POPULARITAS.COM – Pengurus Wilayah (PW) Pemuda Muslimin Aceh menyesalkan penggerebekan asrama santriwati Pondok Pesantren Hamaltul Quran di Sukoharjo, Jawa Tengah. Organisasi itu meminta Kapolda Jawa Tengah bertanggung jawab dan dicopot dari jabatannya.
Permintaan tersebut disampaikan Ketua PW Pemuda Muslimin Aceh, Yulizar Kasma, melalui keterangan tertulis di Banda Aceh, Minggu (1/11/2026).
Menurut Yulizar, penggerebekan yang terjadi pada Selasa dini hari, 27 Oktober 2026, itu telah meninggalkan trauma mendalam bagi para santriwati yang menimba ilmu di pesantren tersebut.
Ia menjelaskan, penggeledahan itu diduga berkaitan dengan penyidikan kasus pembakaran dan perusakan warung “Mi dan Babi Tepi Sawah” di Desa Parangjoro, Kecamatan Grogol, pada September 2026. Setelah diperiksa, para santriwati dilepaskan karena tidak terbukti terlibat.
Yulizar menilai Polda Jawa Tengah dan Polres Sukoharjo perlu dievaluasi. Menurutnya, penggeledahan tersebut dapat dikategorikan merendahkan umat Islam, khususnya para muslimah remaja.
Berdasarkan surat edaran pihak pesantren, kata Yulizar, para santriwati yang terbangun dalam keadaan belum mengenakan jilbab sempat ditarik keluar, dibentak, ditodong senjata laras panjang, dan diminta tiarap.
“Perlakuan merendahkan remaja muslimah ini sangat jahat dan pasti meninggalkan trauma mendalam, apalagi balita juga ikut dibawa. Tragedi ini harus diusut tuntas oleh Propam,” ujar Yulizar.
Ia menambahkan, jika memasuki lingkungan muslimah, semestinya aparat yang bertugas adalah polisi perempuan, bukan laki-laki. Penggeledahan juga harus dilakukan secara beradab, sesuai prosedur operasional standar (SOP), dan manusiawi.
“Trauma korban tidak bisa dibayar hanya dengan permintaan maaf, tetapi harus ada kompensasi. Komnas Perempuan harus melakukan pendampingan terhadap korban penggeledahan yang sangat jahat ini,” katanya.
Menurut Yulizar, dilepaskannya para santriwati karena tidak terbukti terkait pembakaran warung menunjukkan bahwa dugaan polisi dibangun di atas data dan informasi yang lemah.
“Kami minta Kapolda Jateng dicopot. Perlakuan biadab terhadap santriwati bisa dibaca bahwa di tubuh Kepolisian Indonesia masih ada sisa islamofobia. Pak Kapolri dekat dengan ulama, jadi perlu segera membersihkan hal ini,” tutup Yulizar Kasma, Ketua PW Pemuda Muslimin Aceh, sayap pemuda Syarikat Islam Aceh.









Leave a comment