POPULARITAS.COM – Delegasi dari negara-negara Eropa kompak memboikot Rusia dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Selasa (24/2/2026), sebagai bentuk solidaritas terhadap Ukraina dalam peringatan empat tahun invasi oleh Moskwa.
Aksi boikot terjadi saat intervensi Rusia di Dewan Hak Asasi Manusia PBB. Beberapa negara Barat tidak hadir, membuat Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Dmitry Lyubinsky berbicara di hadapan aula yang tampak kosong.
Dalam pidatonya, Lyubinsky mengecam sikap Eropa dan menyebut benua itu pihak yang memicu agresi. Ia mengatakan, Eropa “hari ini menjadi pembawa bendera agresi historis”, seraya mengkritik apa yang disebutnya sebagai “Russophobia” oleh Eropa.
“Bagi rakyat Rusia, sangat menyakitkan melihat bagaimana negara-negara Barat menggunakan rakyat Ukraina, yang merupakan rakyat yang sangat dekat dengan kita,” kata Lyubinsky, dikutip dari kantor berita AFP.
Boikot serupa terjadi di Konferensi Pelucutan Senjata yang difasilitasi PBB pada Selasa itu juga, ketika Duta Besar Rusia untuk Jenewa, Gennady Gatilov, menyampaikan pidato.
Negara-negara Eropa dan puluhan negara lainnya mengosongkan kursi mereka, termasuk Ukraina, Polandia, Inggris, Kanada, Australia, Romania, Jerman, Jepang, Italia, Perancis, dan Selandia Baru.
Di luar ruang sidang, saat Gatilov berbicara, para delegasi berdiri bersama sambil mengibarkan bendera besar Ukraina. Mereka kembali ke tempat duduk setelah Dubes Rusia selesai menyampaikan pidatonya. Hampir 50 orang melakukan aksi serupa di luar Dewan HAM PBB.
Di sela-sela sidang Dewan HAM, Ukraina menggelar pertemuan yang dipadati peserta. Sejumlah menteri luar negeri Eropa menyuarakan dukungan bagi Kyiv, ketika perang skala penuh Rusia memasuki tahun kelima. Menteri Luar Negeri Moldova Mihai Popsoi, berbicara atas nama 44 negara, menyatakan bahwa “Mustahil menemukan kata-kata untuk kengerian yang ditimbulkan Rusia terhadap Ukraina”.
“Rusia tampaknya sepenuhnya bertekad menghapus keberadaan warga sipil dengan dampak yang menghancurkan pada semua aspek kehidupan anak-anak Ukraina,” ujarnya.
Menteri Luar Negeri Islandia Thorgerdur Katrin Gunnarsdottir juga menyoroti dampak perang terhadap warga sipil. “Deportasi dan pemindahan paksa anak-anak Ukraina adalah salah satu kejahatan paling mengerikan dalam perang Rusia,” katanya.
“Jika Rusia berhenti berperang hari ini, perang ini akan berakhir.” Sementara itu, Menteri Luar Negeri Norwegia Espen Barth Eide menilai Rusia melanggar setiap prinsip yang ada di Ukraina.
Dalam konferensi pers sebelumnya, koordinator kemanusiaan PBB di Ukraina Matthias Schmale menyebut invasi Rusia terus menimbulkan penderitaan manusia yang tak terukur. Schmale mengatakan, lebih dari 10,8 juta orang, atau sekitar seperempat populasi Ukraina, membutuhkan bantuan, termasuk tak kurang dari satu juta orang di wilayah yang diduduki Rusia.
Sepanjang tahun lalu, sekitar lima juta orang telah menerima bantuan kemanusiaan. “Perang meninggalkan luka yang dalam dan tak terlihat (pada rakyat Ukraina)”, kata Schmale dari Kyiv.
Di sisi lain, badan pengungsi PBB (UNHCR) mencatat 5,9 juta pengungsi Ukraina yang tinggal di luar negeri, dengan 5,7 juta di antaranya berada di Eropa. Selain itu, 3,7 juta orang di dalam negeri meninggalkan rumah mereka. Direktur UNHCR untuk Eropa, Philippe Leclerc, menyatakan bahwa lebih dari 60 persen warga Ukraina di luar negeri ingin bisa kembali ke Tanah Air mereka.









Leave a comment