Home Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Wisata Air Terjun Ceuraceu Eumbon ala Amazon di Aceh Jaya
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh

Wisata Air Terjun Ceuraceu Eumbon ala Amazon di Aceh Jaya

Share
Wisata Air Terjun Ceuraceu Eumbon di Aceh Jaya. FOTO : popularitas.com/Rahmat Syahputra
Share

POPULARITAS.COM – Di balik rimbunnya hutan yang seakan menutup dunia luar, serta tebing-tebing tinggi yang kokoh mengawal aliran Krueng Teunom, tersimpan sebuah perjalanan alam yang memukau sejak langkah pertama. 

Air Terjun Ceuraceu Eumbon, di Gampong Alue Jang, Kecamatan Pasie Raya, Aceh Jaya, bukan hanya tujuan wisata, melainkan pengalaman menyusuri sungai jernih nan tenang yang membelah lanskap liar.

Tak heran jika banyak pengunjung menyebutnya sebagai ‘Amazon Aceh’. Setiap belokan sungai, setiap tembok batu raksasa yang menjulang, memberi kesan seolah wisatawan tengah memasuki alam purba yang masih terjaga kesunyiannya.

Ceuraceu Eumbon, yang kini tersohor sebagai spot wisata nan memesona, sejatinya awalnya dikenal dengan nama Pucok Krueng Teunom, jauh sebelum wilayah ini berdiri menjadi kecamatan Pasie Raya.

 Ceuraceu Eumbon begitu memikat, hingga Pj Gubernur Aceh, Safrizal, bersama istri dan rombongannya beberapa tahun lalu, tak kalah penasaran untuk menyaksikan langsung potensi wisata yang sayang untuk dilewatkan ini.

Rute dimulai dari Pasar Teunom, kemudian kendaraan melaju sekitar 40 menit hingga mencapai Alue Jang, pintu masuk menuju petualangan sungai. 

Dari tepian sungai yang teduh itu, pengunjung menaiki speedboat kecil, yang siap membawa mereka menembus ketenangan Krueng Teunom. Satu boat dapat mengangkut delapan penumpang, dengan tarif Rp1,2 juta, lengkap dengan operator dan jaket pelampung, untuk kenyamanan dan keamanan selama perjalanan.

Berbeda dengan wisata sungai pada umumnya, perjalanan di sini bersifat dinamis.  Pengunjung bisa meminta pemandu untuk berhenti di berbagai titik menarik, terutama pantai-pantai sungai yang terbentuk alami di sepanjang jalur. 

Di sepanjang rute sungai, wisatawan diberi keleluasaan untuk berhenti sejenak di beberapa titik yang teduh.  Pengunjung dapat berswafoto di tepi aliran yang jernih, menikmati makan siang sambil mendengar gemericik air, bahkan berenang atau menunaikan salat di area yang disediakan. 

Karena perjalanan umumnya dimulai pukul 07.00 atau 08.00 pagi, seluruh rangkaian aktivitas berlangsung dengan nyaman, tanpa rasa terburu-buru, seolah waktu bergerak lebih lambat di tengah sunyi dan damainya alam Krueng Teunom.

Tidak berhenti sampai di situ, panorama berubah semakin dramatis. Saat mata masih terpukau oleh jernihnya pantai sungai, tebing-tebing tinggi mulai menyapa dari kejauhan. 

Di sepanjang aliran sungai, dinding-dinding batu kapur raksasa menjulang seperti benteng alam yang telah berdiri sejak lama. 

Di sela-selanya, tumbuh semak-semak kecil yang memberi sentuhan hijau pada permukaan batu yang kokoh dan lembap. 

Pemandangan ini menghadirkan sensasi seolah tengah menyusuri versi tropis dari Grand Canyon di Sungai Colorado, namun dengan karakter berbeda, lebih hidup, lebih hijau, dan lebih dekat dengan napas hutan Aceh.

Berbeda dengan ngarai dalam di Colorado, tebing-tebing Ceuraceu Eumbon, memiliki karakter yang khas.

Dinding batuan kapur yang terbentuk akibat patahan geologis sejak lama, bahkan berusia ratusan tahun, menyuguhkan panorama alam yang begitu menakjubkan.

Permukaan batu yang terbelah alami, diselingi guratan hijau dari tanaman-tanaman kecil yang menempel di celah-celahnya, menciptakan panorama yang terasa akrab, namun tetap menakjubkan, seperti perpaduan antara kekuatan bumi dan kelembutan hutan tropis.

Namun semua keindahan itu bukanlah puncak perjalanan. Wisata Ceuraceu Eumbon, masih menyimpan kejutan utama berupa air terjun, yang hanya berjarak sekitar lima menit berjalan kaki dari bibir sungai. 

