Feature

410 Tulisan
Mukhtar dan kursi roda kala banjir bandang melanda di Pidie Jaya POPULARITAS.COM - Pidie Jaya, satu dari 18 kabupaten dan kota di Aceh yang terdampak langsung bencana banjir bandang dan tanah longsor. Saat air bah menghumbalang kabupaten itu, Mukhtar (45), saksi hidup yang melihat secara nyata kala luapan gemuruh air, lumpur dan gelondongan kayu menyapu habis apapun. Selasa 25 November 2025 malam hari, kata Mukhtar mengawali kisahnya. Dari atas kursi rodanya, Ia melihat air mulai meluap dan masuk ke rumah-rumah warga. Saat itu, ia tengah berbaring diatas kasur di rumahnya. Mukhtar tinggal di Gampong Meunasah Lhok, Meureudu, Pidie Jaya. Dirinya yang tak bisa bergerak sebab lumpuh, saat itu menyaksikan detik demi detik air mulai memenuhi kamar tidurnya. Selang beberapa saat kemudian, ketinggian air telah menenggelamkan tempatnya berbaring. Ya, situasi itu tak membuatnya pasrah. Ia mengaku, meski kondisi tubuhnya terbatas akibat kelumpuhan, dirinya tak menyerah. “Saya lumpuh akibat kecelakaan motor 13 tahun lalu,” kata Mukhtar mengawali kisahnya kepada popularitas.com, Selasa 6 Januari 2026. Saat berbincang dengan popularitas.com, Mukhtar duduk dengan santai diatas kursi rodanya. Lelaki itu mengenakan kaos putih. Sorot matanya tajam dan bicaranya tenang dan kalimat yang disampaikannya mengalir. Sembari membenarkan posisi duduknya, Mukhtar melanjutkan ceritanya. Saat itu, banjir sudah masuk ke rumah. Meski kondisi tubuhnya yang terbatas, namun dirinya tetap berupaya ingin selamat. Saat itu, air makin deras dan terus meninggi. Dalam situasi yang pelik, adiknya Muksalmina (35) pun datang melihatnya. Dengan sigap, keduanya pun berhasil menyelamatkan diri dengan dua lembar papan. “Tubuh saya dibaringkan diatas papan oleh adik saya. Lalu kami berenang menyelamatkan diri,” imbuhnya. Saat itu, sambungnya lagi, ketinggian air telah mencapai 1,5 meter. Namun, ia bersama adik dan kakaknya terus berenang menyelamatkan diri. Sementara, seluruh perkampungan telah rata dengan genangan air. “Kira-kira saat kami berenang itu, ketinggian banjir sudah capai 1,5 meter,” ucapnya. Malam terus bergerak, bahkan hingga jelang subuh. Lantunan ayat alquran yang biasa nyaring dari pengeras suara masjid, waktu itu tidak terdengar. Yang ada hanya gemuruh air dan suara orang-orang yang saling menyelamatkan diri. Ia mencoba melirik jam tangannya yang berembun. Samar-samar, jarum jam menujuk pukul 04.20 WIB. Namun, luapan air tak berhenti dan justru kian tinggi. “Saat itu, yang ada dalam pikiran hanya menyelamatkan diri dan minta bantuan,” ujarnya lagi. Sebagai korban banjir, Mukhtar kini tinggal di Posko Pengungsian Gampong Meunasah Lhok. Bangunan toko milik yang belum rampung milik Haji Wan itu, kini dijadikan tempat penampungan sementara oleh warga. Dalam situasi kegentingan, ia pun mencoba menghubungi para pihak, saudara-saudara, para pejabat dan nomor siapa saja yang tersimpan dalam memori hapenya, sambung Mukhtar melanjutkan kisahnya. Meski hapenya tak ada pulsa, Mukhtar berharap ada keajaiban yang bisa membuatnya terhubung dengan orang-orang yang bisa memberikan bantuan dan pertolongan. “Saya sadar ponsel tak ada pulsa, tapi berharap ada keajaiban,” sebutnya. Tak terbilang beberapa kali ia mencoba peruntungan lewat hape yang digengamnya itu. Nyaris tidak ada terhubung. Bahkan, kenalannya di badan penanggulangan bencana pun tak luput ia telpon. “Saat itu, jika ada keajaiban bisa terhubung, rasanya hanya ingin minta dikirimkan perahu karet atau evakuasi,” ungkapnya. Butuh Kursi Roda Mukhtar mengaku, meski tinggal di pengungsian, dirinya tetap bersyukur. Sebab, Allah SWT masih memberinya kesempatan hidup dan beramal. Kini, pascabencana, harapan yang ia miliki hanya kursi roda baru. “Saya butuh kursi roda, yang ini sudah rusak,” katanya. Karna itu, dirinya berharap ada pihak-pihak yang bisa membantunya mendapatkan kursi roda, untuk menopang kehidupannya yang serba dalam keterbatasan. Ia pun berharap, daerah-daerah yang dilanda banjir bandang bisa cepat pulih, terutama kampung tempatnya bermukim. Saat berbincang dengan Mukhtar, beberapa anak-anak berlari dan bersepeda. Pria-pria dewasa sibuk mengangkut bahan-bahan makanan. Bangunan yang dijadikan Posko Pengungsian itu, tak begitu ramai siang itu. Hanya terlihat lalang beberapa kenderaandan hilir mudik orang-orang, serta burung-burung terbang rendah di lokasi pengungsian tersebut. Mukhtar tentu ingin cepat pulang, pun begitu ratusan warga lainnya yang tinggal sementara di bangunan dua lantai itu. Harapan lelaki berkursi roda itu, sama seperti keinginan masyarakat lainnya, bisa segera pulang dan menata kehidupan dan masa depan kembali.
FeatureHeadline

