POPULARITAS.COM – Sebanyak 2.101 bisnis makanan dan minuman (food and beverage/F&B) di Singapura tutup sepanjang Januari hingga Juli 2026. Jumlah tersebut meningkat 25,1% secara tahunan di tengah kenaikan biaya operasional dan tingginya harga sewa.
Data Accounting and Corporate Regulatory Authority (ACRA) menunjukkan, sektor F&B Singapura menghadapi tekanan biaya yang semakin besar. Sejumlah pelaku usaha kuliner bahkan memilih menghentikan operasional meski sektor pariwisata negara tersebut telah kembali pulih seusai pandemi Covid-19.
Salah satu bisnis yang baru-baru ini tutup adalah kafe dan bar Lou Shang. Usaha tersebut menghentikan operasionalnya pada 14 Juli 2026.
Sejumlah bisnis lain yang juga mengumumkan penutupan antara lain toko gelato lokal Tom’s Palette, kafe asal Swedia Fika, dan toko patiseri Pantler yang dikenal di kalangan pencinta kuliner.
Penutupan sejumlah bisnis tersebut menggambarkan tantangan yang dihadapi sektor F&B di Singapura. Negara kota tersebut sebelumnya masuk peringkat kedua sebagai negara terkaya di dunia berdasarkan produk domestik bruto (PDB) per kapita pada 2025, di bawah Swiss, menurut The Economist.
Co-founder Pantler, Matthias Phua, mengatakan bisnisnya menghadapi tantangan yang sama dengan banyak pelaku usaha F&B independen, termasuk kenaikan biaya operasional dan tingginya harga sewa.
Pantler dikenal dengan produk hidangan penutup bergaya Jepang-Prancis. Phua menyampaikan kondisi tersebut seperti dikutip The Straits Times.
Selain biaya operasional, kenaikan harga sewa tempat usaha juga menjadi tekanan bagi pelaku bisnis kuliner. Harga sewa komersial di kawasan Kampong Glam, yang dikenal sebagai salah satu pusat kuliner dan kedai kopi, meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir.
Sejumlah penyewa di Haji Lane melaporkan harga sewa meningkat dari sekitar S$ 3.000 (US$ 2.340) menjadi hampir S$ 10.000 per bulan, menurut Channel News Asia.
Meski sejumlah bisnis F&B tutup, pelaku usaha baru tetap bermunculan di Singapura.
Data ACRA menunjukkan sebanyak 2.594 bisnis F&B baru terdaftar dalam tujuh bulan pertama 2026. Artinya, jumlah bisnis baru yang masuk ke sektor tersebut masih lebih tinggi dibandingkan bisnis yang tutup pada periode yang sama.
Sejumlah bisnis yang baru beroperasi antara lain restoran hamburger steak asal Jepang Hikiniku To Come dan jaringan restoran yakitori Torikizoku.
Selain itu, sejumlah restoran Korea juga membuka usaha di Singapura, seperti Jiho Samgyetang SBCD dan Bibim Deli.
Secara tahunan, sebanyak 3.148 bisnis makanan dan minuman berhenti beroperasi di Singapura pada 2025. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan 3.047 bisnis yang tutup pada 2024.
Kondisi tersebut menunjukkan persaingan di sektor F&B Singapura tetap ketat. Di satu sisi, kenaikan biaya operasional dan harga sewa menekan bisnis yang sudah berjalan.
Di sisi lain, minat pelaku usaha baru untuk memasuki sektor kuliner masih cukup tinggi.











Leave a comment