POPULARITAS.COM – Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar AS pada Kamis (5/2/2026), dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian global serta perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).
Pada perdagangan hari ini, rupiah ditutup melemah 65 poin terhadap dolar AS. Sebelumnya, mata uang domestik sempat tertekan hingga 70 poin ke posisi Rp 16.842 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 16.776.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menjelaskan, pelemahan rupiah terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran pasar atas ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda mereda. Ia menilai, laporan mengenai potensi gagalnya pembicaraan antara AS dan Iran turut menambah tekanan di pasar keuangan.
Meski demikian, pejabat dari kedua negara disebut tetap akan melanjutkan dialog, walaupun agenda pembahasan belum sepenuhnya disepakati.
Dari sisi lain, rupiah juga tertekan walau AS dan China disebut menjalin komunikasi konstruktif terkait berbagai isu, mulai dari perdagangan hingga militer.
“Percakapan yang bernada positif antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping membantu menjaga hubungan Washington dan Beijing tetap stabil,” ujar Ibrahim.
Trump disebut berencana melakukan kunjungan ke China pada April mendatang. Dalam komunikasi tersebut, kedua pemimpin turut membahas isu perdagangan, militer, Taiwan, konflik Rusia dan Ukraina, Iran, hingga rencana pembelian minyak dan gas China dari AS.
Tekanan terhadap rupiah juga datang dari ekspektasi pasar yang mengarah pada kebijakan moneter The Fed yang dinilai akan lebih hawkish dan independen di bawah kepemimpinan Warsh.
“Pelaku pasar juga mulai mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga The Fed setelah jeda pemangkasan suku bunga pada Januari serta penunjukan Warsh,” kata Ibrahim.











Leave a comment