POPULARITAS.COM – Ramadan di Jalur Gaza tahun ini datang tanpa gemerlap lentera dan hidangan melimpah seperti masa lalu. Perang antara Israel dan Hamas telah mengubah wajah perayaan bulan suci bagi banyak keluarga Palestina.
Waleed Al Zamli, ayah dari 11 anak, mengenang bagaimana hari pertama Ramadan dahulu dirayakan dengan penuh sukacita: lentera warna-warni untuk anak-anak, manisan, dan hidangan istimewa saat berbuka puasa.
“Sebelum perang, kami menyambutnya dengan gembira,” katanya dari Muwasi, kawasan pengungsian yang dipenuhi tenda-tenda warga Palestina yang kehilangan rumah akibat serangan militer Israel.
“Tahun ini, tidak ada kebahagiaan,” katanya.
Untuk iftar pertama Ramadan, istri Al Zamli mengambil makanan dari dapur amal yang kini menjadi tumpuan hidup keluarga mereka. Ia kemudian menambahkan sup sederhana untuk disantap bersama.
Al Zamli kehilangan pekerjaannya setelah toko tempatnya bekerja hancur akibat serangan. Tanpa penghasilan tetap, ia mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan dasar keluarga.
“Anak-anak ingin merasa bahagia seperti anak-anak orang lain, ingin berpakaian dan makan sesuatu yang bersih dan istimewa,” ujarnya.
Harga bahan makanan seperti daging dan unggas melonjak jauh dibandingkan sebelum perang. Bantuan kemanusiaan yang diterima pun terbatas, membuat banyak kebutuhan tak terjangkau.
Ramadan tahun ini berlangsung di bawah kesepakatan gencatan senjata yang rapuh. Meski intensitas pertempuran besar mereda, kekerasan sporadis masih terjadi hampir setiap hari.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 72.000 warga Palestina tewas sejak konflik meletus setelah serangan 7 Oktober 2023, ketika militan pimpinan Hamas menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel dan menyandera 251 lainnya.
Serangan balasan Israel menyebabkan kehancuran luas dan menggusur sebagian besar penduduk Gaza. Data korban jiwa yang dirilis otoritas kesehatan Gaza kerap dijadikan rujukan oleh badan-badan PBB dan pengamat independen, meski tidak memisahkan angka warga sipil dan kombatan.
Di tengah reruntuhan bangunan, sebagian warga tetap berupaya menghadirkan nuansa Ramadan. Untaian dekorasi digantung di antara puing-puing, sementara anak-anak membuat lentera sederhana dari kaleng soda bekas.
Dalam kondisi normal, Ramadan identik dengan peningkatan aktivitas pasar, pembelian bahan pokok, dan hidangan berbuka puasa yang beragam. Umat Muslim berpuasa dari subuh hingga matahari terbenam, berbuka dengan hidangan iftar, serta menyantap sahur sebelum kembali berpuasa.
Namun di Gaza, realitasnya jauh berbeda. Dapur amal dipadati puluhan warga yang mengantre dengan panci kosong. Anak-anak, perempuan, dan lansia berdesakan demi mendapatkan jatah makanan.
Bagi Al Zamli, tantangan terbesar Ramadan ini adalah memastikan anak-anaknya tetap bisa makan dan merasa sedikit bahagia di tengah situasi sulit.
Ramadan kali ini, katanya, ia hanya bisa berdoa agar pertumpahan darah berakhir dan untuk merasakan keamanan, keselamatan, dan ketenangan, serta untuk dapat menyediakan makanan dan pakaian yang baik untuk anak-anaknya.









Leave a comment