Home Feature Mukhtar dan kursi roda kala banjir bandang melanda di Pidie Jaya
FeatureHeadline

Mukhtar dan kursi roda kala banjir bandang melanda di Pidie Jaya

Share
Muktar (45), warga Gampong Meunasah Lhok, duduk diatas kursi rodanya di Posko Pengungsian, Selasa 6 Januari 2026. FOTO : popularitas.com/Nurzahri
Share

POPULARITAS.COM – Pidie Jaya, satu dari 18 kabupaten dan kota di Aceh yang terdampak langsung bencana banjir bandang dan tanah longsor. Saat air bah menghumbalang kabupaten itu, Mukhtar (45), saksi hidup yang melihat secara nyata kala luapan gemuruh air, lumpur dan gelondongan kayu menyapu habis apapun.

Selasa 25 November 2025 malam hari, kata Mukhtar mengawali kisahnya. Dari atas kursi rodanya, Ia melihat air mulai meluap dan masuk ke rumah-rumah warga.

Saat itu, ia tengah berbaring diatas kasur di rumahnya. Mukhtar tinggal di Gampong Meunasah Lhok, Meureudu, Pidie Jaya. 

Dirinya yang tak bisa bergerak sebab lumpuh, saat itu menyaksikan detik demi detik air mulai memenuhi kamar tidurnya. Selang beberapa saat kemudian, ketinggian air telah menenggelamkan tempatnya berbaring.

Ya, situasi itu tak membuatnya pasrah. Ia mengaku, meski kondisi tubuhnya terbatas akibat kelumpuhan, dirinya tak menyerah. “Saya lumpuh akibat kecelakaan motor 13 tahun lalu,” kata Mukhtar mengawali kisahnya kepada popularitas.com, Selasa 6 Januari 2026.

Saat berbincang dengan popularitas.com, Mukhtar duduk dengan santai diatas kursi rodanya. Lelaki itu mengenakan kaos putih. Sorot matanya tajam dan bicaranya tenang dan kalimat yang disampaikannya mengalir.

Sembari membenarkan posisi duduknya, Mukhtar melanjutkan ceritanya. Saat itu, banjir sudah masuk ke rumah. Meski kondisi tubuhnya yang terbatas, namun dirinya tetap berupaya ingin selamat. Saat itu, air makin deras dan terus meninggi. 

Dalam situasi yang pelik, adiknya Muksalmina (35) pun datang melihatnya. Dengan sigap, keduanya pun berhasil menyelamatkan diri dengan dua lembar papan. “Tubuh saya dibaringkan diatas papan oleh adik saya. Lalu kami berenang menyelamatkan diri,” imbuhnya.

Saat itu, sambungnya lagi, ketinggian air telah mencapai 1,5 meter. Namun, ia bersama adik dan kakaknya terus berenang  menyelamatkan diri. Sementara, seluruh perkampungan telah rata dengan genangan air. “Kira-kira saat kami berenang itu, ketinggian banjir sudah capai 1,5 meter,” ucapnya.

Posko Pengungsian Warga Gampong Meunasah Lhok, Meureudu, Pidie Jaya. FOTO : popularitas.com/Nurzahri

Malam terus bergerak, bahkan hingga jelang subuh. Lantunan ayat alquran yang biasa nyaring dari pengeras suara masjid, waktu itu tidak terdengar. Yang ada hanya gemuruh air dan suara orang-orang yang saling menyelamatkan diri.

Ia mencoba melirik jam tangannya yang berembun. Samar-samar, jarum jam menujuk pukul 04.20 WIB. Namun, luapan air tak berhenti dan justru kian tinggi. “Saat itu, yang ada dalam pikiran hanya menyelamatkan diri dan minta bantuan,” ujarnya lagi.

Sebagai korban banjir, Mukhtar kini tinggal di Posko Pengungsian Gampong Meunasah Lhok. Bangunan berlantai dua dan belum rampung. Toko itu milik Haji Wan itu, kini dijadikan tempat penampungan sementara oleh warga.

Dalam situasi kegentingan, ia pun mencoba menghubungi para pihak, saudara-saudara, para pejabat dan nomor siapa saja yang tersimpan dalam memori hapenya, sambung Mukhtar melanjutkan kisahnya.

Meski hapenya tak ada pulsa, Mukhtar berharap ada keajaiban yang bisa membuatnya terhubung dengan orang-orang yang bisa memberikan bantuan dan pertolongan. “Saya sadar ponsel tak ada pulsa, tapi berharap ada keajaiban,” sebutnya.

Tak terbilang beberapa kali ia mencoba peruntungan lewat hape yang digengamnya itu. Nyaris tidak ada terhubung. Bahkan, kenalannya di badan penanggulangan bencana pun tak luput ia telpon. “Saat itu, jika ada keajaiban bisa terhubung, rasanya hanya ingin minta dikirimkan perahu karet atau evakuasi,” ungkapnya.

Butuh Kursi Roda

Mukhtar mengaku, meski tinggal di pengungsian, dirinya tetap bersyukur. Sebab, Allah SWT masih memberinya kesempatan hidup dan beramal. Kini, pascabencana, harapan yang ia miliki hanya kursi roda baru. “Saya butuh kursi roda, yang ini sudah rusak,” katanya.

Karna itu, dirinya berharap ada pihak-pihak yang bisa membantunya mendapatkan kursi roda, untuk menopang kehidupannya yang serba dalam keterbatasan.

Ia pun berharap, daerah-daerah yang dilanda banjir bandang bisa cepat pulih, terutama kampung tempatnya bermukim. 

Saat berbincang dengan Mukhtar, beberapa anak-anak berlari dan bersepeda. Pria-pria dewasa sibuk mengangkut bahan-bahan makanan. Bangunan yang dijadikan Posko Pengungsian itu, tak begitu ramai siang itu. 

Hanya terlihat lalu lalang beberapa kenderaandan hilir mudik orang-orang, serta burung-burung terbang rendah di lokasi pengungsian tersebut.

Mukhtar tentu ingin cepat pulang, pun begitu ratusan warga lainnya yang tinggal sementara di bangunan dua lantai itu. Harapan lelaki berkursi roda itu, sama seperti keinginan masyarakat lainnya, bisa segera pulang dan menata kehidupan dan masa depan kembali.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
HeadlineSepakbola

Drama adu penalti, PSG Kampiun Liga Champions 2025/2026

POPULARITAS.COM – Laga final Liga Champions 2025/2026, berlangsung dramatis. Pertandingan yang digelar...

FeatureHeadline

Lebaran iduladha di Rumah Singgah BFLF

POPULARITAS.COM – Momen merayakan lebaran iduladha bersama keluarga, tentu impian dan keinginan...

FeatureHeadline

Sisi lain Abang Samalanga : Antara politisi dan pecinta kucing

POPULARITAS.COM – Tak banyak yang tahu, selain politisi dan dipercaya sebagai pemimpin...

FeatureHeadline

BPMA bawa kearifan Aceh ke panggung energi nasional

POPULARITAS.COM – Dibalik sorotan lampu LED dan arsitektur modern di Indonesia Petroleum...

Exit mobile version