Home Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Surga Batu Putih, pesona Pantai Batee Puteh di Aceh Selatan
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh

Surga Batu Putih, pesona Pantai Batee Puteh di Aceh Selatan

Share
Pantai Batu Putih di Meukek di Aceh Selatan. FOTO : popularitas.com/Rahmat Syahputra
Share

POPULARITAS.COM – Angin laut dari arah Samudra Hindia menyapa lebih dulu sebelum mata kita benar-benar menangkap pesona Pantai Batee Puteh.

Dari kejauhan, pantai ini tampak berbeda. Tidak seperti pantai pasir pada umumnya, permukaannya berkilau oleh hamparan batu putih yang seolah dipoles langsung oleh alam. 

Saat melangkah mendekat, kita seperti memasuki ruang alami yang sudah lama menunggu untuk diceritakan.

Pantai Batee Puteh yang terletak di Gampong Lhok Aman, Kecamatan Meukek, bukan hanya tempat untuk menikmati pemandangan, tetapi ruang di mana kehidupan masyarakat pesisir terus berdetak. 

Di pinggir jalan nasional Meulaboh–Tapaktuan, pantai ini seakan memanggil setiap orang yang lewat untuk berhenti sejenak.

Begitu melangkah ke bibir pantai, kita dibuat terpukau oleh satu hal, hamparan batu putih yang memenuhi daratan. 

Batu-batu kecil dengan warna yang begitu bersih seolah memantulkan cahaya langit.

Konon, ombaklah yang membawanya dari dasar laut, menghadiahkan kepada daratan seperti karpet alami yang tak pernah habis keindahannya.

 Menurut cerita warga, batu-batu putih yang bertebaran di Pantai Batee Puteh bukan hanya mempermanis wajah pantai, tetapi juga menyimpan nilai tradisi yang telah hidup puluhan tahun. Batu-batu itu menjadi sumber rezeki. 

Setiap hari, masyarakat memungutnya, memilih berdasarkan ukuran, lalu menjualnya kepada pengunjung dengan harga antara Rp15.000 hingga Rp100.000 per karung. Hampir setiap wisatawan yang datang tak pernah pulang dengan tangan kosong, karung kecil berisi batu putih menjadi ole-ole khas dari pantai ini.

Dalam adat masyarakat, batu putih memiliki makna tersendiri. Ia digunakan untuk menaburi makam pada momen-momen penting seperti menjelang Ramadan, meugang, hingga ziarah Idul Fitri dan Idul Adha. 

Taburan batu membuat makam terlihat bersih dan terang, seakan kembali mendapat penghormatan dari keluarga yang datang berziarah. Namun, batu putih ini tidak hanya digunakan untuk keperluan adat. 

Banyak juga warga yang membawanya pulang untuk mempercantik halaman rumah menata taman kecil, membuat batas jalan setapak, atau sekadar memberi aksen alami di sudut halaman. Batu yang sederhana itu ternyata menyimpan fungsi dan keindahan sekaligus.

Namun, jika ingin merasakan keindahan sejatinya, tak salahnya, kita datang saat fajar masih bersembunyi. Ketika langit masih biru gelap, para nelayan mulai mendorong jaloe (perahu tanpa mesin) membelah ombak dengan kayuhan yang ritmis. 

Hening tanpa suara mesin, hanya debur ombak yang menemani.Tak lama, warga berbondong-bondong menuju bibir pantai, menanti kepulangan para nelayan. 

Saat jaloe merapat, warga tanpa ragu turun ke air. Mereka saling membantu menarik perahu ke daratan, sebuah kebersamaan yang terasa begitu tulus. 

Pemandangan sederhana itu justru memancarkan kehangatan, tradisi yang tetap hidup meski waktu terus bergerak maju. Momen seperti itu membuat siapa saja ingin berhenti sejenak, menikmati ritme pagi Batee Puteh. 

Di sini, keindahan bukan hanya milik laut yang membiru, tapi juga milik manusia-manusia yang menjalani hidup dengan cara yang begitu dekat dengan alam.

Tak jauh dari tempat perahu ditarik, suasana berubah menjadi pasar kecil yang ramai. 

Kita bisa memilih dan membeli ikan segar yang baru diangkat dari laut, masih basah, masih hangat oleh kayuhan terakhir sang nelayan. Di sinilah Batee Puteh memperlihatkan dirinya sepenuhnya, indah, hidup, dan sangat dekat dengan manusia.

Tak jauh dari titik para nelayan menepi, ada sebuah makam ulama yang terawat rapi. Batu-batu putih disusun rapi di atasnya, seperti hamparan permadani kecil yang memantulkan cahaya pagi. Warga menyebutnya sebagai makam Said Ahmad.

Dengan suara pelan namun penuh penghormatan, mereka berkisah tentang sosoknya, seorang ulama sekaligus pejuang yang hidup sekitar tahun 1840–1940. 

Konon, ia memiliki pedang sepanjang empat meter, senjata yang digunakan untuk menghalau penjajah yang datang ke wilayah ini. 

Cerita itu begitu kuat mengalir dari mulut ke mulut, hingga saya merasa seakan sedang berdiri di antara sejarah yang tidak pernah benar-benar pergi, hanya berpindah tempat, lalu berdiam di Batee Puteh bersama hembusan angin lautnya.

