Menguji adrenalin di arung jeram DAS Peusangan

POPULARITAS.COM – Rafting atau arung jeram tampaknya menjadi salah satu wisata air yang seru dan layak dicoba ketika berkunjung ke Kabupaten Bener Meriah.

Melalui arung jeram ini, wisatawan bisa menikmati keindahan alam sambil menguji adrenalin di sepanjang aliran sungai.

Di Bener Meriah sendiri, salah satu lokasi yang menawarkan arung jeram adalah CRU DAS Peusangan yang berada di Negeri Antara, Kecamatan Pintu Rime Gayo.

Akses menuju lokasi tersebut dapat ditempuh menggunakan roda dua maupun roda empat. Di kilometer (km) 40 Jalan Bireuen-Takengon, wisatawan akan diarahkan belok ke kanan.

Di persimpangan jalan itu, wisatawan akan dijemput oleh Bentang Adventure sebagai penyedia jasa rafting di CRU DAS Peusangan.

Perjalanan menuju lokasi rafting hanya sekitar 6 km, dengan melewati tanjakan curam, sungai kecil serta jalan berlumpur jika sedang musim hujan.

Perjalanan menuju lokasi juga dikelilingi hutan dan perkebunan warga, sehingga memberi kesan tersendiri bagi wisatawan yang baru pertama kali ke sana.

Ada beragam paket yang ditawarkan oleh Bentang Adventure, salah satunya elephant rafting yang dibanderol Rp250 ribu per orang.

Wisatawan menjajal arung jeram di DAS Peusangan, Bener Meriah-Bireuen, Minggu (25/9/2022). Foto: Ist

Biaya tersebut sudah termasuk transportasi lokal, konsumsi selama kegiatan, berwisata gajah jinak dan arung jeram.

Untuk paket ini, wisatawan akan menjajal arus sungai sepanjang 5 km dari CRU Peusangan, Bener Meriah dan finis di Kecamatan Juli, Bireuen.

Di sana, wisatawan dapat memacu adrenalin mengarungi derasnya arus sungai menggunakan perahu karet, di mana setiap perahu berisi 6-7 orang.

Setiap perahu didampingi oleh pemandu. Dalam perjalanan, wisatawan akan disuguhkan hamparan pemandangan perbukitan dan keasrian daerah pedesaan di wilayah itu.

Bila beruntung, wisatawan bahkan bisa menyaksikan kawanan gajah liar yang bermandian di tepi sungai.

Riki dari Bentang Adventure mengatakan, saat ini ada puluhan gajah liar yang masih berkeliaran di hutan Bireuen dan Bener Meriah.

Gajah tersebut, tambah Riki, hidup berkelompok, di mana setiap kelompok berjumlah 20 hingga 30 ekor.

Riki menyebut, kawanan gajah tersebut pernah beberapa kali menampakkan diri ketika ia memandu wisatawan dari luar negeri saat menjajal arung jeram di kawasan tersebut.

“Pernah beberapa kali bawa tamu, malah sempat dari Amerika, Malaysia, ketika pengarungan ketemu gajah liar di pinggir sungai lagi mandi.”

“Jadi karena kita juga tidak mengganggu habitat mereka, kita hanya menikmati alam yang Allah berikan, mereka juga makhluk Tuhan, jadi sama-sama berbagi alam,” tambah Riki.

Wisatawan bermain bersama gajah jinak di CRU Peusangan, Bener Meriah, Minggu (25/9/2022). Foto: Ist

Riki menyampaikan, Benteng Adventure yang juga bagian dari CRU DAS Peusangan menawarkan 5 paket rafting untuk para wisatawan.

Tiga di antaranya adalah kelas family dengan jalur 5 km (Rp150 ribu), elephan rafting dengan jarak tempuh 6 km (Rp250 ribu) dan ekstrem dengan jalur 21 km (Rp350 ribu).

“Paket ekstrem ini start dari perbatasan Bener Meriah-Aceh Tengah dan finis di perbatasan Bireuen-Bener Meriah, total 21 km, itu grade 3 plus, kalau hujan bisa lumayan lah,” kata Riki.

