghasilkan cita rasa yang khas dan berbeda dari makanan tradisional lainnya di Aceh.

Keistimewaan memek bukan hanya terletak pada rasanya, melainkan juga pada cerita panjang yang menyertainya. Kuliner ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Simeulue selama beberapa generasi.

Berawal dari Tradisi Masyarakat Simeulue

Dalam bahasa masyarakat setempat, kata memek berkaitan dengan aktivitas mengunyah. Istilah tersebut sering dihubungkan dengan kebiasaan masyarakat zaman dahulu yang mengunyah beras ketan bersama pisang.

Seiring berjalannya waktu, kebiasaan tersebut berkembang menjadi makanan tradisional yang dikenal dengan nama memek.

Sejarah awal kemunculan makanan ini tidak diketahui secara pasti karena pengetahuan tentang pembuatannya diwariskan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pada masa lalu, memek juga dikenal sebagai bekal masyarakat ketika melakukan perjalanan. Bahan-bahannya mudah ditemukan dan proses pembuatannya dapat dilakukan dengan peralatan sederhana.

Dalam perkembangannya, memek tidak hanya dikonsumsi untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menjadi sajian yang memperkenalkan identitas kuliner Simeulue kepada masyarakat dari luar daerah.

Makanan ini bahkan kerap diperkenalkan dalam kegiatan kebudayaan dan pameran kuliner sebagai salah satu kekayaan tradisi masyarakat kepulauan di Aceh.

Pada 2019, memek ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Pengakuan tersebut menjadi salah satu bentuk apresiasi terhadap pengetahuan tradisional dan keterampilan masyarakat dalam mempertahankan kuliner khas daerah.

Warisan budaya juga hidup dalam kebiasaan masyarakat, termasuk cara mengolah makanan dan meneruskan pengetahuan dari orang tua kepada anak-anak mereka.

Memek menjadi salah satu contoh bagaimana bahan pangan sederhana dapat menyimpan cerita mengenai kehidupan masyarakat Simeulue pada masa lalu.

Aceng, warga asli Simeulue, mengatakan kuliner memek merupakan salah satu makanan tradisional yang memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan masyarakat setempat. Makanan berbahan dasar beras ketan atau beras yang disangrai, pisang, santan, dan gula ini tidak hanya dikenal karena rasanya, tetapi juga menjadi bagian dari kekayaan kuliner yang diwariskan secara turun-temurun.

“Memek ini sudah lama dikenal masyarakat Simeulue. Bagi kami, makanan ini bukan sekadar kuliner, tetapi juga bagian dari tradisi dan identitas daerah yang harus terus dijaga. Saya berharap generasi muda tetap mengenal dan melestarikannya agar makanan khas ini tidak hilang ditelan zaman,” ujar Aceng.

TEKS FOTO: ‘Memek’ kuliner Tradisional khas Kabupaten Kepulauan Simeulue, Aceh. FOTO : popularitas.com/Fahzi

Sementara itu, Fajri, warga Banda Aceh, mengaku baru pertama kali mencicipi kuliner memek khas Simeulue. Ia tertarik mencoba makanan tersebut karena penasaran dengan nama dan keunikan kuliner tradisional yang menjadi salah satu ciri khas daerah kepulauan itu.

“Awalnya saya penasaran karena namanya cukup unik. Setelah mencicipinya, ternyata rasanya menarik, dengan perpaduan pisang, beras, dan rasa manis yang khas. Ini menjadi pengalaman baru bagi saya untuk mengenal kuliner tradisional Aceh yang belum pernah saya coba,” kata Fajri.

Ia menilai, kuliner tradisional seperti memek perlu lebih banyak diperkenalkan kepada masyarakat di luar Simeulue. Promosi melalui media sosial, kegiatan pariwisata, maupun festival kuliner dinilai dapat membantu meningkatkan popularitas makanan tersebut.

“Menurut saya, makanan khas seperti ini perlu terus dipromosikan agar semakin banyak orang mengenalnya. Kalau berkunjung ke suatu daerah, mencicipi makanan tradisional juga menjadi cara untuk mengenal budaya dan kebiasaan masyarakat setempat,” katanya.

Beras Ketan Sangrai dan Pisang Menjadi Rahasia Cita Rasa

Proses pembuatan memek menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Beras ketan putih terlebih dahulu disangrai atau digongseng hingga berubah warna menjadi kekuningan dan mengeluarkan aroma khas.

Sementara itu, pisang ditumbuk hingga lumat, tetapi biasanya tidak dibuat terlalu halus agar teksturnya tetap terasa ketika disantap.

Pisang yang telah diolah kemudian dicampur dengan beras ketan sangrai, santan kelapa, gula, dan sedikit garam. Seluruh bahan diaduk hingga menyatu dan menghasilkan adonan dengan tekstur khas.

Perpaduan bahan tersebut menciptakan rasa manis dan gurih yang seimbang. Aroma beras ketan sangrai memberikan karakter tersendiri, sedangkan pisang menghadirkan rasa manis alami.

Berbeda dengan bubur pada umumnya yang cenderung lembut dan halus, memek memiliki tekstur yang lebih beragam. Sensasi beras ketan dan pisang tetap terasa ketika dikunyah.

Kesederhanaan bahan justru menjadi kekuatan kuliner ini. Masyarakat Simeulue mampu mengolah bahan pangan yang mudah ditemukan menjadi sajian yang memiliki nilai budaya dan daya tarik tersendiri.

Pada saat yang sama, promosi wisata perlu mengangkat memek secara lebih utuh, bukan hanya menonjolkan keunikan namanya. Cerita sejarah, bahan tradisional, proses pembuatan, dan nilai kebudayaan merupakan bagian penting yang membuat kuliner ini layak dikenal lebih luas.

Pada akhirnya, semangkuk memek bukan sekadar sajian tradisional dengan rasa manis dan gurih. Di dalamnya tersimpan jejak kebiasaan masyarakat, pengetahuan turun-temurun, dan identitas budaya Simeulue.

Menjaga keberadaan memek berarti turut merawat warisan leluhur Aceh agar tetap hidup, dikenal, dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang. []

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehWisata

Gunung Rotan, ‘hidden gem’ di Aceh Selatan

POPULARITAS.COM – Pemandian Alam Gunung Rotan, Surga Tersembunyi yang Menyegarkan di Aceh...

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehFeatureWisata

Naga Umbang dan panorama hijau Teupik Balok di Aceh Besar

POPULARITAS.COM – Di tengah beragam pilihan wisata alam di Kabupaten Aceh Besar,...

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehFeatureHeadline

Anoi Itam, jejak sejarah perang dunia ke-2 di Sabang

POPULARITAS.COM – Angin laut berembus dari arah Selat Malaka, menyapu pepohonan dan...

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehFeature

Menikmati keindahan bebatuan putih dan musik alam di Krueng Baru Aceh Selatan

POPULARITAS.COM – Gemericik air yang beradu dengan bebatuan, semilir angin yang menyapa,...

Exit mobile version