Alam di Gampong Lhok Aman benar-benar memanjakan siapa saja yang datang. Tak jauh dari bibir Pantai Batee Puteh, ada sebuah kolam alami dengan air sebening kristal, bersih, segar, dan memikat sejak pandangan pertama.

Biasanya, setelah puas bermain ombak, para pengunjung akan berjalan beberapa puluh meter menuju Kolam Pemandian Poe Mbon, yang letaknya hanya sekitar puluhan meter dari garis pantai.

Begitu menceburkan diri, rasa lelah langsung luruh. Airnya yang jernih dan dingin menawarkan ketenangan yang berbeda dari laut. Setelah diterpa angin dan riak ombak, menyelam ke Poe Mbon terasa seperti kembali menemukan kesejukan yang selama ini dicari.

Kolam alami ini menjadi tempat favorit banyak keluarga. Anak-anak bisa bermain tanpa lelah, sementara orang dewasa menikmati kesejukan air sambil melepaskan penat. 

Pantai Batee Puteh di Meukek, Aceh Selatan. FOTO : popularitas.com/Rahmat Syahputra

Singkatnya, Poe Mbon adalah pelengkap sempurna bagi siapa pun yang ingin mencicipi sisi lain dari Batee Puteh selain hamparan lautnya.

Namun, satu hal yang membuat kita semakin menghargai tempat ini adalah cara masyarakat menjaganya. Mereka melarang penggalian pasir dan kerikil dengan alat berat. Mereka percaya bahwa alam sudah bekerja dengan caranya sendiri, menyediakan batu putih dan rezeki tanpa harus dirusak.

Jika suatu hari merasa perlu melarikan diri dari bisingnya rutinitas, sekadar menenangkan pikiran, menyatu dengan alam, dan merasakan kearifan lokal yang masih terjaga, datanglah ke Pantai Batee Puteh. 

Kawasan ini berada sekitar 406 kilometer dari Banda Aceh, ibu kota provinsi, dan hanya berjarak 22 kilometer dari Kota Tapaktuan, pusat pemerintahan Aceh Selatan. Letaknya yang strategis membuat siapa pun mudah menjangkaunya.

Apalagi posisinya persis di tepi Jalan Nasional Meulaboh–Tapaktuan, jalur utama yang menghubungkan kawasan barat-selatan Aceh. Dari pusat perkampungan Lhok Aman, kita hanya perlu berjalan sekitar 500 meter sebelum akhirnya tiba di hamparan pesisir yang memikat itu.

Rasanya, tempat ini seperti hadiah kecil yang disimpan alam di pinggir jalan, mudah ditemukan, tetapi menyimpan kejutan yang membuat orang ingin kembali.

Ada sesuatu di sini yang membuat langkah terasa lebih ringan, udara yang bersih, laut yang luas, dan kilau batu putih yang seperti menyimpan cerita dari generasi ke generasi.

Batee Puteh mungkin tidak menawarkan deretan fasilitas modern seperti destinasi wisata lain. Namun justru kesederhanaan itulah yang menjadikannya istimewa. 

Di bawah rimbun pohon kelapa, Anda bisa duduk santai sambil menyeruput air kelapa muda yang langsung dipetik dari pohonnya. Beberapa pondok kayu kecil juga tersedia, menjadi tempat ideal untuk berteduh dan melepas lelah setelah menikmati pantai.

Jika lapar, kita bisa memesan semangkuk mis instan, baik goreng maupun rebus, yang dipadukan dengan lauk segar seperti kepiting, cumi, atau ikan tongkol. 

Entah karena angin laut atau suasananya yang tenang, rasa mie sederhana itu selalu terasa lebih nikmat ketika disantap di tepi pantai.

Tak hanya itu, fasilitas umum seperti toilet dan MCK sudah tersedia, cukup untuk membuat pengunjung merasa nyaman tanpa mengubah karakter alami tempat ini. Batee Puteh terasa seperti ruang rehat yang jujur, tidak dibuat-buat, tidak berlebihan, hanya alam dan manusia yang hidup berdampingan.

Dan ketika kita pulang, mungkin yang paling membekas bukan hanya suara ombak atau sejuknya angin pagi, tetapi juga kilau batu putih yang tersisa di ingatan, sebuah simbol betapa kayanya tempat kecil ini, bukan hanya secara alam, tetapi juga dalam cerita dan tradisi yang dijaganya.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh

Kadisbudpar Aceh : Warga antusias datang ke Aceh Ramadhan Festival 2026

POPULARITAS.COM – Sejak dibuka pada 1 Maret 2026, kegiatan Aceh Ramadhan Festival...

Aceh Ramadhan Festival digelar 1-7 Maret 2026 di Masjid Raya Baiturrahman, catat jadwalnya
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh

Aceh Ramadhan Festival digelar 1-7 Maret 2026 di Masjid Raya Baiturrahman, catat jadwalnya

POPULARITAS.COM – Acara tahunan Aceh Ramadhan Festival tahun 2026, kembali digelar oleh...

Kunjungan turis asing ke Aceh naik 33,15 persen
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh

Kunjungan turis asing ke Aceh naik 33,15 persen

POPULARITAS.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mencatat jumlah kunjungan wisatawan...