Home Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Sejuk yang Rapuh di Mata Ie: Dari Hulu Sungai Istana hingga Keran Ribuan Rumah
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehFeature

Sejuk yang Rapuh di Mata Ie: Dari Hulu Sungai Istana hingga Keran Ribuan Rumah

Share
Pemandian Mata Ie di Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, menjadi salah satu destinasi wisata alam yang menawarkan kesegaran mata air pegunungan dan suasana asri bagi pengunjung. FOTO : popularitas.com/Fahzian Aldevan)
Share

POPULARITAS.COM – Begitu kaki dicelupkan, dinginnya langsung menjalar hingga ke tulang. Air bening itu mengalir dari kaki pegunungan, gemericiknya bersahutan dengan desau dedaunan dan kicau burung dari balik rimbun pepohonan. Udara terasa lebih lembap dan sejuk, membawa aroma tanah basah dan lumut yang menempel di bebatuan.

Inilah Pemandian Mata Ie di Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar. Letaknya di sekitar kawasan Resimen Induk Daerah Militer (Rindam) Iskandar Muda, sekitar tujuh kilometer dari pusat Kota Banda Aceh. Cukup berkendara sebentar, deru kendaraan dan klakson sudah berganti dengan suara air.

Dalam bahasa Aceh, mata ie berarti mata air. Nama itu bukan kiasan. Air di kawasan ini bersumber dari kaki Gunung Taron (Glee Taron), dan sudah sejak lama menjadi bagian dari kehidupan warga di sekitarnya.

Riuh di Akhir Pekan

Setiap akhir pekan, kolam-kolam pemandian berubah riuh. Anak-anak berlarian lalu melompat ke air, teriakan riang mereka memantul di antara batang-batang pohon. Percikan air membasahi tepian kolam, sementara para orang tua duduk di pinggir, mengawasi buah hati sambil menikmati kudapan yang dibawa dari rumah.

Ada yang mengapung diam, membiarkan tubuh dibelai arus dingin. Ada pula yang menyelam, membuka mata di dalam air yang begitu jernih hingga bebatuan di dasar kolam terlihat jelas.

Di tengah gempuran hiburan modern, Mata Ie membuktikan bahwa wisata alam sederhana tetap punya tempat di hati warga.

Pemandian Mata Ie di Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, menjadi salah satu destinasi wisata alam yang menawarkan kesegaran mata air pegunungan dan suasana asri bagi pengunjung. FOTO : popularitas.com/Fahzian Aldevan)

Imam Suranda, salah seorang pengunjung, mengaku selalu kembali karena kesegaran airnya.

“Mata Ie memiliki daya tarik tersendiri. Airnya sangat segar dan suasana alamnya membuat tempat ini cocok untuk berlibur sekaligus melepas penat,” kata Imam.

“Sumber air yang jernih, lanskap alami, dan suasana yang menenangkan jadi alasan saya ke sini,” tambahnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa kebersihan perlu dijaga, terutama saat pengunjung membeludak pada hari libur.

Hulu Sungai Istana Sultan

Banyak pengunjung mungkin tak menyadari, air yang mereka renangi ini menyimpan jejak sejarah panjang.

Dari Mata Ie, air mengalir ke Krueng Daroy, sungai buatan yang membawa air dari mata air ini menuju Krueng Aceh. Aliran Krueng Daroy memang sengaja dibuat melewati kompleks Istana Sultan Aceh.

Sungai ini dikenal pula dengan nama Sungai Darul Isyki. Pada masa Kesultanan Aceh Darussalam, ia menjadi poros Taman Ghairah, taman istana yang keindahannya digambarkan dalam kitab Bustanussalatin sekitar abad ke-17. Di kawasan itu pula berdiri Gunongan, bangunan yang kerap dikaitkan dengan kisah cinta Sultan Iskandar Muda kepada permaisurinya, Putroe Phang.

Artinya, berabad-abad lalu, air dari kaki Glee Taron inilah yang mengalir melintasi taman para sultan. Kini, air yang sama menyegarkan anak-anak yang berenang di kolam Mata Ie.

Bukan Sekadar Kolam Renang

Di balik keramaian wisatawan, Mata Ie menyimpan wajah lain yang kerap luput dari perhatian.