Setelah perjalanan total sekitar tiga jam lebih, titik ini menjadi tempat istirahat alami yang paling ideal. Sebelum tiba, suara gemuruh halus sudah terdengar, hingga akhirnya air terjun itu berdiri megah di hadapan pengunjung. 

Air Terjun Ceuraceu Eumbon, menjatuhkan air dari ketinggian lebih dari 50 meter, menghasilkan percikan lembut seperti embun yang menyelimuti kawasan sekitarnya.

Tebing yang seakan terbelah dua membuat air terjun ini tampak seperti celah rahasia yang telah dijaga alam selama ratusan tahun, menyimpan pesonanya dari mata dunia.

Pesona air terjun kian memikat, berkat sentuhan tangan-tangan yang merawatnya. Jalur setapak yang lembut, seolah mengundang pengunjung, menyusuri gemericik air, merasakan sejuknya hutan di sekeliling, sambil dengan mudah mencapai titik utama, tempat keindahan alam ini paling terasa.

Setibanya di lokasi, wisatawan bisa bersantai di tepian, menikmati makan siang, atau mandi langsung di bawah guyuran air terjun, sambil mengabadikan momen. 

Suasana yang sejuk, gemericik air yang menenangkan, rimbunnya hutan di sekeliling, menghadirkan pengalaman yang sering menjadi bagian paling berkesan.

Keunikan jalur sungai, keindahan tebing alami, dan kejutan air terjun, menjadikan Ceuraceu Eumbon, salah satu destinasi alam paling eksotis di Aceh Jaya. 

Perjalanan menuju Ceuraceu Eumbon, bukan hanya tentang mencapai sebuah air terjun, tetapi tentang merasakan kembali bagaimana alam memeluk dengan caranya yang paling lembut.

Di balik tebing kapur yang menjulang sunyi, di bawah kanopi pepohonan rimbun, dan di aliran sungai yang berkilau sambil bersahut-sahutan dengan kicauan burung, setiap pengunjung seakan memasuki dunia lain, sebuah ruang rahasia di mana jiwa bisa tenang.

Jika rindu pada petualangan yang jujur, dan keindahan yang tidak dibuat-buat, biarkan Ceuraceu Eumbon, menjadi tujuanmu berikutnya. 

Datanglah pada pagi yang cerah, luangkan waktu untuk menyusuri sungainya, dan izinkan alam Pasie Raya memperlihatkan keajaiban terbaiknya, pelan, sederhana, tetapi tak akan mudah dilupakan.

Awal yang memikat hati, kerap berakhir pada perpisahan yang berat diterima.

Perlahan, jarum jam menunjuk senja, memberi isyarat bahwa hari merayap ke sore. Meski hati masih ingin berlama-lama dalam pelukan alam Ceuraceu Eumbun, saatnya bersiap kembali.

Setiap detik yang dilalui, dari menyusuri jalur sungai hingga berdiri di bawah tirai air terjun, akan tetap tersimpan sebagai kenangan yang sulit dilepas.

Pulang dari Ceuraceu Eumbon bukan berarti perjalanan usai. Justru di titik itulah rindu mulai tumbuh. Setiap percikan air, bayang tebing, dan desir angin yang menemani sepanjang hari akan terus memanggil, mengundang untuk kembali di lain kesempatan.

Terlebih, pada tahun 2026, Aceh Jaya akan menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Aceh (PORA) XV. Momentum besar ini bukan sekadar ajang kompetisi olahraga, tetapi juga awal baru bagi tumbuhnya pariwisata daerah.

Pada ajang itulah, ribuan mata dan hati tertuju pada Aceh Jaya, kabupaten yang mekar dari Aceh Barat pada 2002, mengundang banyak orang menyusuri sungainya, mengagumi tebing alaminya yang anggun, dan menikmati keteduhan hutan Ceuraceu Eumbon dengan kelembutan tak terlupakan

Pada akhirnya, siapa pun yang pernah menjejakkan kaki di sini akan tahu, Ceuraceu Eumbon, bukan sekadar destinasi, tetapi tempat yang membuat siapa saja ingin kembali, setidaknya sekali lagi.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh

Kadisbudpar Aceh : Warga antusias datang ke Aceh Ramadhan Festival 2026

POPULARITAS.COM – Sejak dibuka pada 1 Maret 2026, kegiatan Aceh Ramadhan Festival...

Aceh Ramadhan Festival digelar 1-7 Maret 2026 di Masjid Raya Baiturrahman, catat jadwalnya
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh

Aceh Ramadhan Festival digelar 1-7 Maret 2026 di Masjid Raya Baiturrahman, catat jadwalnya

POPULARITAS.COM – Acara tahunan Aceh Ramadhan Festival tahun 2026, kembali digelar oleh...

Kunjungan turis asing ke Aceh naik 33,15 persen
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh

Kunjungan turis asing ke Aceh naik 33,15 persen

POPULARITAS.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mencatat jumlah kunjungan wisatawan...