Home News Bupati Abdya Sambangi Rumah Warga dan Sahur Bersama
News

Bupati Abdya Sambangi Rumah Warga dan Sahur Bersama

Share
Janji Safar saat sahur bersama warga miskin di Abdya
Bupati Abdya Safaruddin, sahur bersama keluarga Amran di rumah sederhana berdinding pelepah rumbia dan beralas tanah di Gampong Padang Kawa, Kecamatan Tangan-Tangan, Selasa (10/3/2026) dini hari. Dok : Prokopim Abdya
Share

POPULARITAS.COM – Dini hari di Gampong Padang Kawa, Kecamatan Tangan-Tangan, Aceh Barat Daya (Abdya) masih sunyi.

Di tengah hembusan angin tipis dini hari Ramadan, sebuah rombongan kecil berhenti di depan rumah sederhana berdinding pelepah rumbia dengan lantai tanah.

Waktu menunjukkan sekitar pukul 03.00 WIB, Selasa (10/3/2026).

Di rumah kecil itulah Amran (40) menghabiskan hari-harinya bersama keluarga. Ia tak pernah menyangka, tempat sederhana itu suatu dini hari akan disambangi tamu istimewa, Bupati Abdya, Safaruddin.

Kunjungan dini hari itu bukan sekadar silaturahmi. Safaruddin datang untuk memastikan langsung laporan yang diterimanya mengenai kondisi rumah Amran yang disebut masih beralas tanah.

Namun, suasana yang awalnya penuh rasa canggung, perlahan berubah hangat ketika waktu sahur tiba.

Safaruddin berdiri dan berjalan perlahan menuju bagian belakang rumah. Ia ingin melihat bagaimana keluarga Amran menyiapkan sahur mereka.

Di dapur kecil itu, beberapa hidangan sahur tertata di atas meja papan kayu sederhana, tertutup tudung saji berwarna merah.

Safaruddin lalu mengangkat penutup makanan tersebut. Seketika pandangannya tertuju pada sebuah piring kecil berwarna putih berisi sambal udang rebon alias udang sabu.

Ia tersenyum, lalu bertanya dalam bahasa Aceh.

“Nyoe peu kak nyoe, sambai peu nyoe? (Ini apa kak, sambal apa ini?),” tanya Safaruddin.

Istri Amran yang berdiri di dekatnya menjawab pelan.

“(Sambai udang) Sabe, Pak,” jawabnya.

Mendengar jawaban itu, wajah Safaruddin langsung berubah cerah.

“Maoi, nyoe galak loen. Jeut loen pajoh kak nyoe? (Wah, ini kesukaan saya. Boleh saya makan yang ini, kak?),” katanya.

Istri Amran tampak terharu. Ia tidak menyangka sambal sederhana yang mereka siapkan untuk sahur justru menjadi makanan yang diminta oleh seorang bupati.

“Jeut, Pak. (Boleh, Pak),” jawabnya terbata-bata.

Tak lama kemudian, Safaruddin meminta rombongannya menurunkan bekal sahur yang sebelumnya telah disiapkan di mobil.

Beberapa hidangan makanan, air minum, dan buah-buahan dibawa masuk ke rumah sederhana itu.

Namun Safaruddin tidak memilih makan sendiri. Ia justru mengajak keluarga Amran untuk menikmati semuanya bersama.

Di atas lantai tanah yang dingin, mereka duduk melingkar.

Nasi hangat, sambal udang rebon, dan makanan yang dibawa rombongan menjadi santapan sahur bersama.

Di rumah kecil berdinding rumbia itu, suasana sahur terasa hangat dan penuh kebersamaan.

Sesekali Safaruddin tersenyum sambil menikmati sambal udang rebon yang sejak tadi membuatnya tertarik.

Bagi Amran, sahur dini hari itu menjadi momen yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Rumah kecil yang biasanya sunyi kini dipenuhi cerita, tawa kecil, dan rasa haru.

“Beginilah kondisi rumah kami, Pak. Kami merasa tidak enak menjamu bapak dengan keadaan seperti ini,” ucap Amran sambil menyeka air mata di pipinya.

Namun di rumah sederhana itu pula, sebuah harapan baru lahir.

Di tengah suasana sahur yang sederhana itu, Safaruddin kemudian menyampaikan pesannya kepada keluarga Amran. Dengan nada tenang ia berbicara dalam bahasa Aceh.

“Insya Allah, peu yang selama nyoe kak pajoh, nyoe ka lon pajoh. Dan peu yang loen pajoh di rumoh, loen ba keuno. (Insya Allah, apa yang selama ini kakak makan, hari ini sudah saya makan juga. Dan apa yang saya makan di pendopo, saya bawa ke sini),” ujar Safaruddin.

Ia lalu melanjutkan dengan janji untuk membantu, memperbaiki rumah tersebut agar keluarga Amran bisa tinggal lebih layak.

Insya Allah, mulai singoh beungoh, ntuk meunyo na pak keuchik, loen hoi ju tukang, loen yu hitung ju, kiban cara, bak uro raya nyo, kakak, abang dan ngon anuek-aneuk, ka bisa tidur dengan nyamanlah, ya. (Insya Allah mulai besok saya panggil Pak Keuchik. Saya juga akan panggil tukang untuk menghitung. Bagaimana caranya, saya ingin, pada hari raya nanti, kakak, abang, dan anak-anak, sudah bisa tidur dengan nyaman di rumah yang lebih layak, ya),” katanya.

Di akhir pesannya, Safaruddin juga menyampaikan satu harapan sederhana kepada keluarga tersebut.

Dan saboh loen harap bak awak droene, sembayang. (Dan satu yang saya harap dari kita semua, jangan lupa shalat),” pintanya.

Ucapan itu membuat suasana di rumah kecil berdinding rumbia itu seketika diliputi haru.

Amran dan istrinya hanya tertunduk.

Sesekali mereka menyeka air mata yang jatuh perlahan, seolah tak menyangka di lantai tanah rumah sederhana itu, seorang bupati duduk bersahur bersama mereka, mendengar kisah hidup mereka, sekaligus menyampaikan harapan tentang tempat tinggal yang lebih layak.

Dini hari Ramadan itu terasa begitu berbeda bagi keluarga kecil tersebut.

Sahur yang biasanya mereka jalani dengan sederhana, pagi itu berubah menjadi momen penuh makna, tentang kepedulian, tentang harapan, dan tentang janji seorang pemimpin yang datang langsung menyapa warganya.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
Marzuki Ali Basyah luncurkan buku ‘Polda Aceh Meutuah’
News

Marzuki Ali Basyah luncurkan buku ‘Polda Aceh Meutuah’

POPULARITAS.COM – Irjen Pol Marzuki Ali Basyah, rabu (3/6/2026), resmi luncurkan bukunya....

News

Gerindra Pidie Jaya : Pergantian pimpinan BGN perkuat program MBG

POPULARITAS.COM – Politikus partai Gerindra di Pidie Jaya, Fakhrurrazi mendukung penuh kebijakan...

InternasionalNews

Krisis Demografi Makin Nyata, Jepang Kehilangan 3 Juta Penduduk dalam 5 Tahun

POPULARITAS.COM – Jepang tengah menghadapi krisis demografi yang kian mengkhawatirkan. Dalam lima...

News

Dasco Mengaku Baru Dengar Kejagung Geledah Kantor BGN

POPULARITAS.COM – Wakil Ketua DPR sekaligus Ketua Harian Partai Gerindra, Sufmi Dasco...