Home Feature Kisah pemuda Lhokseumawe sukses raih dua gelar magister
FeatureHeadline

Kisah pemuda Lhokseumawe sukses raih dua gelar magister

Share
Kisah pemuda Lhokseumawe sukses raih dua gelar magister
Auli Rizky saat menyampaikan kesan dan pesannya mewakili wisudawan UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Senin 22 Juni 2026. FOTO : HO popularitas.com
Share

POPULARITAS.COM – Meski berasal dari kampung, semangat menuntut ilmu terpatri kuat di hatinya. Berbekal itu, Aulia Rizki merantau ke Banda Aceh. Lahir di Gampong Tumpok Teungoh, Lhokseumawe, tak membuat ia merasa minder. Praktis, tak kurang dari 4 tahun, gelar S-1 sukses disandangnya.

Marasa tak puas bermodal ijazah S-1, Aulia Rizki bertekad lanjut S-2. Peluang itu pun didapatkannya lewat program Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) LPDP -Kementrian Agama. Jalur tersebut, membawanya mengikuti program pendidikan magister melalui skema double degree antara UIN Ar-Raniry dan Universiti Utara Malaysia (UUM).

Hari itu, Selasa 22 Juni 2026, Auli Rizki tampil diatas panggung. Di depan ribuan wisudawan yang penuhi Auditorium Prof Ali Hasjmy UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dia didapuk memberikan kesan dan pesannya mewakili para lulusan dari kampus tersebut.

Mengenakan baju toga khas wisudawan, Auli Rizki mengawali pidatonya. Tampak dia bgitu tenang menyampaikan kesan dan pesannya dihadapan ribuan wisudawan dan para orang tua yang hadir di gedung tersebut.

” Kami hanyalah anak-anak biasa, berasal dari desa yang mungkin tidak ada dalam peta, namun Allah menitipkan kesempatan yang tidak biasa,” ujarnya.

Kalimat tersebut bukan sekadar rangkaian kata dalam pidato wisuda. Bagi Rizki, itu adalah cerminan perjalanan hidup yang ia jalani selama bertahun-tahun.

Perjalanan akademiknya dimulai di Program Studi Pendidikan Bahasa Arab UIN Ar-Raniry. Selama kuliah, ia dikenal aktif dan konsisten menjaga prestasi akademik. Hasilnya, Rizki menyelesaikan pendidikan sarjana dalam waktu tiga setengah tahun dengan IPK 3,87 dan dinobatkan sebagai lulusan terbaik.

Bagi sebagian mahasiswa, kelulusan sarjana menjadi akhir dari perjuangan panjang. Namun bagi Rizki, itu justru menjadi awal dari perjalanan yang lebih menantang.

Menempuh studi di dua perguruan tinggi sekaligus bukan perkara mudah. Selain harus beradaptasi dengan lingkungan akademik yang berbeda, Rizki juga dituntut menyelesaikan dua tesis sebagai syarat memperoleh dua gelar.

Tantangan itu dijalaninya dengan disiplin dan ketekunan. Bersama lima mahasiswa lainnya, ia berhasil menuntaskan program tersebut hingga meraih dua gelar magister dari dua negara.

Di tengah kesibukan kuliah dan penelitian, Rizki tetap produktif menghasilkan karya ilmiah. Selama masa studi, ia mencatat lebih dari 20 publikasi ilmiah, termasuk tiga artikel yang terbit pada jurnal internasional bereputasi Scopus Q1.

Prestasi tersebut turut mengantarkannya meraih IPK 3,93 dan menjadi salah satu mahasiswa dengan capaian akademik tertinggi di School of Education Universiti Utara Malaysia.

Berbagai penghargaan juga menghiasi perjalanan akademiknya. Ia pernah meraih predikat Best Presenter pada seminar internasional, menjadi Juara I Presentasi Hasil Penelitian UIN Ar-Raniry, hingga dipercaya menjadi pemateri dalam sejumlah konferensi nasional dan internasional.

Meski demikian, Rizki memilih tidak banyak berbicara tentang deretan prestasinya saat berdiri di podium wisuda. Ia justru menyoroti pentingnya semangat belajar dan keberanian mengambil peluang.

Menurutnya, latar belakang keluarga maupun tempat asal tidak seharusnya menjadi penghalang untuk meraih cita-cita.

“Jika enam anak dari keluarga sederhana dapat memperoleh kesempatan tersebut, maka tidak ada alasan bagi siapa pun untuk membatasi mimpinya sendiri. Jika kami bisa, kalian juga, bahkan bisa lebih baik,” katanya.

Bagi Rizki, pendidikan adalah investasi yang nilainya tidak akan pernah berkurang. Gelar mungkin menjadi penanda keberhasilan akademik, tetapi ilmu pengetahuan, karakter, dan pengalaman adalah bekal yang sesungguhnya untuk menghadapi masa depan.

Kisah Aulia Rizki menjadi gambaran bahwa kesempatan dapat datang kepada siapa saja yang bersedia berusaha. Dari sebuah desa di Lhokseumawe, ia membuktikan bahwa mimpi dapat menembus batas geografis, ekonomi, bahkan negara.

Perjalanannya juga menjadi pesan bagi generasi muda bahwa jalan menuju keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh tempat seseorang dilahirkan, melainkan oleh keberanian untuk terus belajar dan melangkah ketika kesempatan datang.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
Selat Hormuz: Keajaiban Geologi yang Menopang Energi Dunia
HeadlineInternasional

Iran Kembali Tutup Selat Hormuz

POPULARITAS.COM –  Komando Militer Gabungan Iran menyatakan Selat Hormuz kembali ditutup untuk...

HeadlineNews

5 Poin Krusial Damai AS-Iran, Ada Kesepakatan Nuklir Untungkan Israel

POPULARITAS.COM – Pada 15 Juni 2026, Amerika dan Iran mengumumkan sebuah kerangka...

Anggaran jumbo di Dinas PU Pidie jalan ditempat
Headline

Anggaran jumbo di Dinas PU Pidie jalan ditempat

POPULARITAS.COM – Dinas PU Pidie, di tahun anggaran 2026, miliki pagu Rp91...

HeadlineSepakbola

Drama adu penalti, PSG Kampiun Liga Champions 2025/2026

POPULARITAS.COM – Laga final Liga Champions 2025/2026, berlangsung dramatis. Pertandingan yang digelar...