Pariwisata Aceh Berangsur Pulih

Salah seorang wisatawan, Salwa Nisrina Authar kepada wartawan, mengaku baru pertama kali berkunjung ke CRU DAS Peusangan. Ini juga menjadi pertama kali ia melihat gajah secara langsung.

“CRU Peusangan ini dijuluki juga sebagai little Africa, jadi ini pengalaman pertama Salwa berkunjung ke sini, dan di sini kita bisa rafting, sekaligus bisa melihat gajah-gajah liar yang ada di sekitarnya, jadi di sini digabungkan antara wisata alam, dengan sport tourism juga, yaitu rafting,” kata Salwa.

Wisatawan bermain bersama gajah jinak di CRU Peusangan, Bener Meriah, Minggu (25/9/2022). Foto: Ist

Salwa yang merupakan Duta Wisata Indonesia 2021 hadir ke sana melalui Event Wisata Adventure 2022 yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh. Kegiatan yang berlangsung 24-25 September ini diikuti sekitar 50 peserta yang merupakan duta wisata, unsur kepemudaan dan jurnalis di Aceh.

“Kegiatan ini asik, karena Salwa pertama kali bertemu dengan gajah, jadi pertama kali juga memegang gajah, melihat gajah itu gimana, dan ini merupakan pengalaman paling berharga sih bagi Salwa,” ujar Salwa.

Menurut Salwa, event wisata di CRU DAS Peusangan tersebut menjadi salah satu bukti nyata bahwa pariwisata Aceh berangsur pulih. Dirinya juga optimistis jika kondisi tersebut semakin membaik di masa yang akan datang.

“Di masa pasca pandemi ini tentu saja sektor pariwisata di Indonesia terutama di Aceh berangsur memulih. Ini semua berkat kerjasama antara pemerintah, stakeholder, dan seluruh masyarakat untuk sama-sama membantu mengatasi permasalahan yang terjadi di bidang pariwisata saat pandemi,” katanya.

Salwa mengatakan, masa transisi dari pandemi ke pasca pandemi tentu sangat berat dijalani baik masyarakat maupun pemerintah. Seperti jumlah pengunjung yang terbatas, harus menjaga jarak dan tak jarang beberapa tempat wisata syaratnya mengharuskan wajib vaksin bagi para pengunjung.

Namun, kata Salwa, efeknya sudah bisa dirasakan sekarang, yaitu bebas mengunjungi tempat wisata tanpa harus menerapkan protokol kesehatan yang ketat seperti dulu, meski masyarakat tetap diimbau menjaga kesehatan.

Pariwisata yang sudah pulih ini, menurut Salwa, bakal berdampak besar pada ekonomi masyarakat Aceh, terutama yang mata pencahariannya bergantung dengan tempat wisata. Mulai dari toko-toko suvenir sudah mulai dibuka hingga paket tur wisata yang juga sudah ramai kembali.

“Harapannya semoga kejadian seperti pandemi ini bisa menjadi pembelajaran besar bagi seluruh masyarakat Aceh dan juga pemerintahan Aceh dalam menanggapi krisis pariwisata ke depannya. Pemerintah, seluruh stakeholder dan masyarakat perlu menjaga bersama agar kejadian yang sama tidak terulang kembali,” kata Salwa.

Optimisme akan bangkitnya pariwisata di Tanah Air juga diungkapkan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno. Dalam kunjungan kerjanya ke Aceh beberapa waktu lalu, Sandiaga mengaku jika pariwisata Indonesia selama 2022 lebih baik daripada dua tahun lalu.

Sandiaga memperkirakan, hal tersebut bakal terjadi peningkatan, apalagi seiring dengan dibukanya sejumlah bandara internasional di Indonesia, sehingga dapat menjadi akses masuknya wisatawan mancanegara.

“Tentu ini semua butuh dukungan semua pihak,” kata Sandiaga.

Hal senada juga disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Almuniza Kamal. Di beberapa kesempatan, Almuniza mengajak semua pihak untuk bersiap menyambut wisatawan saat pandemi sudah berakhir.

“Sambutan bagi masyarakat lokal sangat penting, bagaimana membangun komunikasi yang santun dan ramah terhadap pendatang, sehingga mereka nyaman,” ujar Almuniza.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.