POPULARITAS.COM – Sebuah brand matcha asal Hong Kong, Celadon, berupaya mengubah persepsi publik yang selama ini menganggap matca identik dengan Jepang.
Pendiri Celadon, Gavin Yeung, mengungkapkan matca sebenarnya berasal dari China dan memiliki sejarah panjang sebelum akhirnya berkembang menjadi bagian penting dari budaya Jepang.
Gagasan tersebut muncul setelah Yeung mendalami sejarah matca saat mencari rutinitas pagi yang menenangkan di tengah kesibukan kota. Semakin banyak melakukan riset, ia justru menemukan fakta bahwa akar budaya matca berasal dari China.
“Matca saat ini dipandang sepenuhnya melalui sudut pandang Jepang. Namun, ketika saya mulai melakukan lebih banyak riset dan menyadari betapa panjang sejarahnya di tempat asal saya, saya benar-benar terkejut,” kata Yeung, dikutip dari South China Morning Post, Minggu (21/6/2026).
Bagi banyak penikmat teh di dunia, matca dikenal sebagai produk khas Jepang yang identik dengan upacara minum teh hingga estetika budaya Negeri Sakura. Padahal, sejarah matca di China tercatat jauh lebih tua.
Yeung menemukan bahwa tradisi matca di China sudah ada sejak Dinasti Tang (618–907). Pada masa itu, daun teh dikukus, dihancurkan, lalu dipadatkan menjadi balok untuk memudahkan penyimpanan dan perdagangan. Saat akan disajikan, sebagian teh digiling menjadi bubuk dan direbus, bahkan sering dicampur garam atau rempah-rempah.
Kala itu, teh lebih banyak digunakan sebagai ramuan kesehatan dibanding minuman sehari-hari.
Memasuki Dinasti Song (960–1279), metode penyajiannya berkembang menjadi lebih mirip dengan matca modern. Daun teh dikukus dan dikeringkan sebelum digiling menjadi bubuk halus, lalu dikocok bersama air panas dalam mangkuk.
Tradisi minum teh pada masa itu juga berkembang menjadi bagian dari budaya masyarakat elite dan kalangan biksu Buddha. Bahkan terdapat kompetisi mengocok teh untuk menghasilkan busa terbaik hingga seni penyajian teh yang disebut sebagai cikal bakal latte art modern.
Namun, ketika Jepang mulai mengadopsi tradisi tersebut, China justru mengalami perubahan kebijakan pada era Dinasti Ming (1368–1644). Pemerintah saat itu melarang penggunaan teh berbentuk balok dan beralih sepenuhnya ke teh daun lepas. Akibatnya, tradisi teh bubuk perlahan menghilang dari China, sementara Jepang terus melestarikan dan menyempurnakannya.
Berangkat dari rasa penasaran tersebut, Yeung bersama tunangannya, Kelly Chen, mendirikan Celadon sebagai perusahaan matca yang bertujuan mengangkat kembali sejarah matca dari China yang selama ini kurang dikenal.
Nama Celadon sendiri diambil dari keramik hijau giok khas Dinasti Song yang berkembang pada masa yang sama dengan budaya matca.
Chen mengatakan Celadon bukan sekadar bisnis minuman, tetapi juga upaya untuk memperkenalkan kembali warisan budaya yang mulai terlupakan.








Leave a comment