Headline

2988 Tulisan
HeadlineNews

Muraya Hotel Aceh, General Manager: Memperkuat Silaturahmi & Kebersamaan

POPULARITAS.COM – General Manager (GM) Muraya Hotel Aceh Bambang Pramusinto mengapresiasi kepada para pendonor yang sudah hadir yang terdiri dari TNI-POLRI, Komunitas, Ormas,...

HeadlineOpini

Solusi tak perlu lapor SPT bagi wajib pajak non-aktif

POPULARITAS.COM – Banyak warga yang bingung, saat sudah tidak lagi bekerja, atau usahanya tutup, namun kerap mendapatkan notifikasi wajib lapor SPT. Rutinitas itu...

Mukhtar dan kursi roda kala banjir bandang melanda di Pidie Jaya POPULARITAS.COM - Pidie Jaya, satu dari 18 kabupaten dan kota di Aceh yang terdampak langsung bencana banjir bandang dan tanah longsor. Saat air bah menghumbalang kabupaten itu, Mukhtar (45), saksi hidup yang melihat secara nyata kala luapan gemuruh air, lumpur dan gelondongan kayu menyapu habis apapun. Selasa 25 November 2025 malam hari, kata Mukhtar mengawali kisahnya. Dari atas kursi rodanya, Ia melihat air mulai meluap dan masuk ke rumah-rumah warga. Saat itu, ia tengah berbaring diatas kasur di rumahnya. Mukhtar tinggal di Gampong Meunasah Lhok, Meureudu, Pidie Jaya. Dirinya yang tak bisa bergerak sebab lumpuh, saat itu menyaksikan detik demi detik air mulai memenuhi kamar tidurnya. Selang beberapa saat kemudian, ketinggian air telah menenggelamkan tempatnya berbaring. Ya, situasi itu tak membuatnya pasrah. Ia mengaku, meski kondisi tubuhnya terbatas akibat kelumpuhan, dirinya tak menyerah. “Saya lumpuh akibat kecelakaan motor 13 tahun lalu,” kata Mukhtar mengawali kisahnya kepada popularitas.com, Selasa 6 Januari 2026. Saat berbincang dengan popularitas.com, Mukhtar duduk dengan santai diatas kursi rodanya. Lelaki itu mengenakan kaos putih. Sorot matanya tajam dan bicaranya tenang dan kalimat yang disampaikannya mengalir. Sembari membenarkan posisi duduknya, Mukhtar melanjutkan ceritanya. Saat itu, banjir sudah masuk ke rumah. Meski kondisi tubuhnya yang terbatas, namun dirinya tetap berupaya ingin selamat. Saat itu, air makin deras dan terus meninggi. Dalam situasi yang pelik, adiknya Muksalmina (35) pun datang melihatnya. Dengan sigap, keduanya pun berhasil menyelamatkan diri dengan dua lembar papan. “Tubuh saya dibaringkan diatas papan oleh adik saya. Lalu kami berenang menyelamatkan diri,” imbuhnya. Saat itu, sambungnya lagi, ketinggian air telah mencapai 1,5 meter. Namun, ia bersama adik dan kakaknya terus berenang menyelamatkan diri. Sementara, seluruh perkampungan telah rata dengan genangan air. “Kira-kira saat kami berenang itu, ketinggian banjir sudah capai 1,5 meter,” ucapnya. Malam terus bergerak, bahkan hingga jelang subuh. Lantunan ayat alquran yang biasa nyaring dari pengeras suara masjid, waktu itu tidak terdengar. Yang ada hanya gemuruh air dan suara orang-orang yang saling menyelamatkan diri. Ia mencoba melirik jam tangannya yang berembun. Samar-samar, jarum jam menujuk pukul 04.20 WIB. Namun, luapan air tak berhenti dan justru kian tinggi. “Saat itu, yang ada dalam pikiran hanya menyelamatkan diri dan minta bantuan,” ujarnya lagi. Sebagai korban banjir, Mukhtar kini tinggal di Posko Pengungsian Gampong Meunasah Lhok. Bangunan toko milik yang belum rampung milik Haji Wan itu, kini dijadikan tempat penampungan sementara oleh warga. Dalam situasi kegentingan, ia pun mencoba menghubungi para pihak, saudara-saudara, para pejabat dan nomor siapa saja yang tersimpan dalam memori hapenya, sambung Mukhtar melanjutkan kisahnya. Meski hapenya tak ada pulsa, Mukhtar berharap ada keajaiban yang bisa membuatnya terhubung dengan orang-orang yang bisa memberikan bantuan dan pertolongan. “Saya sadar ponsel tak ada pulsa, tapi berharap ada keajaiban,” sebutnya. Tak terbilang beberapa kali ia mencoba peruntungan lewat hape yang digengamnya itu. Nyaris tidak ada terhubung. Bahkan, kenalannya di badan penanggulangan bencana pun tak luput ia telpon. “Saat itu, jika ada keajaiban bisa terhubung, rasanya hanya ingin minta dikirimkan perahu karet atau evakuasi,” ungkapnya. Butuh Kursi Roda Mukhtar mengaku, meski tinggal di pengungsian, dirinya tetap bersyukur. Sebab, Allah SWT masih memberinya kesempatan hidup dan beramal. Kini, pascabencana, harapan yang ia miliki hanya kursi roda baru. “Saya butuh kursi roda, yang ini sudah rusak,” katanya. Karna itu, dirinya berharap ada pihak-pihak yang bisa membantunya mendapatkan kursi roda, untuk menopang kehidupannya yang serba dalam keterbatasan. Ia pun berharap, daerah-daerah yang dilanda banjir bandang bisa cepat pulih, terutama kampung tempatnya bermukim. Saat berbincang dengan Mukhtar, beberapa anak-anak berlari dan bersepeda. Pria-pria dewasa sibuk mengangkut bahan-bahan makanan. Bangunan yang dijadikan Posko Pengungsian itu, tak begitu ramai siang itu. Hanya terlihat lalang beberapa kenderaandan hilir mudik orang-orang, serta burung-burung terbang rendah di lokasi pengungsian tersebut. Mukhtar tentu ingin cepat pulang, pun begitu ratusan warga lainnya yang tinggal sementara di bangunan dua lantai itu. Harapan lelaki berkursi roda itu, sama seperti keinginan masyarakat lainnya, bisa segera pulang dan menata kehidupan dan masa depan kembali.
FeatureHeadline

