Home Internasional Teror Beruang Liar di Jepang Melonjak, Masuk Rumah Warga dan Buka Kulkas
InternasionalNews

Teror Beruang Liar di Jepang Melonjak, Masuk Rumah Warga dan Buka Kulkas

Share
Share

POPULARITAS.COM – Kecemasan melanda warga di wilayah utara Jepang setelah serangkaian insiden beruang liar masuk permukiman terus meningkat. Terbaru, sebuah keluarga di Prefektur Iwate terpaksa memanggil polisi setelah memergoki seekor beruang menyusup ke dalam dapur rumah mereka untuk mencari makanan.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup Jepang, konflik antara manusia dan hewan buas ini telah menelan korban jiwa. Beruang telah menewaskan sedikitnya lima orang di Jepang sejak April lalu, di mana seluruh korban jiwa tersebut tercatat berada di wilayah Tohoku.

Angka ini menambah catatan kelam setelah tahun fiskal lalu mencetak rekor dengan 13 serangan fatal di seluruh negeri.

Diberitakan Japan Today, Rabu (15/7/2026), Kepolisian Prefektur Iwate menerima laporan darurat pada Senin (13/7/2026) malam dari sebuah keluarga yang melaporkan adanya seekor beruang yang menyusup ke dalam rumah mereka di Kota Shizukuishi.

Penghuni rumah tersebut, Mitsuo Matsubara (87), awalnya memeriksa asal suara bising di rumahnya sebelum akhirnya terkejut menemukan seekor beruang di dalam dapur. Sang istri kemudian bergegas menghubungi layanan darurat. Pihak kepolisian setempat mengonfirmasi bahwa hewan tersebut sempat mengacak-acak isi dapur untuk mencari makan.

“Hewan itu membuka kulkas dan menyebarkan isinya ke mana-mana,” ujar seorang pejabat kepolisian setempat yang menolak disebutkan namanya. Berdasarkan investigasi di tempat kejadian perkara (TKP), jejak kaki yang tertinggal menunjukkan rute pelarian hewan tersebut.

“Jejak kaki menunjukkan beruang tersebut kemudian keluar melalui pintu belakang yang berdekatan dengan dapur, dan sempat mengais tempat sampah untuk mencari limbah makanan,” tambah pejabat polisi tersebut.

Insiden yang menimpa keluarga Matsubara ternyata bukan kasus tunggal. Di kota yang sama, Shizukuishi, setidaknya ada empat rumah tangga lain yang melaporkan kasus penyusupan beruang sejak 5 Juli, seperti dikutip dari Japan Times. Salah satunya menimpa Mitsuo Yamamoto (70). Rumah Yamamoto bahkan telah disatroni beruang sebanyak empat kali dalam sepekan hingga hari Sabtu (11/7/2026).

Beruang tersebut dilaporkan mengincar makanan kucing dan acar. Beruntung, tidak ada korban luka dalam rentetan insiden di kota ini.

Pihak berwenang mencatat adanya lonjakan drastis penampakan beruang dalam beberapa bulan terakhir setelah mamalia besar ini keluar dari masa hibernasi. Gelombang cuaca panas yang terus berlangsung di berbagai wilayah Jepang juga disinyalir memicu lebih banyak beruang yang tersesat dan masuk ke area perkotaan

Kasus beruang masuk permukiman ini kian meresahkan karena beberapa hewan menunjukkan perilaku yang tidak biasa. Pada Juni lalu, puluhan polisi, pemburu, dan pejabat kota membutuhkan waktu empat hari penuh untuk menangkap seekor beruang yang berkeliaran di Utsunomiya, Prefektur Tochigi. Insiden tersebut bahkan memaksa sekolah-sekolah di wilayah itu ditutup massal.

Sebelum itu, seekor beruang lain yang digambarkan “sangat cerdas” sempat meneror dua pabrik di Fukushima.

Beruang tersebut diketahui mampu membuka jendela dan menyalakan keran air. Hewan itu melukai empat orang dan sempat buron selama beberapa hari sebelum akhirnya berhasil diatasi.

Selain di wilayah permukiman, ancaman beruang juga berdampak pada sektor pariwisata. Pertemuan dengan seekor beruang coklat memaksa otoritas setempat menutup darurat jalur pendakian di Gunung Rausu di Hokkaido. Jalur pendakian ditutup hanya beberapa hari setelah musim mendaki dibuka resmi pada 5 Juli, dan dijadwalkan akan dibuka kembali bagi para pendaki.

Para ilmuwan dan ahli satwa menjelaskan bahwa ada beberapa faktor utama di balik lonjakan tajam insiden serangan beruang tahun ini. Faktor pertama adalah peningkatan populasi beruang itu sendiri.

Kedua, adanya tren penurunan populasi penduduk di wilayah pedesaan Jepang, yang membuat batas antara habitat hutan dan permukiman manusia menjadi kabur. Faktor terakhir, adalah adanya variasi atau perubahan ketersediaan makanan alami beruang di hutan, yang memaksa mereka bermigrasi ke kota demi bertahan hidup.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
EkonomiNews

Pemerintah Tetapkan Harga Sawit Aceh Rp 3.718 Per Kilogram

POPULARITAS.COM –  Pemerintah Aceh melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan menetapkan harga Tandan...

News

Prabowo Perintahkan Evaluasi Total Program MBG dan Tertibkan SPPG Nakal

POPULARITAS.COM – Presiden Prabowo Subianto memimpin Rapat Terbatas bersama jajaran Kabinet Merah...

NewsPolitik

Menteri PU Bantah Mutasi Pegawai Terkait Surat Dinas ke AS

POPULARITAS.COM – Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo membantah kabar yang mengaitkan...

EdukasiNews

DWP Aceh Salurkan Bantuan Perlengkapan Sekolah bagi Ratusan Siswa Terdampak Banjir

POPULARITAS.COM – Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Aceh, Malahayati M. Nasir, didampingi...