Home Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Tarek pukat, tradisi dan merawat ingatan sejarah Gampong Jawa
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehFeature

Tarek pukat, tradisi dan merawat ingatan sejarah Gampong Jawa

Share
TEKS FOTO: Tradisi tarek pukat di Gampong Jawa, Kecamatan Kutaraja, Kota Banda Aceh, Aceh, menjadi potret kearifan lokal masyarakat pesisir yang menjunjung tinggi nilai gotong royong. Selain sebagai mata pencaharian nelayan, tradisi turun-temurun ini juga menyimpan warisan budaya. FOTO : popularitas.com/Fahzi
Share

POPULARITAS.COM 0 Angin laut berembus kencang sore itu, membawa rasa asin yang menempel di bibir. Ombak berdebur tanpa jeda di pesisir Gampong Jawa, Kecamatan Kutaraja, Kota Banda Aceh. Di bibir pantai, sejumlah lelaki berdiri berbaris, kaki terbenam di pasir basah, kedua tangan menggenggam seutas tali panjang yang menjulur ke laut.

Di ujung tali itu, jauh di tengah laut, sebuah jaring besar menunggu ditarik pulang. Inilah tarek pukat, tradisi menangkap ikan yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat pesisir Aceh.

Satu Tarikan, Banyak Tangan

Dalam bahasa Aceh, tarek berarti tarik dan pukat berarti jaring. Tradisi ini disebut-sebut sudah hidup sejak masa Kesultanan Aceh pada abad ke-16.

TEKS FOTO: Tradisi tarek pukat di Gampong Jawa, Kecamatan Kutaraja, Kota Banda Aceh, Aceh, menjadi potret kearifan lokal masyarakat pesisir yang menjunjung tinggi nilai gotong royong. Selain sebagai mata pencaharian nelayan, tradisi turun-temurun ini juga menyimpan warisan budaya. FOTO : popularitas.com/Fahzi

Caranya sederhana, tapi butuh banyak tangan. Jaring dibentangkan sekitar satu mil ke laut, sementara salah satu ujungnya tetap tertambat di darat. Lalu sepuluh hingga lima belas nelayan menariknya bersama-sama, sebagian dari perahu, sebagian dari garis pantai.

Ketika pukat mulai ditarik, orang-orang mengambil posisi di kedua ujung tali. Tarikan dilakukan perlahan dan berulang, mengikuti irama yang sama. Tali yang basah terasa kasar dan berat di telapak tangan, menggesek kulit setiap kali ditarik. Otot lengan dan punggung menegang, kaki menekan pasir agar tak tergelincir.

Sebagian berdiri di bibir pantai, yang lain sibuk merapikan jaring agar tak kusut. Tak ada yang bisa bekerja sendiri. Keberhasilan menarik pukat bergantung pada kekompakan seluruh kelompok.

Kesabaran menjadi bekal utama. Hasil tangkapan tak pernah bisa dipastikan. Jika laut sedang bermurah hati, kantong jaring yang tiba di pasir akan menggembung, dan ikan-ikan menggelepar memantulkan cahaya sore, menebar aroma amis laut yang khas.

Setelah itu, hasilnya dibagi. Menurut Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Kota Lhokseumawe, Tgk Muhammad Djalil Hasan, pembagian dilakukan secara adil sehingga tak menimbulkan percekcokan di antara nelayan.

Ruang Belajar di Tepi Laut

Bagi warga Gampong Jawa, laut bukan sekadar sumber penghidupan. Ia juga ruang sosial tempat nilai kebersamaan terus dipelihara dari generasi ke generasi.

Pengetahuan tentang tarek pukat umumnya diwariskan lewat pengalaman langsung. Anak-anak muda belajar dengan memperhatikan orang tua dan kerabat yang lebih dulu menekuni pekerjaan sebagai nelayan: cara menebar jaring, membagi tugas, membaca laut, hingga menjaga hubungan antarsesama.

Begitu lekatnya tradisi ini dengan identitas Aceh, ia bahkan menjelma menjadi seni pertunjukan. Tari Tarek Pukat diciptakan almarhum Yusrizal dari Banda Aceh pada 1962, diiringi alunan serune kalee serta tabuhan geundrang dan rapa’i. Gerakannya menggambarkan gotong royong para nelayan.

Pesisir yang Pernah Menjadi Gerbang

Gampong Jawa sendiri bukan kampung sembarangan. Pada masa Kerajaan Aceh, kawasan ini memiliki bandar pelabuhan yang megah dan menjadi pintu masuk menuju Banda Aceh melalui jalur laut. Wilayah seluas 30,24 hektare itu berbatasan langsung dengan Selat Malaka di sisi utara.

Namun, laut yang sama juga pernah merenggut banyak hal. Gampong Jawa termasuk kawasan paling parah diterjang tsunami 26 Desember 2004. Permukiman yang semula padat berubah menjadi hamparan kosong. Kini, kampung ini juga harus menghadapi abrasi pantai.

Bahwa tarek pukat masih bertahan di tempat seperti ini, adalah cerita tentang ketangguhan.

