Home Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Kubah Megah di Kota Petro Dollar, Islamic Center Lhokseumawe Rawat Jejak Samudera Pasai
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehFeature

Kubah Megah di Kota Petro Dollar, Islamic Center Lhokseumawe Rawat Jejak Samudera Pasai

Share
TEKS FOTO: Masjid Agung Al Markazul Islamic atau Islamic Center Lhokseumawe, Aceh, menjadi salah satu ikon wisata religi dengan arsitektur megah bernuansa Timur Tengah. FOTO : popularitas.com/Fahzi
Share

POPULARITAS.COM – Dari kejauhan, kubah besarnya sudah lebih dulu menarik pandangan. Ia menjulang di antara atap-atap kota, berdiri anggun dengan sentuhan arsitektur Timur Tengah yang mudah dikenali. Saat azan berkumandang, suaranya menggema ke sudut-sudut Kota Lhokseumawe.

Itulah Masjid Agung Al Markazul Islamic, yang lebih dikenal sebagai Islamic Center Lhokseumawe. Masjid ini menjadi salah satu landmark kota sekaligus destinasi wisata religi yang ramai dikunjungi.

Begitu melangkah ke dalam, hiruk-pikuk jalanan seolah tertinggal di luar. Udara terasa lebih teduh, ruang yang lapang memberi kesan lega, dan keheningan di dalam masjid menghadirkan suasana khidmat yang membuat siapa pun ingin berlama-lama.

Berdiri di Tahun Kelahiran Kota

Pembangunan masjid ini dimulai pada 2001, tahun yang sama ketika Lhokseumawe resmi berdiri sebagai kota otonom, terpisah dari Kabupaten Aceh Utara, melalui Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2001.

Masjid ini berdiri di atas lahan seluas 33.748 meter persegi atau sekitar 3,3 hektare, dengan luas bangunan lebih dari 16 ribu meter persegi. Kapasitasnya mampu menampung sekitar 10.000 jemaah, menjadikannya salah satu masjid besar di Aceh.

Kubah besar, bentuk bangunan yang elegan, dan komposisi ruang yang luas menciptakan kesan megah sekaligus khidmat. Tak heran, masjid ini menjadi latar foto favorit para pengunjung.

Namun, Islamic Center bukan sekadar tempat salat dan berfoto. Kompleks ini dirancang sebagai pusat pengembangan Islam, pendidikan, kajian, hingga sosial ekonomi. Di dalamnya terdapat madrasah, perpustakaan, ruang pemuda, tempat pertemuan adat Aceh, radio dakwah, hingga Baitul Mal.

Suasana di sekitarnya juga hidup. Banyak pengunjung menjadikan kawasan masjid sebagai tempat berwisata dan beristirahat sambil menikmati aneka minuman yang dijajakan di sekitar kompleks.

Wajah Religius Kota Gas

Kemegahan Islamic Center terasa kontras sekaligus melengkapi wajah Lhokseumawe yang identik dengan industri gas.

Julukan Kota Petro Dollar melekat karena sejarah panjang pertambangan gas di kawasan ini, yang bermula ketika Pertamina menggandeng Mobil Oil melakukan eksplorasi pada 1968. Kinerja ekspor PT Arun sangat tinggi dan bahkan merajai ekspor gas alam dunia pada era 1990-an.

TEKS FOTO: Masjid Agung Al Markazul Islamic atau Islamic Center Lhokseumawe, Aceh, menjadi salah satu ikon wisata religi dengan arsitektur megah bernuansa Timur Tengah. FOTO : popularitas.com/Fahzi

Kilang LNG Arun dibangun dan diresmikan pada 1978, sebelum operasi pengolahan LNG berakhir pada 2014 seiring menipisnya cadangan gas.

Di tengah pasang surut kota industri itu, Islamic Center hadir sebagai penanda bahwa kehidupan modern dapat berjalan beriringan dengan nilai-nilai spiritual yang telah lama mengakar.

Gema Samudera Pasai

Berbicara tentang wisata religi di Lhokseumawe tak bisa dilepaskan dari sejarah panjang Islam di pesisir utara Aceh. Pendirian Islamic Center bahkan disebut sebagai upaya menghidupkan kembali kentalnya suasana Samudera Pasai, kerajaan yang dikenal sebagai kerajaan Islam pertama di Indonesia.

Samudera Pasai diperkirakan berdiri pada akhir abad ke-13 di wilayah yang kini menjadi Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe. Kerajaan ini menjadi pusat penting penyebaran Islam, perdagangan, dan kebudayaan Melayu-Islam di Asia Tenggara.

Pendirinya, Sultan Malikussaleh, memerintah sejak sekitar 1267. Bukti keberadaannya terpahat pada batu nisannya di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, yang mencatat tahun wafat 696 Hijriah atau 1297 Masehi. Inskripsi pada nisan itu menggambarkannya sebagai penguasa yang bertakwa.

Kejayaan Pasai juga tercatat dalam kisah para penjelajah dunia. Marco Polo pernah menetap lima bulan di wilayah yang ia sebut Samara (Samudera), sementara Ibnu Batutah singgah selama 15 hari dalam perjalanannya ke Tiongkok.

Kini, berabad-abad kemudian, Islamic Center Lhokseumawe menghadirkan wajah kehidupan Islam masa kini di atas tanah yang menyimpan warisan sejarah panjang tersebut.

“Megah dan Menenangkan”

Salah seorang pengunjung, Fadilla, mengaku terkesan dengan kemegahan arsitektur dan suasana religius masjid ini.

“Masjid ini sangat megah dan indah. Selain bisa beribadah, kita juga dapat menikmati keindahan arsitekturnya serta merasakan suasana yang tenang. Menurut saya, tempat ini sangat cocok menjadi salah satu tujuan wisata religi di Lhokseumawe,” ujar Fadilla.

Ia berharap Islamic Center semakin dikenal luas, termasuk oleh wisatawan dari luar Aceh, sehingga tak hanya menjadi pusat kegiatan keagamaan, tetapi juga pintu untuk memperkenalkan nilai-nilai Islam dan kekayaan budaya Aceh.

Bagi pengunjung, ada etika yang perlu dijaga: berpakaian sopan, menjaga ketenangan, menghormati jemaah yang beribadah, dan mengikuti aturan yang berlaku di lingkungan masjid.

Menjelang petang, cahaya matahari yang mulai condong memantul di permukaan kubah. Azan kembali berkumandang, dan jemaah berdatangan memenuhi saf. Di kota yang pernah dikenal karena gasnya, Islamic Center menjadi pengingat bahwa Lhokseumawe juga berdiri di atas warisan iman yang jauh lebih tua.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehHeadline

Tujuh Undakan Air di Kampung Naga: Menyusuri Pemandian Putri Naga di Tapaktuan

POPULARITAS.COM – Udara mendadak terasa lebih dingin begitu langkah memasuki rimbun hutan...

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehFeature

Menapak Legenda di Kota Naga: Tapak Raksasa Tuan Tapa di Tepi Samudra

POPULARITAS.COM – Debur ombak terdengar bersahutan, menghantam karang lalu pecah menjadi buih...

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehFeature

Tarek pukat, tradisi dan merawat ingatan sejarah Gampong Jawa

POPULARITAS.COM 0 Angin laut berembus kencang sore itu, membawa rasa asin yang...

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehWisata

Batu yang Bernyanyi di Perut Bukit Aceh Selatan

POPULARITAS.COM – Bising klakson dan deru mesin perlahan tertinggal di belakang. Begitu...