Tragedi Stadion Kanjuruhan, duka sepak bola dunia

Tidak kurang 153 orang meninggal dunia saat insiden kerusuhan suporter pada pertandingan Arema FC dan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan Malang, Sabtu (1/10/2022). Jumlah penonton yang tewas itu menempatkan peristiwa itu sebagai catatan kelam bagi dunia sepak bola di tanah air, dan bahkan dunia.

Betapa tidak, tragedi Stadion Kanjuruhan tersebut, menimbulkan korban jiwa tidak kurang 153 orang, nomor dua terbesar kasus kematian penonton sepak bola dalam sejarah dunia.

Jumlah kematian terbesar di pertandingan sepak bola terjadi pada 1964 di Estadio Nacional Disaster Kota Peru, dengan jumlah tewas 328 orang. Tak pelak, jumlah penonton yang meninggal di Stadion Kanjuruhan menempatkan Indonesia nomor dua di dunia. Miris dan menyedihkan.

Besarnya jumlah korban tewas di Stadion Kanjuruhan, bukanlah insiden, tapi layak di sebut tragedi. Ini duka bagi pecinta sepak bola dunia.

Patut diduga, korban yang meninggal umumnya akibat terinjak-injak oleh penonton lainnya usai aparat yang mengawal jalannya pertandingan menggunakan gas air mata untuk menghalau kerusuhan minor yang dilakukan oleh suporter.

Tembakan gas air mata itu memantik kepanikan puluhan ribu penonton lainnya yang berlomba keluar dari stadion. Dampaknya, ratusan orang terjatuh, terjepit, dan terinjak-injak. Korban tewas ratusan orang, dan mungkin masih akan terus bertambah.

Pertandingan yang digelar malam hari ini, membuat situasi kepanikan lebih bertambah, dan hasilnya, jejeran kematian menjadi saksi kelam pertandingan sepak bola antara Arema FC dan Persebaya Surabaya itu.

Manajer Arema FC sendiri, telah meminta agar pertandingan di majukan pada sore hari, namun PT Liga Indonesia Baru (PT LIB) selaku penyelenggara even menolak permohonan itu, dan tetap melaksanakan jalannya duel kedua tim, Sabtu (1/10/20220 pukul 20.00 WIB.

Kita semua berduka atas peristiwa ini, catatan angka kematian harus jadi pelajaran penting semua pihak untuk mengevaluasi kembali prosedur pertandingan sepak bola ditanah air, agar kasus serupa tidak terulang.

Kita juga minta kepada pihak-pihak terkait, PT LIB, Kapolda Jawa Timur, PSSI untuk bertanggungjawab dalam kasus ini. Bentuk pertanggungjawaban adalah harus mundur, hingga aparat kepolisian menuntaskan penyebab terjadinya tragedi itu. Presiden RI Joko Widodo sendiri telah meminta kasus tersebut di ungkap tuntas penyebabnya. Harapan kita semua, para korban yang meninggal mendapatkan tempat di sisi terbaik Allah, dan peristiwa ini sebagai titik tolak untuk mengevaluasi sisterm persepakbolaan di tanah air. (**EDITORIAL)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.