Mukhtar dan kursi roda kala banjir bandang melanda di Pidie Jaya

POPULARITAS.COM – Pidie Jaya, satu dari 18 kabupaten dan kota di Aceh yang terdampak langsung bencana banjir bandang dan tanah longsor. Saat air...

FeatureHeadline

Seulas senyum Nurlaila untuk Syibral

POPULARITAS.COM – Nurlaila (60), meski usia terbilang renta, namun semangatnya masih menyala. Banjir bandang yang menyampu tempat tinggalnya, tak lantas membuat perempuan sepuh...

Air, lumpur, dan gelondongan kayu potret pascabencana di Pidie Jaya
Feature

Air, lumpur, dan gelondongan kayu potret pascabencana di Pidie Jaya

POPULARITAS.COM – Tiga pekan pascabencana di Pidie Jaya, air, lumpur, dan sisa gelondongan kayu masih jadi pemandangan sehari-hari. Rumah-rumah penduduk yang terimbas dari...

Tangis tertahan Ali Imran di Aceh Tamiang
FeatureHeadlineNews

Tangis tertahan Ali Imran di Aceh Tamiang

POPULARITAS.COM – Ali Imran, satu-satunya Danrem yang super sibuk ditengah bencana menghumbalang Aceh. Sebagai Komandan Korem 011/Lilawangsa, yang kekuasaan teritorialnya dari Pidie hingga...

FeatureNews

Saiful, Penyangga Sehat Warga Beutong Ateuh Benggalang

POPULARITAS.COM – Pagi itu, embun masih menggantung di udara dingin yang menelusup di sela batang-batang kayu patah. Sungai Beutong Ateuh, jalur penghubung Nagan...

FeatureNews

Rumah Hanyut, Warga Beutong Nagan Raya Bertahan di Kantor Camat dan Tenda Darurat

POPULARITAS.COM – Dua pekan sudah berlalu sejak banjir bandang menggulung Beutong Ateh Banggalang dan sejumlah wilayah lain di Aceh. Namun waktu belum mampu...

FeatureNews

Pang Kade Dan Upaya Normalisasi Sungai Pascabencana Untuk Keamanan Warga Pidie Jaya

POPULARITAS.COM – Gelondongan kayu-kayu gunung berkualitas super menumpuk, menimbun dan menutup jalur aliran Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Meureudu, Pidie Jaya, sepanjang 1...

Air Terjun Tangga Seribu, sekeping surga tersembunyi di Aceh Selatan
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehFeatureHeadline

Air Terjun Tangga Seribu, sekeping surga tersembunyi di Aceh Selatan

POPULARITAS.COM – Satu dari banyak destinasi wisata di Aceh Selatan, yakni Air Terjun Tangga Seribu. Letaknya di Desa Ie Jeureneuh, Trumon. Butuh effort...

Namo Sampuren, Grand Canyon Ala Amerika di Subulussalam
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehFeature

Namo Sampuren, Grand Canyon Ala Amerika di Subulussalam

POPULARITAS.COM – Tidak semua keindahan alam berteriak dari pinggir jalan. Beberapa, justru bersembunyi di lembah sunyi, menunggu untuk ditemukan oleh mereka yang mau...

FeatureNews

Antara BBM dan Rasa Empati Warga di Banda Aceh

POPULARITAS.COM – Waktu menunjukkan pukul 6.30 wib pagi, Selasa (2/12/2025). Muksalmina dengan wajah kuyu sudah berada di depan SPBU Simpang Dodik Banda Aceh....