POPOULARITAS.COM – Pasar saham Israel berpotensi menghadapi tekanan jika Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kembali terpilih dalam pemilihan umum pada Selasa (27/10/2026). Kekhawatiran investor terhadap risiko politik, hubungan dengan negara-negara Barat, dan kemungkinan meningkatnya ketegangan dengan Iran dapat memicu koreksi aset keuangan Israel.
Situasi tersebut mengingatkan pada reaksi pasar di Brasil setelah Luiz Inacio Lula da Silva kembali memenangkan pemilihan presiden.
Pada Senin (26/10/2026), dana yang diperdagangkan di bursa (exchange-traded fund/ETF) yang melacak indeks saham Brasil di bursa Tokyo anjlok 15%, sedangkan kontrak berjangka mata uang real Brasil untuk November merosot 10% dalam perdagangan di Asia. Investor khawatir kemenangan Lula akan memengaruhi arah kebijakan fiskal dan prospek ekonomi negara tersebut.
Meski situasi politik dan ekonomi kedua negara berbeda, reaksi pasar Brasil menunjukkan bagaimana hasil pemilu dapat memengaruhi ekspektasi investor terhadap pemerintahan berikutnya. Di Israel, kemenangan kembali Netanyahu berpotensi memperpanjang ketidakpastian politik dan memperbesar kekhawatiran mengenai arah kebijakan pemerintah.
Jajak pendapat menunjukkan persaingan ketat dalam pemilu Israel. Blok Likud yang dipimpin Netanyahu maupun koalisi oposisi yang berpusat pada mantan kepala militer Gadi Eisenkot diperkirakan kesulitan memperoleh 61 kursi dari total 120 kursi Knesset untuk membentuk pemerintahan.
Kondisi ini membuka kemungkinan negosiasi koalisi berkepanjangan atau pemilu ulang.
Sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, indeks saham Tel Aviv Stock Exchange (TASE) justru melonjak 130%, melampaui kenaikan 80% di Wall Street. Mata uang shekel juga menguat 25% terhadap dolar Amerika Serikat (AS), menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terbaik di dunia.
Penguatan tersebut ditopang sektor teknologi, perkembangan kecerdasan buatan (AI), serta belanja pertahanan yang hampir berlipat ganda menjadi sekitar 8% dari produk domestik bruto (PDB). Namun, kinerja positif selama perang tidak menghilangkan risiko jika hasil pemilu memperpanjang ketidakpastian kebijakan.
JPMorgan memperkirakan nilai tukar shekel dapat bergerak hingga 3%, bergantung pada hasil pemilu. Kemenangan oposisi yang memperbaiki hubungan Israel dengan negara-negara Barat dan menghentikan perombakan sistem peradilan yang memicu demonstrasi besar pada 2023 berpotensi memperkuat shekel. Sebaliknya, kemenangan Netanyahu dapat menekan mata uang tersebut jika investor menilai risiko politik dan regional tetap tinggi.
Kepala Ekonom IBI Investment House Rafi Gozlan mengatakan kemenangan oposisi berpotensi memperbaiki sentimen pasar melalui penurunan premi risiko Israel dan penguatan shekel.
“Dari perspektif pasar modal, kemenangan oposisi kemungkinan tercermin dalam penurunan premi risiko Israel, tekanan penguatan terhadap shekel, dan respons positif di pasar domestik,” kata Gozlan.
Risiko geopolitik juga menjadi perhatian investor. Penasihat Ekonomi Utama Equity Bank Charlie Robertson menilai hasil pemilu akan memengaruhi persepsi pasar terhadap prospek keamanan kawasan, terutama terkait konflik dengan Iran.
“Jika Netanyahu terpilih kembali, hal itu dapat meningkatkan kemungkinan eskalasi lebih lanjut dengan Iran. Sebaliknya, kekalahannya bisa dipandang sebagai tanda meredanya ketegangan,” kata Robertson.
Kemenangan Netanyahu yang diikuti peningkatan ketegangan regional dapat menambah tekanan terhadap aset Israel. Sebaliknya, kekalahannya berpotensi dipandang sebagai sinyal meredanya konflik, meskipun hasil tersebut tidak otomatis menjamin stabilitas kawasan.
Selain risiko geopolitik, kondisi fiskal Israel menjadi perhatian investor. Utang publik telah meningkat hingga mendekati 70% dari PDB, sekitar 10 poin persentase lebih tinggi dibandingkan 2022. Defisit anggaran juga diperkirakan bertahan di sekitar 4,5% dari PDB, jauh di atas tingkat sebelum konflik yang kurang dari 2%.
Perang telah menimbulkan kerugian ekonomi lebih dari US$ 55 miliar hingga tahun lalu, menurut estimasi bank sentral yang dikutip Christopher Granville dari TS Lombard. Nilai tersebut setara dengan hilangnya pertumbuhan PDB kumulatif sebesar 8,6%.









Leave a comment