POPULARITAS.COM – Debur ombak terdengar bersahutan, menghantam karang lalu pecah menjadi buih putih. Percikannya sesekali terbawa angin, terasa dingin dan asin di wajah. Di hadapan mata, laut biru membentang tanpa batas, langsung bertemu Samudra Hindia.
Inilah kaki Gunung Lampu di Tapaktuan, ibu kota Kabupaten Aceh Selatan, sekitar 500 kilometer dari Banda Aceh. Gunung Lampu sejatinya adalah bukit hijau setinggi sekitar 50 hingga 100 meter dari permukaan laut, dipenuhi rerumputan dan pepohonan rindang.
Di bawah tebingnya, di antara bebatuan karang yang berdiri kokoh, ada sesuatu yang membuat langkah siapa pun melambat: sebuah tapak kaki raksasa.
Jejak yang Tak Masuk Akal
Dari dekat, bentuknya menyerupai telapak kaki manusia. Hanya saja, ukurannya tak lazim: panjang sekitar enam meter dan lebar 2,5 meter. Berdiri di sisinya, tubuh manusia terasa begitu kecil.
Pertanyaan pun muncul dengan sendirinya. Bagaimana mungkin jejak sebesar itu tercetak di atas batu karang di tepi laut?
Permukaan tapak kini dilapisi semen untuk melindunginya dari kerusakan, meski bentuk aslinya tetap dipertahankan. Saat disentuh, permukaannya terasa dingin dan sedikit kasar, sementara cerukan jari-jarinya masih bisa ditelusuri dengan telapak tangan.
Di sekitarnya, bangku-bangku kayu menghadap laut. Pengunjung duduk melepas lelah, membiarkan angin menyibak rambut, sambil memandangi garis cakrawala atau sekadar mendengarkan kisah yang diwariskan warga setempat.
Kisah itulah yang membuat tapak ini lebih dari sekadar objek foto. Ia adalah tapak Tuan Tapa, pertapa sakti yang namanya melekat pada Tapaktuan, kota yang dikenal dengan julukan Kota Naga.
Bayi di Tengah Lautan
Dalam salah satu versi legenda yang dituturkan turun-temurun, dahulu kala hiduplah sepasang naga yang tak memiliki keturunan.
Suatu hari, keduanya menemukan seorang bayi perempuan terombang-ambing di lautan setelah kapal yang ditumpangi orang tua kandungnya ditimpa musibah. Bayi itu dibawa pulang, dirawat, dan dibesarkan penuh kasih sayang hingga tumbuh menjadi perempuan cantik yang dikenal sebagai Putri Naga.
Dalam versi lain yang juga populer, orang tua kandung sang putri adalah raja dan permaisuri Kerajaan Asralanoka. Mereka kehilangan putrinya ketika berlayar di Samudra Hindia bertahun-tahun sebelumnya, lalu curiga gadis yang dirawat sepasang naga itu adalah anak mereka.
Ketika orang tua kandungnya datang menjemput, persoalan pun muncul. Kedua naga tak sudi berpisah dengan anak yang telah mereka anggap darah daging sendiri.
Sang putri akhirnya pergi dan menaiki kapal yang hendak berlayar. Mengetahui itu, kedua naga murka dan mengejar kapal tersebut. Laut yang tenang berubah menjadi gelanggang yang menegangkan. Dalam keadaan genting, teriakan minta tolong konon terdengar hingga ke tempat pertapaan Tuan Tapa.
Satu Pijakan, Satu Nama Kota
Tuan Tapa digambarkan sebagai pertapa bertubuh raksasa yang taat beragama dan menghabiskan hidupnya berzikir di dalam gua. Mendengar ada yang membutuhkan pertolongan, ia keluar dari pertapaannya.
Ia melangkah di kawasan Gunung Lampu sebelum melompat menuju lokasi pertarungan di laut. Menurut legenda, pijakan kakinya di batu karang itulah yang meninggalkan bekas telapak raksasa yang kini dikenal sebagai Tapak Tuan Tapa.
Pertarungan sengit tak terhindarkan. Bersenjatakan tongkat kayu, Tuan Tapa akhirnya berhasil mengalahkan kedua naga, dan sang putri kembali ke pelukan orang tuanya.
Jejak Pertarungan yang Tersebar
Uniknya, kisah ini seolah meninggalkan “barang bukti” di berbagai sudut Tapaktuan.
Tak jauh dari tapak, ada batu besar di tengah laut yang diyakini sebagai kopiah Tuan Tapa yang terlepas saat pertarungan dan berubah menjadi batu. Tongkatnya yang membatu pun disebut ada di kawasan yang sama.

