POPULARITAS.COM – Pembangunan rumah layak huni (RLH) di Pidie, tahun anggaran 2025 tak tuntas dikerjakan. Pihak pemerintah Aceh sendiri, berdalih persoalan bencana hidrometeorologi jadi penyebabnya. Sementara, sejumlah warga penerima manfaat mengeluh sebab rumah yang semestinya sudah bisa mereka tinggali, namun belum kunjung rampung diselesaikan.
Salah satu keluhan tersebut, disampaikan oleh Irwansyah (48), warga Duson Beurandeh, Pulo Raya, Simpang Tiga Pidie. Kepada popularitas.com, Selasa (4/8/2026), pria itu menceritakan persoalan RLH miliknya yang belum rampung, seperti pemasangan pintu, keramik, bahkan pengecoran lantai.
Amatan popularitas.com sendiri, RLH milik Irwansyah memang belum layak dihuni. Sebab, beberapa item pekerjaan tak rampung dikerjakan pihak kontraktor. Seperti pemasangan pintu kamar mandi, empat pintu yang belum terpasang, jendela, bahkan pengecoran lantai yang belum terlaksana.
Rumah milik Irwansyah, merupakan satu dari ratusan rumah di Pidie yang sesuai dengan kalender, dibangun lewat APBA 2025.
Penelusuran media ini, proyek pembangunan rumah layak huni bersumber APBA TA 2025 itu dikerjakan oleh CV. Total Bangun Sarana dengan nilai pagu Rp 480 juta anggarab bersumber Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA).
Metode pekerjaan kontruksi dengan judul ‘Pembangunan Rumah Layak Huni (Daratan) Kab. Pidie 25 (Otsus Aceh)’ dilaksanakan bukan melalui tender melainkan e-Purchasing. Dengan nilai pagu tersebut CV. Total Bangun Sarana kerjakan lima unit rumah layak huni.
Irwansyah warga Gampong Pulo Raya, Simpang Tiga, Pidie, salah seorang penerima manfaat yang rumah bantuan tidak selesai dikerjakan menyebutkan, kontraktor tidak lagi mengerjakan penyelesaian rumah usai banjir November 2025.
Lama diterlantarkan, Irwansyah sempat berupaya menghubungi rekanan untuk kelanjutan rumah bantuan yang tidak kunjung selesai itu.
“Pernah saya hubungi, saya nanyak bangaiman rumah saya, kalau tidak dikerjakan lagi saya kerjakan sendiri semampu saya. Dijawab sama kontraktor jangan disentuh apapun, akan kembali dilanjutkan pembangunan saya kata kontraktor itu,” ungkapnya menirukan percakapan ia dengan rekanan kepada popularitas.com, Senin (3/8/2026) kemarin.
Bak mendapat “angin surga” Irwansyah pun percaya. Namun apalacur hingga Agustus 2026 kontraktor itu tak kunjung kembali untuk menyelesaikan pembangunan rumah tersebut. Ia pun kembali mencoba menghubungi kontraktor itu namun tidak pernah tersambung hingga kini.

Informasi diperoleh popularitas.com, ratusan rumah bantuan Perkim Aceh yang tersebar di seluruh Aceh alami nasib serupa.
Sementara itu, Kepala Dinas Perkim Aceh, Taufik saat dikonfirmasi popularitas.com mengakui terdapat sejumlah rumah bantuan TA 2025 yang tidak selesai dikerjakan, salah satunnya dengan penerima manfaat Irwansyah.
Dalihnya, faktor yang membuat pelaksanaan pekerjaan proyek tersebut tidak dapat diselaikan disebabkan bencana hidrometeorologi 26 November 2025 yang mengakibatkan proses mobilitas pasokan material terkendala.
“Informasi itu (RLH tidak selesai) benar. Kendala saat terakhir mau penyelesaian kan sudah bencana. Sehingga pekerjaan-pekerjaan rumah belum dapat diselesaikan,” ungkap Kadis Perkim Aceh, Taufik kepada popularitas.com, Selasa (4/8/2026).
Perkim Aceh sendiri sambung Taufik melakukan pemutusan kontrak kerja dengan rekanan atas proyek RLH tersebut pada Desember 2025. Diakui olehnya, terdapat sekira 400 unit RLH yang tidak rampung.
Tambahnya, jika anggaran tersedia maka akan kembali dianggarkan untuk penyelesaian rumah-rumah mangkrak tersebut tanpa memastikan tahunnya.
Leave a comment