Asa Azril miliki teknologi untuk kacang Manggeng

TEUKU Azril Al Azmi, pria 30 tahun itu terbilang sukses di usia muda. Usaha yang Ia tekuni dalam bisnis penjualan kacang, saat ini raup cuan hingga puluhan juta setiap bulannya. Merintisnya sejak 2015 silam, kini lelaki yang berasal dari Manggeng, Aceh Barat Daya (Abdya) itu berhasil ekspasi pasar hingga ke beberapa daerah di provinsi Ujung barat Sumatra tersebut.

Menamai merek jualannya dengan nama Kacang Manggeng, Azril karib lelaki itu disapa, setiap hari dirinya menghabiskan tidak kurang 100 kilogram kacang tanah untuk di olah, dan dikemas, serta di distribusikan di sejumlah daerah.

“Bahan baku utama kacang berasal dari kampung saya sendiri, yakni kecamatan Manggeng di Aceh Barat Daya,” terangnnya.

Menamai merek usahanya Kacang Manggeng, tidak terlepas dari tempat asalnya, dan lagipula menurutnya nama itu sangat komersil, dan mudah diingat orang di Aceh. “Saat mengawali usaha ini, ide awalnya untuk bantu orang tua saja,” katanya.

Dijumpai popularitas.com beberapa waktu lalu, Azril mengisahkan bahwa, saat kuliah, orangtuanya kerap mengirimkan kacang kepada dirinya. Karena jumlahnya banyak, dia menawarkan kepada kawan-kawannya untuk membeli. Nah, ternyata banyak yang minat dan suka.

Usai menamatkan pendidikan di kampus, Azril kemudian berpikir untuk menekuni usaha tersebut, dan Alhamdulillah, respon masyarakat terhadap keberadaan kacang manggeng di terima. Berbekal itu, dia mulai fokus dengan berbagai inovasi untuk mengembangkan usaha bisnis kacang terebut.

Pada 2017, sebab permintaan kacang manggeng terus meninggkat, Ia menambah produksinya, dari yang awalnya 10 kilogram, saat ini setiap hari dirinya telah memproduksi sebanyak 500 kilogram.

Inovasi dilakukannya untuk menambah cita rasa. Kacang Manggeng miliki Azril di olah dengan cara di gongseng atau sangrai, sehingga mutu dan cita rasa tetap terjaga. Distribusi pemasaran yang awalnya hanya fokus di Banda Aceh, dan Aceh Besar, kini dirinya telah meluaskan pasar hingga ke Barat Selatan Aceh, dan bahkan hingga ke kawasan timur daerah itu.

“Soal cita rasa, kacang manggeng ini sudah terkenal gurih dan nikmat,” kata Azril seraya promosi.

Bagi dirinya, cita rasa adalah nomor satu, untuk itu, dalam proses produksi penyortiran bahan baku menjadi penting dan harus selektif terhadap kacang yang memiliki kualitas bagus dan nomor satu.

Dirinya mengaku, keterbatasan alat mekanisasi dan teknologi di pabrik tempat Ia berusaha, proses produksi kacang manggeng masih dilakukan dengan cara-cara tradisional, yakni menggunakan pasir untuk menggongseng.

Azril di depan pabrik kacang manggeng miliknya.

Dengan omset yang saat ini telah mencapai puluhan juta setiap bulannya, Azril merekrut delapan orang untuk bekerja, terutama bagian sortir, proses produksi, dan juga pengemasan. “Kebanyak ibu-ibu yang bekerjasa di tempat saya,” ujarnya.

Ia punya harapan besar kedepan, dapat memproduksi kacang manggeng dengan menggunakan teknologi modern, mulai dari penyortiran, penjemuran, penambahan cita rasa, dan bahkan hingga pengemasan. “Ini masih cita-cita dan mimpi, harapannya hal tersebut dapat terwujud,’ terangnnya.

Dirinya juga mengharapkan kepada pemerintah, untuk ikut campur tangan dalam pembinaan para petani kacang, sebab proses produksi kacang manggeng sangat di pengaruhi rantai pasok kacang sebagai bahan baku utama.

Dia mengakui, peran pemerintah sangat besar terhadap dirinya dalam mengawali usaha kacang manggeng, terutama Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh. Dari instansi itu dirinya banyak mendapatkan ilmu pengetahuan lewat pelatihan-pelatihan, dan juga cara pengemasan produk yang baik.

Sejak 2022, usaha kacang manggeng miliknya telah ditetapkan sebagai bisnis binaan dari Bank Indonesia (BI) Aceh, dan hal itu membuat dirinya semakin bersemangat melahirkan karya dan inovasi, serta meluaskan pasar hingga ke tempat yang belum ada kacang manggeng.

Dalam memasarkan kacang manggeng, Azril menyebutkan dirinya berfokus pada penjualan retail, yakni dititipkan di Warung kopi, kios, serta toko-toko. Cara seperti itu menurutnya lebih efektif dibandingkan dengan jualan online. “Dulu sempat jualan online, tapi hal itu tidak berlangsung lama,” tandasnya.

Kendala terbesar yang Ia hadapi saat ini adalah teknologi proses produksi kacang yang memiliki standar, serta keberadan bahan baku dari petani. Beberapa kali Ia mengaku sempat kewalahan ketika permintaan kacang tinggi, namun stok bahan baku tidak tersedia dalam kapasitas besar. Dalam situasi seperti itu, terpaksa Ia kadang menghentikan produksi. “Ya mau bagaimana, tidak ada bahan baku,” sebutnya.

Kacang Manggeng milik Azril sendiri, mudah dijumpai di warung kopi dan kios di Banda Aceh, dengan harga Rp5 ribu rupiah kemasan cup, juga tersedia dalam kemasan plastik dengan berbagai ukuran.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.