Sekitar lima kilometer dari lokasi tapak, terdapat karang berbentuk hati di Desa Batu Itam dan “sisik naga” di Desa Batu Merah, yang menurut cerita merupakan potongan tubuh naga jantan yang kalah bertarung. Versi lain menyebut darah naga itulah yang berubah menjadi bebatuan merah, hingga tempat itu dinamai Batu Merah.
Lebih jauh lagi, sekitar 20 kilometer dari tapak, ada karang yang disebut menyerupai layar kapal milik sang raja di Pantai Batu Berlayar, Desa Damar Tutong.
Kisah ini berpuncak di sebuah makam. Makam Tuan Tapa terletak di Kampung Padang, Kecamatan Tapaktuan, sekitar 10 kilometer dari jejak kaki di Gunung Lampu, di dekat bangunan yang disebut Masjid Tuo. Ukurannya mencengangkan: panjang 25 meter dan lebar 8 meter.
“Konon makam ini tempat peristirahatan terakhir ataupun tempat menghilangnya Tuan Tapa seminggu setelah pertarungan,” tutur pengelola objek wisata Tapak Tuan Tapa, Chaidir Karim, seperti dikutip dari Detiktravel.
Legenda yang Menghidupi Kota
Begitu kuatnya legenda ini, hampir semua objek wisata di Tapaktuan berkaitan dengan kisah Tuan Tapa. Penelitian di UIN Ar-Raniry bahkan mencatat bahwa masyarakat terus mereproduksi legenda ini menjadi cerita-cerita baru, sekaligus memodifikasi objek wisata seperti Tapak Tuan Tapa, Makam Tuan Tapa, Patung Naga, Pemandian Panjupian, Pulau Dua, dan Air Terjun Tingkat Tujuh.
Meski demikian, kisah pertarungan Tuan Tapa dengan dua naga perlu dipahami sebagai legenda masyarakat, bukan bukti sejarah tentang terbentuknya tapak tersebut secara fisik. Nilai utamanya terletak pada warisan tutur yang terus hidup, dengan pesan tentang keberanian, pertolongan, kasih sayang, dan ikatan antara orang tua dan anak.
Menjaga Warisan
Sebagai objek wisata bernilai budaya, Tapak Tuan Tapa punya potensi besar untuk terus diperkenalkan kepada wisatawan dari dalam maupun luar Aceh.

Pengembangannya tak cukup hanya dengan penataan kawasan dan fasilitas. Papan informasi yang menarik tentang legenda Tuan Tapa, kisah Putri Naga, berbagai versinya, serta asal-usul nama Tapaktuan akan membuat pengunjung tak sekadar datang, berfoto, lalu pulang.
Keselamatan juga perlu diperhatikan. Bebatuan karang yang licin dan tajam menuntut pengunjung berhati-hati melangkah, menjaga kebersihan, dan tidak merusak objek wisata.
Di atas semua itu, peran warga Tapaktuan tetap yang terpenting: merawat kawasan sekaligus menuturkan kembali legenda Tuan Tapa kepada generasi muda, agar cerita ini tak terputus oleh zaman.
Menjelang pulang, angin laut kembali berembus, dan ombak terus bergulung di antara karang. Tapak raksasa itu tetap di tempatnya, diam, seolah menunggu pengunjung berikutnya bertanya: siapa sebenarnya yang pernah berpijak di sini?









Leave a comment