Home Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Shopie’s Library, Literasi Diantara Bulir Pasir Laut
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehFeatureHeadlineNewsWisata

Shopie’s Library, Literasi Diantara Bulir Pasir Laut

Share
Nur Raihan Lubis, Owner Sophie's Library Sunset. Poto : DYZ | Popularitas.com
Share

POPULARITAS.COM – Saya mendengar helaan nafas dan kemudian dihembuskan, lumayan panjang, diikuti ungkapan lega dan senyum lebar. Setelah bertanya, gadis muda yang menghela nafas tadi bernama Dea, usianya sekitar 24-25 tahun.

“Lega dan senang bisa kembali bermain kesini, saya mendapat ruang tersendiri, untuk bisa melakukan aktifitas yang menyenangkan dan menenangkan, membaca dan menggambar,” ungkapnya.

Dea dan dua temannya Meli serta Deka bukan pertama kali berkunjung kesini, bahkan mereka datang dihari kerja, agar tak terlalu bertemu banyak orang. “Ini pertama kali datang diakhir pekan, biasanya kami datang dihari kerja, setelah menunaikan semua tugas, lalu kami kesini,” ceritanya.

Saya kenalkan, lokasi yang mereka datangi adalah sebuah bangunan yang menyimpan banyak buku, bisa dikatakan sebuah pustaka tapi berlokasi dipinggir pantai. Namanya Sophie’s Library Sunset.

Sophie’s Library adalah sebuah perpustakaan yang terletak di Kawasan wisata pantai didaerah Lampuuk, Aceh Besar. Perpustakaan ini dikenal karena keberadaannya yang unik dan menarik perhatian banyak orang, baik dari dalam maupun luar Aceh. Dikenal sebagai tempat yang tidak hanya berfokus pada buku-buku, tetapi juga sebagai wadah untuk memberikan dampak positif terhadap masyarakat sekitar, terutama dalam bidang pendidikan.

Pemiliknya bernama Nur Raihan Lubis, seorang jurnalis perempuan yang kini fokus pada aktifitas menulis buku. Beberapa buku sudah dikaryakannya, misalnya Siti Kewe, sebuah novel kisah petani kopi di Kabupaten Aceh Tengah.

“Berawal dari kegelisahan saya untuk menempatkan koleksi buku yang saya punya, sementara rumah yang saya tempati saat itu kecil, kami menyewa sebuah rumah di Pusat Kota Banda Aceh, jadi semua buku hanya tersimpan dalam boks tanpa bisa dimanfaatkan,” kisah Raihan, awal November 2025, kepada popularitas.com.

Hingga pada suatu hari ditahun 2022, sambung Raihan, ada seorang teman tiba-tiba menawarkan rumah pantai miliknya yang bisa ditempati dengan harga sewa yang terjangkau oleh Raihan dan keluarga. “Tanpa menunggu lama kami setuju dan mulai membersihkan rumah dan area disekitarnya, dan tempat ini persis seperti apa yang saya idamkan selama ini, suasana tenang dan bisa membuka sebuah pustaka mini seperti yang saya cita-citakan,” katanya.

Selain menjadi rumah tinggal, bangunan kayu berlantai dua itu juga dijadikan Pustaka oleh Raihan dan terbuka untuk umum, siapapun boleh berkunjung dan membaca buku ditempat sembari menikmati suasana pantai.

“Nah, agar pengunjung betah, kami juga kemudian menyediakan beberapa jenis makanan dan minuman layaknya sebuah café sederhana, sehingga pengunjungpun bisa betah dan berlama-lama di Pustaka,” ujar Raihan.

Raihan menyebut ini adalah konsep wisata berliterasi. Diera serba digital ini, sebut Raihan, keinginan membaca buku saat ini semakin menurun, dan untuk membaca setiap orang perlu ruang yang menarik bukan ruang Pustaka seperti kotak yang mengukung pergerakan setiap orang.

Menjawab hal ini Raihan pun menata perpustakaannya seunik mungkin agar menyenangkan bagi pengunjung.

Situasi ini pun diamini oleh Dea. Bagi Dea, suasana perpustakaan seperti ini adalah hal pertama yang dijumpainya di Banda Aceh. “Bahkan di café-café dipusat kota pun tidak ada yang menyediakan buku bacaan apatah lagi ruang Pustaka.

Tidak sedikit juga, sebut Raihan, kandidat doktoral datang dan menyelesaikan jurnal doktoral mereka disini. “Sebagian mereka menemukan referensi yang dibutuhkan di koleksi Pustaka kami, Sebagian lain menyebutkan butuh tempat nyaman untuk mengerjakan aneka tugas, bagi saya ini luar biasa,” sebut Raihan.

Nama Shopie sendiri diambil dari nama anak ketiga Raihan dan sang suami Dendy Montgomery, yakni Sophie Montgomery.

Kini, Pustaka Shopie sudah memiliki 6000 koleksi buku, dan seperdelapannya adalah koleksi buku sejarah, konflik dan kolonial di Aceh. “Dan secara mengejutkan ternyata banyak sekali yang tertarik dengan sejarah konflik, kerajaan dan masa kolonial di Aceh. Saya pun mulai berusaha mengoleksi lebih banyak buku-buku seperti ini,” jelas perempuan yang murah senyum ini.

Mendukung sosialisasi literasi bagi sekolah sekitar Sophie’s Library, ia pun memutuskan untuk membuat program pinjam baca buku koleksi pustakanya. “Kami akan menambah program pustaka yakni pinjam baca buku untuk warga sekitar sini, bahkan tidak menutup kemungkinan untuk tamu dari luar yang datang sehingga konsep wisata sambl membaca menjadi lebih menyenangkan,” tutup Raihan.

Cobalah anda nikmati berwisata dengan konsep literasi ini. Datang, baca beberapa buku dengan santai dan ketika senja tiba, anda bisa menikmati sunset dengan warna keemasan yang mewah, dan lengkaplah sudah hari anda saat itu.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
Marzuki Ali Basyah luncurkan buku ‘Polda Aceh Meutuah’
News

Marzuki Ali Basyah luncurkan buku ‘Polda Aceh Meutuah’

POPULARITAS.COM – Irjen Pol Marzuki Ali Basyah, rabu (3/6/2026), resmi luncurkan bukunya....

News

Gerindra Pidie Jaya : Pergantian pimpinan BGN perkuat program MBG

POPULARITAS.COM – Politikus partai Gerindra di Pidie Jaya, Fakhrurrazi mendukung penuh kebijakan...

InternasionalNews

Krisis Demografi Makin Nyata, Jepang Kehilangan 3 Juta Penduduk dalam 5 Tahun

POPULARITAS.COM – Jepang tengah menghadapi krisis demografi yang kian mengkhawatirkan. Dalam lima...

News

Dasco Mengaku Baru Dengar Kejagung Geledah Kantor BGN

POPULARITAS.COM – Wakil Ketua DPR sekaligus Ketua Harian Partai Gerindra, Sufmi Dasco...