POPULARITAS.COM — Banjir bandang memang telah surut, namun duka belum pergi. Banjir yang melanda Aceh meninggalkan luka yang tak selalu kasat mata.
Diantaranya adalah anak-anak yang hidup dalam trauma, orang tua yang dihantui kecemasan, dan keluarga yang terus mencoba bertahan di tengah kehilangan.
Di balik puing-puing dan lumpur yang mengering, ada cerita-cerita sunyi yang jarang terdengar, tentang rasa aman yang hilang dan harapan yang hampir padam.
Di tengah situasi ini, gotong royong kembali menunjukkan wajah terbaiknya.
Melalui gerakan rakyat bantu rakyat, Pemerintah Aceh bersama jaringan relawan melaksanakan Program Kolaborasi Psychosocial Activities (kegiatan pemulihan trauma) bagi warga terdampak bencana hidrometeorologi.
Program ini menjadi ikhtiar untuk memulihkan luka yang tidak selalu terlihat, luka psikologis, terutama pada anak-anak.
Ketua Forbes Relawan Aceh, Redha Rahmatillah Thogam, menyebut bencana tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga luka psikologis yang mendalam, sehingga kehadiran relawan tidak semata untuk menyalurkan bantuan logistik.
“Bangunan bisa diperbaiki, tetapi trauma dan rasa aman yang hilang, terutama pada anak-anak, membutuhkan pendampingan khusus. Karena itu, pemulihan psikososial menjadi bagian penting dari kerja relawan di tengah masyarakat,” ujar Redha Rahmatillah kepada Popularitas.com, Minggu (18/1/2026).
Menurutnya, trauma pascabencana sering tidak disadari karena tidak terlihat. Anak-anak bisa menjadi pendiam, mudah terkejut saat hujan turun, dan sulit tidur. Jika tidak ditangani, trauma tersebut dapat terbawa hingga dewasa.
Karena itu, relawan menghadirkan pendampingan bagi anak-anak dan keluarga terdampak, melalui pembagian paket pendidikan, makanan siap saji, layanan pengobatan gratis, serta kegiatan bermain dan hiburan edukatif.
“Kami ingin anak-anak kembali merasakan masa kecil mereka. Bermain, tertawa, dan merasa aman. Itu bagian penting dari proses pemulihan,” tambahnya.
Melalui Program Kolaborasi Psychosocial Activities, Pemerintah Aceh berupaya memastikan pemulihan pascabencana berjalan secara menyeluruh, tidak hanya pada aspek fisik, tetapi juga mental dan sosial masyarakat.
“Kami ingin warga dan para korban bencana merasa ditemani dalam proses pemulihan ini. Bukan hanya rumah yang perlu dibangun kembali, tetapi juga rasa aman dan ketenangan, terutama bagi anak-anak,” tutur Thogam.

Ia mengatakan, gerakan rakyat bantu rakyat tumbuh dari semangat kebersamaan dan kepedulian sesama. Gerakan ini melibatkan berbagai unsur relawan dan lembaga sosial, seperti Forbes Relawan Aceh, Yayasan Beujroeh Leeguna, PKH Banda Aceh, Yayasan Sehai, hingga Mandiri Eka.
“Di tengah duka, relawan hadir dengan cara sederhana, berbagi, mendengar, dan menemani. Harapannya, warga perlahan bisa bangkit dengan perasaan yang lebih tenang,” tuturnya.
Saat ini, warga terdampak telah menempati hunian sementara, sementara pembangunan hunian tetap (Huntap) sedang dipersiapkan.











Leave a comment