Home Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Sore yang Riuh di Geunang Geudong: Kopi Aceh, Mi Rempah, dan Danau di Pinggir Meulaboh
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehFeature

Sore yang Riuh di Geunang Geudong: Kopi Aceh, Mi Rempah, dan Danau di Pinggir Meulaboh

Share
TEKS FOTO: Suasana kawasan wisata Geunang Geudong di Desa Putim, Kecamatan Kaway XVI, Kabupaten Aceh Barat, yang menjadi salah satu pilihan masyarakat untuk menikmati waktu luang bersama keluarga. FOTO : popularitas.com/Fahzi
Share

POPULARITAS.COM – Deru kendaraan dan hiruk-pikuk Kota Meulaboh perlahan tertinggal di belakang. Jalan mulai membelah permukiman, lalu kampung-kampung yang lebih lengang. Di kiri-kanan, warga sibuk dengan aktivitasnya: ada yang menjemur hasil kebun, ada yang bercengkerama di beranda rumah, ada pula anak-anak yang bersepeda pulang sekolah.

Sekitar 30 menit kemudian, setelah menempuh jarak kurang lebih 17 kilometer, perjalanan tiba di Desa Putim, Kecamatan Kaway XVI, Kabupaten Aceh Barat. Di sinilah Danau Geunang Geudong berada.

Perjalanan bisa ditempuh dengan sepeda motor maupun mobil. Bagi sebagian pengunjung, suasana pedesaan sepanjang jalan justru menjadi bagian dari pengalaman wisata itu sendiri.

Genangan yang Luas

Nama danau ini menggambarkan wujudnya. Dalam bahasa Aceh, geunang berarti genangan, sedangkan geudong berarti besar atau luas.

Danau ini memiliki luas sekitar tujuh hektare. Bentuknya menyerupai cekungan raksasa yang dikelilingi tiga desa. Di beberapa sudut, bunga-bunga tumbuh di permukaan air, sementara pepohonan rindang menaungi tepiannya.

Nama kecamatannya pun menyimpan sejarah. Kaway XVI disebut berasal dari nama federasi pemerintahan di wilayah barat Aceh yang terdiri atas 16 uleebalang di kawasan Meulaboh, Nagan Raya, dan sekitarnya. Kata kaway dimaknai sebagai penjagaan, atau ikatan persatuan di antara mereka.

Hidup Menjelang Senja

TEKS FOTO: Suasana kawasan wisata Geunang Geudong di Desa Putim, Kecamatan Kaway XVI, Kabupaten Aceh Barat, yang menjadi salah satu pilihan masyarakat untuk menikmati waktu luang bersama keluarga. FOTO : popularitas.com/Fahzi

Siang hari, Geunang Geudong cenderung tenang. Namun, menjelang sore, suasananya berubah. Satu per satu pengunjung berdatangan. Ada keluarga yang menggelar tikar di bawah pohon, rombongan anak muda yang tertawa riang sambil berswafoto, hingga pasangan yang duduk diam memandangi permukaan danau. Matahari yang mulai condong membuat udara lebih ramah, dan angin sore berembus pelan, menggoyang dedaunan hingga berdesir lembut.

Cahaya keemasan memantul di permukaan air, menciptakan kilau yang berubah-ubah setiap kali riak kecil bergerak. Momen inilah yang banyak diburu pengunjung untuk diabadikan. Cut Alva, salah seorang pengunjung, mengaku sore adalah waktu terbaik untuk datang.

“Menurut saya, sore hari menjadi waktu yang menarik untuk berkunjung karena suasananya lebih ramai. Kita bisa melihat orang-orang datang bersama keluarga atau teman untuk menikmati waktu luang. Suasana seperti ini membuat kunjungan terasa lebih menyenangkan,” kata Cut Alva.

Bagi yang ingin menjelajah lebih jauh, pengelola juga menyediakan ojek perahu untuk berkeliling danau. Kawasan ini juga dikenal cocok untuk memancing.

Kopi dan Mi di Tepi Danau

Setelah puas berkeliling, warung-warung kopi dan tempat makan di sekitar danau siap menyambut.

Aroma kopi Aceh yang baru diseduh menguar dari balik meja warung, pekat dan sedikit pahit, menggoda siapa pun untuk singgah. Uapnya mengepul dari gelas, hangat di tangan saat angin sore mulai terasa sejuk.

Tak jauh dari sana, wajan besar berdesis saat mi Aceh diaduk bersama bumbu rempah yang kaya. Wangi kari, bawang, dan cabai bercampur menjadi satu, membuat perut seketika keroncongan. Sepiring mi Aceh panas, disantap sambil memandangi danau yang mulai berwarna jingga, menjadi penutup hari yang sempurna.

Menjaga Danau Tetap Asri

Ramainya pengunjung menjadi bukti Geunang Geudong telah menjadi salah satu pilihan warga untuk mengisi waktu luang. Namun, keramaian juga membawa tanggung jawab.

TEKS FOTO: Suasana kawasan wisata Geunang Geudong di Desa Putim, Kecamatan Kaway XVI, Kabupaten Aceh Barat, yang menjadi salah satu pilihan masyarakat untuk menikmati waktu luang bersama keluarga. FOTO : popularitas.com/Fahzi

Pengunjung diharapkan tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kelestarian lingkungan danau, dan menghormati aktivitas warga setempat.  Kebiasaan sederhana itu akan membuat kawasan ini tetap nyaman bagi pengunjung berikutnya.

Pengembangan wisata pun tak cukup hanya mengandalkan pemandangan. Kemudahan akses, kebersihan, dan kenyamanan pengunjung perlu terus ditingkatkan agar Geunang Geudong makin dikenal, tak hanya oleh warga lokal, tetapi juga wisatawan yang singgah di Aceh Barat.

Bagi yang berencana datang, pastikan kondisi kendaraan prima, bawa perlengkapan pribadi secukupnya, dan cek kondisi jalan sebelum berangkat.

Saat matahari akhirnya tenggelam, pengunjung mulai beranjak pulang. Gelas-gelas kopi di warung telah kosong, dan permukaan danau perlahan meredup. Geunang Geudong kembali tenang, menunggu sore berikutnya untuk kembali riuh.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehFeature

Sejuk yang Rapuh di Mata Ie: Dari Hulu Sungai Istana hingga Keran Ribuan Rumah

POPULARITAS.COM – Begitu kaki dicelupkan, dinginnya langsung menjalar hingga ke tulang. Air...

Senja Jingga di Pantai Pelangi, Ruang Rekreasi Murah Meriah Warga Sigli
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehFeature

Senja Jingga di Pantai Pelangi, Ruang Rekreasi Murah Meriah Warga Sigli

POPULARITAS.COM – Terik matahari mulai mereda, Senin sore, 2 November 2026. Di...