POPULARITAS.COM – Iran saat ini dalam keadaan kuat dan stabil. Opsi menghentikan perang adalah pilihan terbaik. Dunia internasional juga tahu, bahwa Amerika Serikat tak mampu melawan, serta hanya menghancurkan fasilitas publik, seperti sekolah dan rumah sakit.
Hal tersebut disampaikan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, dalam pidatonya di acara Sidang Umum ke-31 Asosiasi Islam Perhimpunan Medis Iran, di Teheran, Jumat 21 Agustus 2026, dikutip dari Xinhua.
“Lebih baik kita mengakhiri perang ini sekarang, saat kita berada dalam posisi yang kuat dan bermartabat, dan seluruh dunia mengakui kemenangan kita serta menegaskan bahwa AS, yang melanggar semua peraturan (internasional), telah menyerang sekolah, rumah sakit serta infrastruktur kita, dan dibenci di seluruh dunia,” katanya.
Pezeshkian menggambarkan nota kesepahaman (MoU) perdamaian yang ditandatangani antara Iran dan AS pada Juni sebagai sesuatu yang “terhormat dan berharga”, seraya menekankan bahwa tidak ada satu pun ketentuan dalam MoU tersebut yang mengisyaratkan penyerahan diri dan bahwa semua kewajiban menjadi tanggung jawab pihak lain.
Dia mengatakan bahwa apa yang dicapai dalam perundingan dengan AS merupakan “pencapaian besar”, yang disetujui dengan semangat “persatuan dan solidaritas” di Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) Iran, dan seluruh anggota dewan tersebut membelanya dengan tegas.
Namun, sang presiden menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah jika diserang kembali, seraya mengatakan, “Kita tidak akan tunduk pada tindakan intimidasi dalam keadaan apa pun, dan tidak ada keraguan mengenai hal itu.”
“Kita akan melawan mereka hingga napas terakhir dan akan memberikan respons yang menghancurkan,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa para komandan militer dan angkatan bersenjata Iran “dengan sepenuh hati dan tanpa pamrih” telah siap sepenuhnya untuk membela negara.
Pada 18 Juni, Iran dan AS menandatangani MoU tentang penghentian perang mereka di semua front di Timur Tengah. Berdasarkan MoU tersebut, kedua negara dijadwalkan mengadakan perundingan dalam jangka waktu 60 hari, yang berakhir pada Senin (17/8), untuk mencapai kesepakatan final. Namun, nasib perundingan tersebut masih belum jelas menyusul meningkatnya ketegangan antara kedua negara bulan lalu.










Leave a comment