POPULARITAS.COM – Matahari baru naik sepenggalah ketika laut di depan Pantai Iboih mulai berkilau. Warnanya berlapis: hijau toska di tepian, biru muda di tengah, lalu biru tua di kejauhan. Begitu jernihnya, dasar laut dan ikan-ikan kecil yang berenang di sela karang bisa terlihat dari atas dermaga.
Angin laut berembus pelan membawa aroma asin. Di tepian, perahu-perahu kayu bergoyang mengikuti riak, mesinnya sesekali menderum saat mengantar pengunjung ke tengah laut.
Inilah Pantai Iboih di Kecamatan Sukakarya, Kota Sabang, yang oleh warga setempat dikenal dengan nama Teupin Layeu. Di ujung barat Indonesia ini, laut tidak hanya untuk dipandang, tetapi juga untuk diselami.
Jejak Tengku Iboih
Nama Iboih konon punya kisah sendiri. Menurut cerita yang beredar, Siti Rubiah adalah istri Tengku Ibrahim, seorang ulama bergelar Tengku Iboih yang bermukim di kawasan ini.
Nama Rubiah pun abadi pada pulau kecil tak berpenghuni di seberang pantai, Pulau Rubiah, yang konon menjadi tempat peristirahatan terakhirnya.
Dari Iboih, pulau itu hanya berjarak 5 hingga 10 menit dengan perahu motor. Di sekitar perairannya, terumbu karang tumbuh subur dan menjadikan Pulau Weh salah satu destinasi bawah laut ternama di Indonesia.
Akuarium Alami
Begitu wajah dicelupkan ke air, dunia lain terbuka. Cahaya matahari menembus permukaan, menari di atas karang, sementara kawanan ikan berwarna-warni berenang tanpa terusik.

Kekayaan itu bukan sekadar kesan. Penelitian di Pantai Teupin Layeu mencatat 21 spesies karang dari 9 famili, serta 71 spesies ikan karang dari 22 famili. Kajian lain menilai perairan ini sangat sesuai untuk menyelam dan snorkeling, dengan skor kesesuaian 86,7 persen. Di kawasan ini juga hidup biota langka, salah satunya kima raksasa (Tridacna gigas).
Bagi yang belum pernah menyelam, snorkeling cukup untuk menikmati pesona itu dari dekat. Penyelam berpengalaman bisa menjelajah lebih dalam, tentu dengan memperhatikan cuaca, arus, dan arahan pemandu setempat.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Sabang, Harry Susethia, menyebut Pulau Rubiah sebagai ikon wisata bawah laut Sabang yang kelestariannya harus dijaga bersama.
Dijaga Negara dan Adat
Keindahan ini dilindungi sejak lama. Perairan di sekitar Iboih masuk dalam Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Pulau Weh, yang ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian pada 1982.
Kawasan ini dikelola Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, sekaligus berada dalam wilayah Hukom Adat Panglima Laot Lhok Iboih. Aturan adat laut itu turut menjaga perairan dari praktik yang merusak, termasuk penangkapan ikan secara masif yang dikhawatirkan merusak terumbu karang.
Perpaduan aturan negara dan kearifan adat inilah yang membuat laut Iboih tetap jernih hingga kini.
“Sayang Kalau Rusak”

Salah seorang wisatawan, Desti kepada popularitas.com dalam keterangannya beberapa waktu lalu mengaku terpesona dengan kejernihan laut dan suasana Iboih yang tenang.
“Pantainya indah, air lautnya jernih, dan pemandangannya sangat memanjakan mata. Di sini memberikan pengalaman tersendiri, apalagi bisa menikmati suasana laut yang masih terlihat alami,” kata Desti.
Ia berharap keindahan itu terus terjaga, terutama kebersihan pantai dan kelestarian bawah laut.
“Semoga kebersihan pantai tetap terjaga dan wisatawan juga ikut menjaga lingkungan. Sayang sekali kalau tempat seindah ini rusak karena sampah atau aktivitas yang tidak bertanggung jawab,” katanya.
Laut yang Menghidupi Warga
Bagi warga Iboih, laut adalah sumber penghidupan. Pariwisata membuka peluang usaha, mulai dari penginapan, warung makan, jasa perahu, penyewaan alat snorkeling, hingga pemandu wisata.
Warga juga terlibat langsung menjaga kawasan melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Gampong Iboih. Ketuanya, Tarmizi, menilai keindahan Teupin Layeu dan Pulau Rubiah adalah aset alam yang harus dijaga bersama, karena daya tarik utamanya justru terletak pada alam yang masih asri dan bersih.
Namun, popularitas juga membawa tantangan. Makin banyak wisatawan, makin besar pula risiko sampah, aktivitas wisata yang tak terkendali, hingga kerusakan karang.
Wisatawan bisa ikut berperan dengan cara sederhana: membawa pulang sampah sendiri, mengurangi plastik sekali pakai, tidak menginjak atau menyentuh karang, serta memilih operator wisata yang peduli keselamatan dan lingkungan.
Menjelang sore, perahu-perahu kembali merapat ke dermaga. Langit perlahan jingga, dan laut Iboih tetap berkilau seperti pagi tadi. Di ujung barat Indonesia ini, keindahan itu bertahan bukan karena kebetulan, tetapi karena ada yang terus menjaganya.









Leave a comment