HeadlineNews

Maroko dan membungkam pongahnya Eropa atas Afrika

Pada 1884-1885, lewat ketukan palu Konferensi Berlin, Eropa dengan pongahnya membagi-bagi Afrika. Mereka anggap benua itu sebagai tanah kosong, atau terra nullius. Namun, menaklukkan Maroko bukan hal mudah bagi penghuni benua biru itu.
Maroko dan membungkam pongahnya Eropa atas Afrika

POPULARITAS.COM – Kamis (15/12/2022) pukul 02.00 WIB, bertempat di Al Bayt Stadium, Al Khor, Qatar, babak semifinal Piala Dunia 2022, pertemukan Maroko dan Prancis. Pertandingan kedua tim, ibarat duel benua Afrika dan Eropa.

Pada 1884-1885, lewat ketukan palu Konferensi Berlin, Eropa dengan pongahnya membagi-bagi Afrika. Mereka anggap benua itu sebagai tanah kosong, atau terra nullius. Namun, menaklukkan Maroko bukan hal mudah bagi penghuni benua biru itu.

Presiden Real Jakarta Teguh Santosa optimis, pertandingan kedua tim hanya soal giliran saja tentang siapa yang akan dipulangkan kenegaranya oleh Maroko. Sebut saja, terangnya, tiga negara superpowernya sepak bola, Belgia, Portugal, dan Spanyol, sudah terlebih dahulu angkat koper, takluk atas anak-anak asuh Walid Regragui.

“Prancis hanya tinggal menunggu giliran angkat koper pagi dinihari nanti,” kata Teguh dalam perbincangannya dengan popularitas.com, Rabu (14/12/2022).

Patut kita cermati, ujar Teguh lagi, tiga negara yang dibungkam oleh Maroko, Belgia, Spanyol, dan Portugal, merupakan negeri yang dulu ikut membelah-belah Afrika.

Teguh yang juga Presiden Perhimpunan Persahabatan Indonesia Maroko itu, kembali mengulas sejarah, bahwa, hanya Maroko yang sulit ditaklukan Eropa pada masa kolonialisme.

Secara geografis, Maroko berada di persimpangan Mediterania, dan Atlantik. Negeri itu mewariskan peradaban yang kaya, dan sangat tua. Sejak didirikan Pengeran Idris di akhir abad ke-8, negara dengan populasi 30 juta jiwa, dan mayoritas islam itu, tumbuh jadi negara yang miliki pengaruh di kawasan Afrika.

 

Bahkan, sambung Teguh, pada paruh kedua abad ke-18, Maroko merupakan negara pertama yang beri pengakuan dan dukungan terhadap revolusi kemerdekaan Amerika Serikat. Jadi, saat itu, negara yang berjuluk singa atlas tersebut, sulit ditaklukkan Eropa, dan bahkan, Khilafah Utsmaniah yang pernah mengusai sepertiga dunia, tak bisa taklukan negeri itu.

Penemuan teknologi, dan era industri di Eropa, serta penemuan mesin-mesin senjata, telah membangun tradisi baru, dan lewat Perjanjian Fez pada Maret 1912, Maroko serahkan kedaulatannya dibawa proteksi Prancis. Di tahun yang sama pula, negera itu harus merelakan bagian selatan Maroko kepada Spanyol, sebab kedua negara Eropa itu main mata.

Saat Prancis angkat kaki dari utara Maroko pada 1956, dan disusul Spanyol 1976 sebagai dampak krisis di Eropa, namun era kolonialisasi itu telah meninggalkan luka yang dalam di tanah Afrika, dan juga di Maroko.

Kembali menyoal pertandingan Maroko dan Prancis, menurut Teguh, skil pemain timnas Maroko itu menyamai kepiawain pemain Eropa mengolah bola. Bahkan, tak sedikit para pemain negara itu merumpuk di klub elit benua biru itu.

Sebut saja,Yassine Boune sang penjaga mistar gawang, pria murah senyum itu bermain di Sevilla, Spanyol, begitu juga Youssef En-Nesyri, yang juga merumput di klun yang sama. Terus, pemain belakang Achraf Hakimi, lelaki itu membela Paris Saint-Germain, klub yang juga di huni mega bitang Lionel Messi, Kylian Mbappe dan Neymar.

Kapten Timnas Maroko, Roman Saiss, Ia merumput di Besiktas Turki, dan Sofyan Amrabat pemain tengah berkepala plontos di Fiorentina, lalu Hakim Ziyech, penjaga lini tengah bermain untuk Chelsea.

Kemudian, Selim Amallah, di Standard Liege, Belgia, dan Abde Ezzalzolui yang membela klub Ossasuna di La Liga Spanyol.

Nah, jika menilik skuad Maroko yang nanti pagi dinihari nanti hadapi Prancis di semifinal, jelas bagi mereka itu bukan hal baru, sebab rata-rata para pemain negeri itu bermain dan merumput di klub papan atas Eropa. “Negara Maroko, dan pemainnya itu bukan kaleng-kaleng. Hanya saja jarang di perbicangkan,” sebut Teguh.

Jadi, imigran Maroko yang meninggalkan negaranya, dan saat ini bergabung dengan timnas, membawa kisah kejayaan nenek moyang mereka terdahulu. Tidak ada rasa malu saat di rantau Eropa, karena kesadaran bahwa, mereka terlebih dahulu mengenal peradaban daripada Eropa.

Faktor penting, dan ini moral force atau kekuatan moral bagi pemain Timnas Maroko duel dengan Prancis, yakni hadirnya orang-orang dekat mereka, yakni keluarga, ibu, orangtua, saudara, dan kerabatnya. Jadi, saya optimis, Prancis hanya menunggu giliran dipulangkan oleh Maroko, demikian Teguh Santosa.

Shares: