POPULARITAS.COM – Udara pagi terasa sejuk, menyentuh kulit dengan lembut. Dari kejauhan, suara gemericik air terdengar pelan namun pasti suara alami yang menenangkan, seperti bisikan lembut dari nirwana.
Jalan setapak yang menanjak lembut, seperti mengantar kita ke pelukan alam yang masih perawan.
Suara air dan hewan liar di udara pegunungan menyambut setiap pengunjung yang datang ke Pemandian Putro Aloeh, salah satu destinasi wisata alam unggulan di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Terletak di Gampong Alue Seulaseh, Kecamatan Jeumpa, tempat ini menjadi magnet wisatawan lokal yang mencari ketenangan di tengah kesibukan.
Itulah Pemandian Putro Aloeh tempat di mana legenda, alam, dan kehidupan sehari-hari masyarakat berpadu dalam harmoni.
Nama Putro Aloeh, katanya, berasal dari kisah lama tentang seorang putri yang sangat mencintai alam. Putri itu sering mandi di aliran sungai yang jernih, hingga masyarakat menamai tempat ini sebagai pemandian sang putri di hulu sungai Putro Aloeh.
Bagi yang pertama kali berkunjung ke sini, suasana alam yang begitu asri membuat pengunjung betah berlama-lama. Seolah waktu berhenti, dan rasanya tak ingin pulang.
Pelancong tak hanya dimanjakan dengan air nan jernih, tapi juga oleh hawa dingin, dan kolam-kolam alami diantara batu-batu besar yang tertata oleh alam, memberikan ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Setiap tempat indah biasanya memiliki cerita di baliknya, dan termasuk Putro Aloeh.
Warga setempat percaya bahwa dimasa lampau, kawasan ini adalah tempat mandi seorang putri kerajaan yang dikenal dengan nama Putro Aloeh atau dalam bahasa Aceh berarti “Putri dari Hulu Sungai.”
“Sejak dulu, nenek dan orang tua kami, bercerita tentang seorang putri cantik yang tinggal di hulu sungai ini. Air di sini jernih, disebut sebut berkat kebaikan hati sang putri,” ujar Syarifuddin, salah seorang warga Alue Seulaseh kepada Popularitas.com.
Namun, Syarifuddin tidak mengetahui pasti apakah kisah itu benar atau tidak. Karena, tidak ada bukti tertulis tentang keberadaan sang putri, tapi legenda itu hidup dalam ingatan kolektif masyarakat.
Bagi sebagian masyarakat Alue Seulaseh, kisah Putro Aloeh bukan sekadar dongeng. Ia adalah simbol tentang kesucian, kesejukan, dan keindahan alam yang harus dijaga.
Sungai ini mengalir dari pegunungan di utara Abdya, membawa air yang begitu jernih hingga dasar sungai terlihat jelas. Batu-batu besar yang tersebar di sepanjang aliran menambah kesan alami seolah tempat ini belum pernah disentuh oleh waktu.
Di sisi tepi sungai, beberapa pondok kayu berdiri sederhana. Di sanalah para keluarga biasanya duduk, membuka bekal nasi dan ikan bakar, ditambah sambal terasi dengan aroma yang khas sambil berbincang santai.
“Anak-anak betah bermain di sini. Kalau sudah mandi di sungai Putro Aloeh, rasanya semua capek dan penat, seketika hilang,” ujar Nanda dengan bibir yang bergetar menahan kedinginan air sungai Alue Seulaseh tersebut.
Dengan banyaknya pengunjung yang datang, kini kawasan ini mulai tertata dan indah.
Tak jauh dari pemandian utama, ada area yang dikenal dengan nama Bukit Hijau Putro Aloeh.
Di Bukit Hijau, pengelola menyediakan kolam pemandian dengan kedalaman berbeda, ada kolam anak-anak, kolam remaja, hingga kolam dewasa. Fasilitasnya sederhana, bersih, dan suasana alami tetap dipertahankan.

Akses menuju kolam Pemandian Putro Aloeh sangat mudah.
Dari pusat Kota Blangpidie, perjalanan menuju Pemandian Putro Aloeh tidaklah jauh. Hanya sekitar sepuluh menit dengan kendaraan roda dua atau roda empat, wisatawan sudah bisa merasakan udara segar dan suasana pedesaan yang mulai menyapa sejak memasuki kawasan Gampong Alue Seulaseh.
Akses jalan yang sudah diaspal membuat perjalanan terasa nyaman, dikelilingi pemandangan hijau khas pedesaan.
Pengunjung hanya perlu membayar tiket masuk sebesar Rp 5.000 per orang, untuk biaya kebersihan. Harga yang sangat terjangkau untuk sebuah pengalaman wisata alam yang otentik.
Bagi yang ingin lebih lama menikmati suasana, tersedia warung-warung kecil yang menjual mie Aceh, kopi hitam khas Abdya, dan jajanan tradisional seperti timphan dan kue bhoi.
Banyak pengunjung datang di akhir pekan atau libur panjang. Namun, bagi pencinta ketenangan, waktu terbaik untuk berkunjung adalah pagi hari di hari kerja ketika suasana masih sepi, udara segar, dan kabut belum sepenuhnya terangkat dari permukaan sungai.
Pemandian Putro Aloeh bukan sekadar tempat untuk berlibur. Ini adalah ruang bagi siapa pun yang ingin kembali pada kesederhanaan.
Tempat untuk melepas penat, menenangkan pikiran, dan merasakan kembali keajaiban kecil yang sering kita lupakan, udara segar, air jernih, tawa anak-anak, dan keramahan warga desa.
Di tengah geliat pariwisata modern yang serba buatan, Putro Aloeh berdiri sebagai pengingat bahwa keindahan sejati tidak perlu dibuat-buat.
Ia tumbuh dari tanah, mengalir dari pegunungan, dan hidup dalam cerita yang diwariskan turun-temurun.
Jika suatu hari kamu penat dengan hiruk-pikuk kota, datanglah ke sini. Duduklah di tepi sungai, celupkan kaki ke air yang dingin, dan dengarkan suara alam berbicara.











Leave a comment