Home News Aroma kuah kari dan Shalawat Rasul untuk tanah Japakeh yang ingin bangkit
News

Aroma kuah kari dan Shalawat Rasul untuk tanah Japakeh yang ingin bangkit

Share
Bupati Pidie Jaya Syibral Malaysi di acara Maulid Akbar di Pidie Jaya. FOTO : popularitas.com/Nurzahri
Share

POPULARITAS.COM – Aroma kari menguar lebih dulu, jauh sebelum tenda-tenda itu tampak jelas. Wangi rempah yang pekat, bercampur uap nasi hangat, menyebar di halaman Kantor Bupati Pidie Jaya, Kamis siang, 29 Oktober 2026.

Tenda-tenda tratak beratap kerucut berdiri tegak di halaman itu. Kain abutai berwarna kuning, cokelat, dan hijau membalut tiang-tiangnya, menjuntai bergelombang, berkibar pelan setiap kali angin lewat. Di bawahnya, kursi-kursi plastik berbalut kain senada tersusun rapi.

Di sisi kiri, dua tenda kecil beratap kain biru menaungi meja prasmanan. Nasi putih mengepul, kuah kari daging berwarna cokelat kemerahan berkilat di dalam wadah besar, ditemani beragam lauk-pauk yang menunggu disendok para tamu.

Pemandangan serupa tersebar di sejumlah titik lain: halaman Gedung MTQ, Kantor Dinas Pekerjaan Umum (PU), Gedung DPRK, Gedung Tgk. Chik Pante Geulima, dan beberapa lokasi lainnya. Masing-masing tenda tampil dengan balutan warna dan dekorasi berbeda.

Tenda-tenda itu adalah panggung bagi delapan kecamatan di Pidie Jaya dalam perayaan Maulid Akbar Nabi Muhammad SAW tingkat kabupaten tahun 2026.

Maulid yang Tak Cukup Sebulan

Bagi orang Aceh, maulid bukan perayaan sehari. Khanduri maulid digelar sepanjang tiga bulan, yakni Rabiul Awal, Rabiul Akhir, dan Jumadil Awal. Masyarakat menyebutnya maulod awai (maulid awal), maulod teungoh (maulid tengah), dan maulod akhe (maulid akhir).

Rentang panjang itu punya alasan yang hangat. Jika sebuah keluarga belum mampu menggelar khanduri di bulan pertama, masih ada dua bulan lain untuk menunaikannya. Tak heran rangkaian ini disebut-sebut sebagai perayaan maulid terpanjang di Nusantara, bahkan kerap diposisikan sebagai “hari raya ketiga” setelah Idulfitri dan Iduladha.

Akarnya pun dalam. Sejarawan Husaini Ibrahim meyakini tradisi maulid tiga bulan sudah berlangsung sejak masa Sultan Iskandar Muda (1607–1636), ketika Kesultanan Aceh berada di puncak kejayaan. Para ulama kala itu menganjurkannya sebagai wujud cinta kepada Rasulullah sekaligus syiar Islam.

Maulid Akbar Pidie Jaya tahun ini jatuh di penghujung rangkaian itu, di bulan maulod akhe.

Puluhan Ribu Langkah, Satu Hidangan

Siang itu, kompleks perkantoran bupati jauh lebih riuh dari biasanya. Puluhan ribu warga, laki-laki dan perempuan, datang dengan pakaian terbaik mereka. Kain-kain baru berdesir, sandal bergesek di aspal, dan sapaan antarkerabat terdengar dari segala arah.

Mereka hilir mudik dari satu stand ke stand lain. Sebagian mengantre di meja prasmanan. Sebagian lagi duduk melingkar bersama keluarga, menikmati nasi khanduri di atas piring.

Sendok di tangan kanan menyuapkan nasi yang telah basah oleh kuah kari, bersama potongan daging yang empuk. Rasa gurih rempah dan sedikit pedas menghangatkan lidah, menambah peluh di tengah siang yang terik.

Di sela suapan, lantunan zikir menggema dari mimbar masing-masing kecamatan. Suara selawat dan pujian kepada Rasulullah SAW naik turun, bersahut-sahutan antar-stand, menyatu dengan percakapan warga. Religius sekaligus akrab.

Setiap stand dipersiapkan aparatur kantor camat bersama tokoh masyarakat, dengan sejumlah Satuan Kerja Perangkat Kabupaten (SKPK) ditugaskan sebagai koordinator agar kegiatan berjalan sesuai rencana.

Untuk menyemarakkan acara, panitia menggelar tiga kategori lomba: dekorasi stand tercantik, zikir, dan memasak. Setiap kecamatan tak hanya beradu keindahan tenda, tetapi juga kekompakan menyiapkan hidangan dan menghidupkan tradisi.

Dari Saku ASN untuk Khanduri Rakyat

Yang menarik, pemerintah kabupaten hanya mengalokasikan Rp100 juta. Dana itu khusus untuk honorarium panitia penilai lomba dan hadiah bagi pemenang.

Kebutuhan utama perayaan justru bersumber dari sumbangan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) lebih dari 3.000 Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkab Pidie Jaya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Popularitas.com, besaran sumbangan disesuaikan dengan jenjang jabatan. Pejabat eselon II menyumbang Rp3 juta per orang. Pejabat eselon III, setingkat sekretaris dan kepala bagian, Rp1,5 juta. Kepala bidang Rp700 ribu, pejabat eselon IV setingkat kepala seksi dan kepala subbagian Rp300 ribu, sedangkan ASN umum Rp100 ribu.