Musem Timu Jak Tarek Pukat

Tradisi ini juga menyimpan kearifan dalam membaca musim. Budayawan Aceh, T.A. Sakti, dikenal melalui upayanya mendokumentasikan berbagai pengetahuan tradisional Aceh, termasuk Keuneunong, sistem penanggalan adat yang berkaitan dengan perhitungan musim.

Salah satu hadih maja yang terkait dengan tradisi ini berbunyi:

“Musem timu jak tarek pukat, musem barat jak meuniaga.”

Artinya, ketika musim angin timur tiba, masyarakat pergi menarik pukat. Saat musim angin barat datang, mereka beralih berdagang.

Keuneunong bukan sekadar petuah. Masyarakat Aceh bahkan punya rumus untuk menghitungnya: 25 dikurangi dua kali angka bulan berjalan. Januari, misalnya, jatuh pada keuneunong 23. Penulis sejarah Aceh, Iskandar Norman, menjelaskan bahwa keuneunong limong (lima) ditandai bertiupnya angin timur, saat nelayan kembali melaut.

Pengetahuan itu masih hidup. Sebagian besar pawang kapal nelayan tradisional di Aceh disebut masih memakai keuneunong untuk memprediksi cuaca sebelum melaut.

Bagi nelayan, membaca musim bukan soal kebiasaan semata. Ia menyangkut keselamatan dan keberlangsungan hidup.

Terancam Sampah Kiriman

Kini, tarek pukat menghadapi tantangan baru. Di Banda Aceh, tradisi ini disebut hanya tersisa di Gampong Jawa. Itu pun kerap terhenti, terutama saat angin barat membawa sampah ke bibir pantai: batang kayu, ranting, hingga plastik yang membuat nelayan enggan melaut. Mereka bahkan pernah berhenti menarik pukat selama tiga bulan.

Sekretaris Panglima Laot Aceh, Azwir Nazar, menyebut tarek pukat mulai ditinggalkan nelayan tradisional. Sementara Sekjen Jaringan Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (KuALA), Gemal Bakri, mengingatkan bahwa selain cuaca dan kerusakan lingkungan, sampah kini menjadi ancaman serius bagi nelayan.

Pintu Masuk Mengenal Aceh

Di tengah tantangan itu, tarek pukat menyimpan potensi besar sebagai wisata budaya maritim. Pengunjung tak hanya menikmati panorama laut, tetapi bisa ikut menyaksikan proses penarikan jaring, mengenal peralatan nelayan, dan merasakan langsung bagaimana gotong royong bekerja.

Potensi ini sudah terlihat di tempat lain. Di Pantai Ujong Blang, Lhokseumawe, nelayan bahkan bisa menarik pukat tiga hingga empat kali sehari, dan aktivitas itu kerap menarik minat mahasiswa dari luar daerah.

Zikri, salah seorang pengunjung yang menyaksikan tarek pukat di Gampong Jawa, mengaku terkesan melihat langsung cara nelayan bekerja bersama.

TEKS FOTO: Tradisi tarek pukat di Gampong Jawa, Kecamatan Kutaraja, Kota Banda Aceh, Aceh, menjadi potret kearifan lokal masyarakat pesisir yang menjunjung tinggi nilai gotong royong. Selain sebagai mata pencaharian nelayan, tradisi turun-temurun ini juga menyimpan warisan budaya. FOTO : popularitas.com/Fahzi

“Tradisi tarek pukat ini menarik karena kita bisa melihat langsung bagaimana para nelayan bekerja sama. Bukan hanya soal menangkap ikan, tetapi juga ada nilai kebersamaan dan budaya yang perlu dijaga,” kata Zikri.

Ia berharap tradisi ini tetap bertahan dan semakin dikenal, sehingga wisatawan yang datang ke Banda Aceh punya pilihan wisata yang tak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga pengalaman belajar budaya lokal.

Namun, pengembangan wisata ini harus melibatkan nelayan sebagai pemilik tradisi, dan disesuaikan dengan jadwal melaut agar tak mengganggu pekerjaan utama mereka. Dengan pengelolaan yang tepat, tarek pukat bisa membuka peluang ekonomi tambahan, mulai dari kuliner khas, produk lokal, jasa pemandu, hingga edukasi kehidupan pesisir.

Menjelang senja, tali terakhir akhirnya tergulung di pasir. Tangan-tangan yang lelah saling menepuk bahu. Laut di belakang mereka terus berdebur, seolah mengingatkan bahwa tradisi ini, seperti ombak, hanya akan terus datang jika ada yang setia menunggunya di tepi pantai.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehWisata

Batu yang Bernyanyi di Perut Bukit Aceh Selatan

POPULARITAS.COM – Bising klakson dan deru mesin perlahan tertinggal di belakang. Begitu...

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehFeature

Pasir Hitam, Desir Cemara, dan Jejak Bunker Jepang di Mantak Tari

POPULARITAS.COM – Angin laut sudah lebih dulu menyambut sebelum pantai itu benar-benar...

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehWisata

Memek, kuliner khas Bumi Ate Fulawan

POPULARITAS.COM – Pulau Simeulue, salah satu di Kabupaten di pesisir barat Aceh...

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehWisata

Gunung Rotan, ‘hidden gem’ di Aceh Selatan

POPULARITAS.COM – Pemandian Alam Gunung Rotan, Surga Tersembunyi yang Menyegarkan di Aceh...