POPULARITAS.COM – Kaha nyaris tidak lagi diketahui. Bahkan banyak generasi muda di Banda Aceh yang tidak tahu bila di jalanan yang kini mereka tapaki, dulunya hilir-mudik kaha yang mengangkut penumpang dari satu tempat ke tempat lain di dalam Kota Bandar Aceh Darussalam.
Anak-anak, remaja, dan pemuda yang hadir ke arena Pekan kebudayaan Aceh (PKA) ke-8, terheran tatkala melihat kuda-kuda yang yang didatangkan dari Tanoh Gayo. Mereka mengira kuda bukanlah hewan sekaligus kendaraan di pesisir Aceh.
Di Kota Banda Aceh, kaha alias kereta kuda masih difungsikan sampai akhir tahun 1960. Armada kaha akhirnya hilang dari gelanggang ketika muncul kenderaan murah lainnya yaitu becha atau becak mesin.
Soal becak mesin di Aceh rada unik. Bila di Banda Aceh dari awal telah ada becak mesin, di Bireuen tidak demikian. Becak yang awal mendominasi kota yaitu becak dayung. Baru era akhir 1990-an perlahan-lahan berganti menjadi becak mesin. Sedangkan di Lhokseumawe yang merupakan ibukota termaju di Aceh saat itu, ada becak bermesin DKW made in Jerman.
Kembali ke kereta kuda alias sado, kini, warga Banda Aceh tak pernah bisa lagi melihat jenis hewan kuda yang menarik sado yang dulu cukup banyak berseliweran.
Sekitar tahun 1920-an, warga Kota Banda Aceh lebih banyak jalan kaki atau naik sado. Hanya orang-orang tertentu yang mampu beli kereta angin atau sepeda.
Semenjak tahun 1950 sampai 1960 di jalan-jalan di Kutaraja berseliweran sepeda dan satu-satu mobil pribadi, semirip suasana lalu lintas di kota-kota negara Cina dan Vietnam yang didominasi oleh yang didominasi oleh sepeda.
Pada masa-masa tersebut terlihatlah status keberadaan seseorang dinilai dari merek sepedanya. Yang paling banyak bermerek Valuas dan Seko.
Dikutip dari Buku Aceh Sepanjang Abad yang ditulis H. Muhammad Said, semenjak masa perang Aceh dahulu kereta yang ditarik oleh kuda ini telah ada.
Konon Teuku Umar keluar masuk kota untuk mengunjungi isterinya yang lain dan beberapa kenalannya orang Cina di Peunayong mempergunakan kaha.
Karena serdadu Belanda diajarkan tatakrama untuk tidak menyinggung hati orang Aceh terutama jangan mengganggu kaum wanita,
Maka Teuku Umar yang jadi buron Belanda itu sering menyamar memakai busana wanita dan menumpang kaha tatkala masuk dan keluar dari kota.
Di setiap pos penjagaan dia bisa lolos, karena para serdadu begitu melihat ada penumpang wanita, mereka cukup hormat dan tidak banyak melakukan pemeriksaan.
Halte sado sampai Indonesia merdeka berlokasi antara lain di mulut Jalan Perdagangan di sisi Masjid Raya Baiturrahman, di Jalan Merduati, di Stasiun Kereta Api (sekarang sudah jadi halaman Masjid Raya Baiturrahman) dan di dekat Rumah Sakit Kuta Alam.
Kaha, yang entah darimana muncul istilah ini, telah menjadi kenangan, bagi orang-orang tua atau manula (mungkin saja masih ada saksi hidup) bagaimana transportasi sederhana, murah dan pasti menyenangkan pernah menjadi milik kota “Aceh Bandar Darussalam” ini.
Catatan: referensi utama artikel ini dari Hasyim KS dan H. Muhammad Said.









Leave a comment