Dana tersebut kemudian disalurkan ke kecamatan untuk menyewa tenda, perangkat pengeras suara, menghadirkan kelompok zikir, hingga menyediakan hidangan khanduri.

Ketua Panitia I Maulid Kabupaten Pidie Jaya, Muzakkir, menjelaskan dana itu dipakai setiap kecamatan untuk membuka stand sekaligus menjamu masyarakat yang diundang melalui desa masing-masing. Setiap kecamatan membeli dua ekor sapi untuk disembelih, ditambah beras dan beragam lauk-pauk.

“Namun, dana yang dibagikan kepada setiap kecamatan tidak sama nominalnya. Ada yang Rp80 juta, ada juga yang Rp55 juta, tergantung jumlah penduduk masing-masing kecamatan,” jelas Muzakkir.

Sekretaris Panitia, Said Abdullah, menambahkan bahwa anggaran Rp100 juta dari pemkab dipakai khusus untuk honorarium panitia lomba dan hadiah. Ada enam tingkatan hadiah: juara pertama Rp6 juta, kedua Rp5 juta, ketiga Rp4 juta, harapan pertama Rp3 juta, harapan kedua Rp2 juta, dan harapan ketiga Rp1 juta.

Bupati di Bawah Terik

Di tengah keramaian, seorang pria berkemeja putih berkerah dengan aksen hijau di pergelangan tangan tampak berjalan dari satu stand ke stand lain. Ia adalah Bupati Pidie Jaya, Sibral Malasyi.

Ia menyapa warga, menyalami tamu, dan memastikan setiap stand mendapat kunjungan. Bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Sibral berkeliling di bawah matahari yang menyengat. Panasnya terasa menembus kulit, membuat kemeja menempel di punggung, tetapi langkahnya tak surut.

Sesekali ia berhenti, bersenda gurau dengan warga penjaga stand. Tawa pecah di sana-sini.

Luka yang Belum Kering

Namun, di balik kemeriahan itu, Maulid Akbar tahun ini membawa pesan yang lebih dalam.

Belum genap setahun lalu, tepatnya akhir November 2025, hujan lebat berhari-hari membuat Krueng Meureudu meluap. Banjir dan longsor melanda delapan kecamatan di Pidie Jaya. Data Prokopim Pidie Jaya mencatat 28 orang meninggal dunia dan 390 orang luka berat.

Hingga awal Januari 2026, tercatat 98.580 jiwa atau 26.825 kepala keluarga terdampak di 222 desa. Ribuan porsi makanan harus disiapkan setiap hari dari dapur umum untuk para penyintas.

Cobaan belum berhenti. Banjir susulan kembali datang pada Februari dan April 2026, berdampak pada 20.293 rumah. Karena penanganan belum tuntas, termasuk persoalan air bersih, pemkab memperpanjang masa transisi pemulihan hingga 10 Agustus 2026.

Ribuan keluarga sempat bergantung pada hunian sementara. Pemerintah membangun 1.274 unit huntara dari total 1.342 unit yang dibutuhkan.

Dengan latar seperti itu, sepiring nasi khanduri dan lantunan selawat siang itu terasa punya makna lain.

“Perayaan maulid ini bukan hanya sebatas perayaan biasa, tetapi merupakan momentum bangkit pascabencana, mempererat silaturahmi, menguatkan persaudaraan, dan menumbuhkan kembali semangat masyarakat untuk bangkit. Tanah Japakeh tidak boleh kehilangan harapan,” kata Sibral dalam keterangannya, Kamis (29/10/2026).

Japakeh merujuk pada Tgk Japakeh, ulama masyhur dalam sejarah masyarakat Meureudu, ibu kota Pidie Jaya. Makamnya berada tak jauh dari Masjid Madinah dan hingga kini ramai diziarahi.

Menurut Sibral, zikir di delapan stand dan berbagai perlombaan itu harus menjadi pengingat bahwa kebangkitan Pidie Jaya membutuhkan kekuatan bersama. Pemerintah, masyarakat, dan seluruh elemen daerah harus saling menguatkan, terutama ketika sebagian warga masih merasakan lelah akibat bencana.

“Kepedulian dan kebersamaan harus menjadi tenaga untuk melangkah maju. Sebab, membangun kembali Pidie Jaya bukan hanya pekerjaan memulihkan daerah, melainkan juga ikhtiar memulihkan hati dan masa depan masyarakatnya,” harapnya.

Menjelang sore, antrean di meja prasmanan mulai menipis. Wadah kari tinggal menyisakan kuah di dasarnya. Tapi selawat masih terdengar dari mimbar-mimbar kecamatan, mengalun pelan di antara tenda abutai yang terus berkibar, seperti doa yang belum mau berhenti.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
News

Dinilai tak layak, BGN tutup 2 ribu dapur MBG 

POPULARITAS.COM – Sebanyak lebih dari 2.000 dapur MBG di seluruh Indonesia, ditutup...

News

Komunitas pegiat sejarah dan budaya berduka, Piet Rusdi Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh meninggal dunia

POPULARITAS.COM – Komunitas pegiat sejarah dan budaya Aceh, Piet Rusdi meninggal dunia....

InternasionalNews

Pasar Saham Israel Bisa Merosot Tajam jika Netanyahu Terpilih Lagi

POPOULARITAS.COM – Pasar saham Israel berpotensi menghadapi tekanan jika Perdana Menteri Benjamin...

News

Sirkulasi Siklonik Terdeteksi di Utara Aceh, BMKG Ingatkan Potensi Hujan Lebat

POPULARITAS.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi potensi pembentukan sirkulasi...