POPULARITAS.COM – Katahati Institute bekerja sama dengan Kedutaan Besar Kanada untuk Indonesia dan Timor Leste melalui Canada Fund for Local Initiatives (CFLI) menyelenggarakan kegiatan Uroe Peukan 2025 dengan tema “Alam Menenun Karya, Kita Menjaga Makna”.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari (5-6 november 2025) di UMKM Center/Expo Bank Aceh, dibuka langsung oleh Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh, Teuku Adi Darma yang mewakili Gubernur Aceh.
Teuku Adi Darma menyampaikan apresiasinya terhadap kegiataan ini sebagai bentuk nyata pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan juga peningkatan ekonomi komunitas dan masyarakat yang hidup di sekitar hutan secara berkelanjutan.
” Pemerintah Aceh berterima kasih kepada Kedutaan Besar Kanada melalui Canada Fund for Local Initiatives (CFLI) atas dukungan dan kepercayaan global terhadap potensi komunitas kita dalam mewujudkan ekonomi yang berkeadilan gender dan berkelanjutan,” ucap kadis Disperindag pada pembukaan Market Day yang berfokus pada hasil hutan bukan kayu (HHBK) dan pemanfaatan limbah organik.
Kegiatan Uroe Peukan atau Market Day merupakan wadah inspiratif yang fokus pada potensi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dan produk ramah lingkungan yang dihasilkan masyarakat sekitar Kawasan Ekosistem Leuser yang selama ini menjadi binaan Katahati Institute.
Kegiatan ini juga menghadirkan berbagai UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) binaan Katahati Institute serta lembaga mitra lain yang berfokus pada ekonomi hijau, kesetaraan gender, dan pemberdayaan komunitas lokal.
Ada beberapa kegiatan yang dilaksanakan pada hari pertama nyakni, ngobrol santai berjudul “Leuser: Bukan Hanya Satwa, Tapi HHBK dan Limbah Organik yang Bernilai (Jalan Menuju Ekonomi Berkelanjutan)” dengan narasumber Monalisa Akademisi Fakultas Pertanian USK, Inayati Rahmatillah dari Perempuan Gayo Sejahtera dan Muhammad Syam (Ama Tris)Tokoh Adat Samar Kilang, yang dipandu langsung Risman Rachman.
Helmi Pratama selaku ketua panitia mengatakan, Market Day HHBK bukan sekadar transaksi ekonomi, melainkan perayaan atas ekonomi berkelanjutan, kedaulatan pangan, dan advokasi lingkungan hidup.
“Setiap produk HHBK yang dijual adalah bukti masyarakat dapat berdaya secara ekonomi sambil menjaga kelestarian hutan. Dengan membeli produk dari mereka, kita turut menginvestasikan harapan bagi keluarga-keluarga di pedalaman Aceh,” jelas Helmi.
Kawasan Leuser tidak hanya dikenal sebagai habitat satwa langka, tetapi juga menyimpan nilai ekonomi dan sosial yang penting bagi masyarakat sekitar.
Selama ini, orang mengenal Leuser sebagai rumah bagi satwa liar seperti harimau sumatra, gajah, orangutan dan badak, tetapi Ia juga menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada hasil hutan bukan kayu dan pengelolaan limbah organik.
Dari sinilah kita belajar bahwa menjaga alam berarti juga menjaga keberlanjutan hidup manusia.











Leave a comment