Pemandian Mata Ie di Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, menjadi salah satu destinasi wisata alam yang menawarkan kesegaran mata air pegunungan dan suasana asri bagi pengunjung. FOTO : popularitas.com/Fahzian Aldevan)

Jauh sebelum dikenal sebagai tempat rekreasi, aliran airnya sudah menjadi bagian dari keseharian warga. Di beberapa titik, terdengar bunyi pakaian yang dikucek dan dibilas, berpadu dengan obrolan ringan para warga yang mencuci di aliran air.

Bagi mereka, air ini bukan atraksi wisata. Ia kebutuhan hidup sehari-hari.

Fungsinya bahkan jauh melampaui kolam renang. Mata Ie merupakan mata air karst yang memasok air bagi sekitar 14.234 pelanggan PDAM Tirta Mountala di Darul Imarah, Darul Kamal, Peukan Bada, hingga sejumlah gampong di Lhoknga.

Dengan kata lain, sejuknya air yang dinikmati pengunjung di kolam adalah air yang sama yang mengalir ke keran ribuan rumah.

Ketika Kolam Hanya Menyisakan Batu

Di sinilah kerapuhan Mata Ie terasa.

Pada 2017, mata air ini kering total untuk pertama kalinya. Sejak itu, kekeringan datang hampir setiap tahun.

Pada Mei 2022, misalnya, sejumlah kolam di Mata Ie kering kerontang. Yang tersisa hanya bebatuan di dasar kolam, sementara kolam utama masih menyisakan sedikit air. Kepala BPBD Aceh Besar saat itu, Ridwan Jamil, menyebut kekeringan dipicu musim kemarau dan lamanya hujan tak turun, sekitar dua bulan.

Pada 2023, instalasi pengolahan air di kawasan ini bahkan sempat kering.

Ancaman ini sebenarnya sudah diprediksi jauh hari. Pada 2008, geolog Abdillah Imron Nasution memperkirakan Mata Ie akan mengering dalam sepuluh tahun. Menurutnya, penurunan debit terjadi akibat eksploitasi karst yang berlebihan dan rusaknya ekosistem gua. Air hujan yang masuk ke dalam karst kini sebanding dengan air yang keluar, sehingga nyaris tak ada yang tersimpan di dalam batuan.

Dampaknya dirasakan warga. Saat kemarau, sebagian harus membeli air tangki atau menunggu giliran aliran yang tak menentu.

Menjaga Hulu, Merawat Kehidupan

Karena itu, menjaga Mata Ie tak cukup hanya dengan tidak membuang sampah sembarangan, meski itu langkah paling dasar yang bisa dilakukan setiap pengunjung.

Kelestarian mata air bergantung pada kawasan hulunya: vegetasi yang terjaga, bentang karst yang tidak rusak, dan pengelolaan wisata yang memperhatikan daya dukung lingkungan, bukan semata mengejar jumlah kunjungan.

Bagi pengunjung, ada langkah sederhana yang bisa dilakukan: membawa pulang sampah sendiri, tidak memakai sabun atau sampo di kolam, dan menghormati warga yang memanfaatkan aliran air untuk kebutuhan sehari-hari.

Mata Ie memperlihatkan bahwa daya tarik wisata tak selalu butuh bangunan megah. Air jernih, suasana terbuka, jejak sejarah, dan keterkaitannya dengan kehidupan warga justru menjadi pesona utamanya.

Menjelang sore, kolam perlahan sepi. Anak-anak yang menggigil dibungkus handuk oleh orang tuanya, dan warga menggulung cucian terakhir. Air terus mengalir dari kaki Glee Taron, dingin dan bening, seperti yang telah dilakukannya sejak zaman para sultan. Selama hulunya terjaga, mata air ini akan terus menghidupi, bukan hanya mereka yang datang berlibur, tetapi juga ribuan rumah yang bergantung padanya.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
Senja Jingga di Pantai Pelangi, Ruang Rekreasi Murah Meriah Warga Sigli
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehFeature

Senja Jingga di Pantai Pelangi, Ruang Rekreasi Murah Meriah Warga Sigli

POPULARITAS.COM – Terik matahari mulai mereda, Senin sore, 2 November 2026. Di...

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehHeadline

Tujuh Undakan Air di Kampung Naga: Menyusuri Pemandian Putri Naga di Tapaktuan

POPULARITAS.COM – Udara mendadak terasa lebih dingin begitu langkah memasuki rimbun hutan...