POPULARITAS.COM – Jumlah penduduk Aceh dari generasi Gen Z dan milenial, kini dominasi dari total jumlah warga di provinsi tersebut. Berdasarkan data terbaru yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah dua klaster itu saat ini capai 51,31 persen dari total jumlah warga yang mendiami wilayah provinsi ujung barat Sumatra tersebut.
Hal itu disampaikan oleh Kepala BPS Aceh, Agus Andria dalam keterangannya, Selasa 5 Mei 2026 saat paparkan data hasil Survei Penduduk ANtar Sensus (SUSPAS) 2025.
“Populasi Aceh kini didominasi Gen Z 27,01 persen dan Milenial 24,30 persen. Klaster keduanya mencakup lebih dari separuh penduduk,” katanya.
Sedangkan kelompok Post-Gen Z menyumbang 22,13 persen penduduk, diikuti Gen X 17,52 persen, serta kelompok lansia yaitu Baby Boomer dan Pre-Boomer yang mencapai 9,04 persen.
Ia menyebutkan rasio ketergantungan penduduk Aceh terus menurun hingga mencapai angka 47,75 pada SUPAS 2025. Rasio ketergantungan ini mengindikasikan bahwa setiap 100 penduduk usia produktif menanggung beban sekitar 48 penduduk usia nonproduktif.
Menurutnya terjadi peningkatan proporsi penduduk usia produktif 15-64 tahun yang kini mendominasi struktur kependudukan sebesar 67,68 persen.
“Proporsi penduduk usia muda (0-14 tahun) mengalami penyusutan menjadi 26,30 persen, sementara penduduk lansia (65 tahun ke atas) sedikit meningkat menjadi 6,02 persen, ” sebutnya.
Ia menyebutkan persentase penduduk lansia di Aceh terus meningkat dari 8,08 persen pada SP2020 menjadi 9,56 persen pada SUPAS 2025.
Meski mengalami tren peningkatan, posisi Aceh saat ini masih berada di bawah ambang batas 10 persen, sehingga secara statistik belum memasuki fase penuaan penduduk atau ageing population.
Selain itu, ia mengatakan angka kelahiran kasar atau Crude Birth Rate (CBR) adalah angka yang menunjukkan banyaknya kelahiran pada tahun tertentu per 1.000 penduduk. Hasil SUPAS 2025 mencatat terdapat 18,56 kelahiran hidup di antara 1.000 penduduk Aceh.
Menurutnya CBR Aceh mengalami penurunan sebesar 1,08 poin dibandingkan hasil Long Form SP2020.
Kemudian, seluruh indikator kematian penduduk usia dini di Aceh menunjukkan tren penurunan yang konsisten antara periode SP2020 dan SUPAS 2025. Angka Kematian Bayi (IMR) turun menjadi 16,27, Angka Kematian Anak (CMR) menjadi 2,68, dan Angka Kematian Balita (U5MR) menjadi 18,94 per 1.000 kelahiran hidup.
Penurunan signifikan pada kematian bayi menjadi kontributor utama yang mendorong turunnya tingkat kematian balita secara keseluruhan.
Agus juga menjelaskan aspek mobilitas penduduk dalam SUPAS 2025. Kota Banda Aceh merupakan daerah dengan mobilitas penduduk tertinggi di Aceh, mencatatkan migrasi masuk seumur hidup sebesar 37,92 persen. Meskipun memiliki arus masuk yang besar, kota ini juga mencatatkan persentase migrasi keluar terbesar di antara kabupaten/kota lainnya, baik migrasi risen maupun seumur hidup.
“Dengan mobilitas yang sangat dinamis tersebut, Banda Aceh mencatatkan angka migrasi neto yang tetap positif, tapi sangat tipis, yakni sebesar 0,03 persen,” ucapnya.
Ia menyebutkan angka migrasi neto risen antarkabupaten/kota yang bernilai positif tertinggi adalah Kota Subulussalam yaitu 3,54 persen. Dapat diartikan bahwa dalam periode 2020-2025 terdapat penambahan tiga orang per seratus penduduk di Kota Subulussalam karena migrasi masuk.
Sementara itu, Kabupaten Aceh Singkil merupakan wilayah yang memiliki angka migrasi neto risen antarkabupaten/kota yang bernilai negatif tertinggi yaitu -2,03 persen. Dapat diartikan bahwa dalam periode 2020-2025 terdapat pengurangan dua orang per seratus penduduk di Kabupaten Aceh Singkil karena migrasi keluar.

Leave a comment