POPULARITAS.COM – Kurma memegang posisi sentral dalam tatanan spiritual dan budaya Arab Saudi. Hubungannya yang erat dengan tradisi keramahan dan nilai keagamaan menjadikannya hidangan wajib di meja buka puasa selama bulan suci Ramadan.
Tak hanya soal tradisi, Ramadan juga mentransformasi sektor pertanian di negara kerajaan tersebut. Industri kurma mengalami lonjakan permintaan yang signifikan, mulai dari gerai supermarket hingga segmen kemasan premium untuk pemberian hadiah.
Penasihat ekonomi, Fadhel Al-Buainain, menjelaskan bahwa meskipun permintaan stabil sepanjang tahun, konsumsi domestik meroket selama Ramadan.
Baru-baru ini, permintaan global untuk kurma Saudi juga meningkat. Namun, permintaan lokal meningkat secara signifikan selama Ramadan karena kurma dikaitkan dengan hidangan buka puasa,” ujarnya kepada Arab News, Jumat (20/2/2026).
Meski Ramadan memacu aktivitas ritel, Al-Buainain menekankan bahwa puncak ekonomi industri kurma sebenarnya terjadi pada periode pascapanen. Saat itulah volume penjualan grosir mencapai titik tertinggi. Sebagai gambaran, kurma yang dikonsumsi pada Ramadan 2026 ini umumnya berasal dari stok panen tahun sebelumnya.
Beruntung bagi konsumen, volume produksi yang melimpah mampu mencegah volatilitas harga yang ekstrem. Al-Buainain menyebut pasokan saat ini masih melebihi permintaan, sehingga harga kurma tradisional tetap stabil.
“Kenaikan harga terkait dengan kurma yang dikemas dalam format modern seperti hadiah atau kurma olahan yang mengandung bahan tambahan seperti kacang-kahangan dan lainnya. Namun, kurma tradisional masih memiliki harga yang stabil,” jelasnya.
Ia juga memperingatkan adanya praktik lelang buatan oleh oknum pedagang yang mencoba menaikkan harga secara artifisial melalui media sosial, yang menurutnya tidak bisa dijadikan tolok ukur harga pasar yang valid.
Secara struktural, industri ini berkembang pesat. Berdasarkan data Pusat Nasional untuk Kurma dan Sawi, ekspor kurma Saudi mencapai SAR (Saudi Riyal) 1,6 miliar pada tahun 2024. Arab Saudi kini menduduki peringkat kedua produsen kurma terbesar di dunia dengan lebih dari 33 juta pohon.
Al-Buainain memandang kurma sebagai komoditas strategis bagi ketahanan pangan nasional. Namun, ia menyarankan perlunya strategi jangka panjang untuk memaksimalkan nilai tambah, termasuk pengendalian hama yang lebih ketat dan pembentukan perusahaan kurma nasional.
“Sektor ini juga membutuhkan solusi akhir untuk hama yang merusak pohon kurma, termasuk kumbang merah kurma, serta pembentukan perusahaan kurma nasional untuk memproses, mengemas, hingga mengekspor produk turunan kurma,” tutupnya.











Leave a comment