Membaca Kegelisahan Surya Paloh

POPULARITAS.COM – Ketua Umum Partai Nasdem, sempat mewacanakan duet Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo sebagai capres 2024 mendatang. Usul itu sebagai bentuk kegelisahan bos Metro TV itu terkait dengan kondisi perpecahan bangsa yang sangat kentara.

Menurut Surya Paloh, duet Anies-Ganjar adalah opsi terbaik saat ini, sebab polarisasi anak bangsa saat ini telah terbelah dan nyaris timbulkan ancaman disintegrasi.

Pernyataan serupa disampaikan oleh Surya Paloh, dalam kunjungannya ke Aceh, Senin (27/6/2022), saat peresmian Kantor DPW Partai Nasdem di Banda Aceh. Secara lugas pria tambun berdarah Aceh itu menegaskan sikapnya bahwa, lebih baik Pemilu 2024 tidak perlu dilakukan, jika muaranya adalah perpecahan bangsa ini.

Kegelisahan Surya Paloh tentu peringatan bagi kita semua, betapa tidak, sejak Pilpres 2019, anak bangsa di nusantara ini terpecah dan terbelah dalam dua kubu besar. Istilah cebong, kampret, kadrun, dan narasi-narasi perpecahan lainnya kerap terlontar di media sosial, dan bahkan dalam prakteknya hal itu tampak sangat nyata.

Sebagai contoh, sesuatu hal yang dulunya bukan menjadi persoalan, janggutnya misalnya, kemudian telah diidentikkan menjadi milik kelompok tertentu, dan label kadrun dilekatkan. Celana cingkrang, yang pernah sangat lama dikenakan oleh banyak pria di Indonesia, kini dilakabkan pada kelompok tertentu.

Polarisasi tidak hanya simbol, tapi juga telah masuk ke rumah tangga, perusahaan, dan ranah institusi negara. Berapa banyak kemudian timbul konflik antara teman, dan juga keluarga akibat residu politik 2019, dan hingga 2024 eskalasinya bukan turun, bahkan terus meningkat.

Residu Pilpres 2019 itu kini ibarat bom waktu yang tinggal menunggu pecah, dan berpotensi menimbulkan khaos, dan konflik komunal yang bermuara pada perpecahan suku, agama, dan bangsa ini.

Lihatlah, hoaks yang jumlah terus meningkat tiap saban tahun, jika 2018 hanya terdapat 997, 2019 naik menjadi 1.221 dan 2020 menjadi dua kali lipat, yakni 2.024 hoaks. (Sumber : cekfakta.com dan masyarakat anti fitnah Indonesia).

Hoaks yang di produksi oleh pihak-pihak tertentu itu, akan sangat mudah dimakan dan ditelah oleh kedua belah kubu, jika isu terkait dengan kadrun, maka gerombolan cebong akan ramai-ramai blwo up, dan jika kena cebong, dipastikan kawanan kadrun akan menyebarluaskannya di seluruh platform media sosial.

Begitulah kondisi bangsa ini, dan dipastikan hal itu akan terus terjadi hingga 2024 mendatang, dan bisa dibayarkan jika persoalan ini terus berlarut, bukan tidak mungkin perpecahan akan terjadi, dan bangsa ini terkoyak, tercabik dalam konflik antar masyarakat, dan suku serta daerah.

Tidak hanya masyarakat yang terpecah, media sebagai salah satu pilar yang semestinya menjadi fungsi kontrol, juga terlibat dan ikut terpolarisasi dan tergiring dalam situasi serupa. Dampaknya pemberitaan yang dihasilkan terkadang tak berimbang, berat sebelah, dan tidak proporsional akibat kedekatan pada isu dan kelompok tertentu.

Persoalan itulah yang membuat kemudian Surya Paloh menjadi gelisah, Dia sadar, persoalan ini harus dapat di pecahkan, dan mesti ada solusi dari semua kelompok bangsa untuk mengeratkan kembali anak bangsa yang tercabik. Namun, kegelisahan ayah dari Pranando Paloh itu belum mendapatkan sambutan banyak pihak. Isu Pilpres 2024 masih sebatas pada ide perebutan kekuasan, siapa yang menang pada Pileg 2024, dan kader partai apa yang akan jadi Presiden. Sungguh sangat miris dan memprihatinkan.

Sudah saatnya kita akhiri ini semua, semua elemen bangsa harus ikut jejak bang Surya, untuk jadi patriot bangsa, ini bukan saatnya kita bicara tentang siapa Presiden RI 2024, namun jauh lebih daripada itu, kita harus bicara tentang keutuhan bangsa ini pada tahun-tahun mendatang.

 

Penulis Hendro Saky

Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Aceh

Comments
Loading...