Mukhtar dan kursi roda kala banjir bandang melanda di Pidie Jaya

POPULARITAS.COM – Pidie Jaya, satu dari 18 kabupaten dan kota di Aceh yang terdampak langsung bencana banjir bandang dan tanah longsor. Saat air...

FeatureHeadline

Seulas senyum Nurlaila untuk Syibral

POPULARITAS.COM – Nurlaila (60), meski usia terbilang renta, namun semangatnya masih menyala. Banjir bandang yang menyampu tempat tinggalnya, tak lantas membuat perempuan sepuh...

Teguh minta presiden copot Kepala BPIP Yudian Wahyudi terkait kontroversi jilbab petugas Paskibraka 2024
HeadlineInternasional

Kekayaan minyak Venezeula jadi motif utama Amerika Serikat culik Maduro

POPULARITAS.COM – Amerika Serikat melakukan serangan besar-besaran secara terbatas ke Caracas, ibu kota Venezeula. Pasukan negara berjuluk Paman Sam itu, berhasil menangkap Presiden...

Tak tetapkan banjir dan tanah longsor di Aceh dan Sumatra jadi bencana nasional, ini alasan Presiden Prabowo
Headline

Tak tetapkan banjir dan tanah longsor di Aceh dan Sumatra jadi bencana nasional, ini alasan Presiden Prabowo

POPULARITAS.COM – Satu bulan usai banjir bandang dan tanah longsor yang landa Sumatra, Presiden RI Prabowo Subianto, tak kunjung tetapkan status bencana nasional....

HeadlineNews

Tak ada pesta kembang api di Banda Aceh

POPULARITAS.COM – Penghujung malam pergantian tahun, Kota Banda Aceh tak ada gemuruh, riuh, dan pesta kembang api. Semua berjalan normal. Meski kerumuman warga...

Asa di Krueng Tingkuem Kuta Blang Bireuen
EditorialHeadline

Asa di Krueng Tingkuem Kuta Blang Bireuen

POPULARITAS.COM – Tak terbayangkan semua orang, jembatan kokoh di jalan lintas nasional Banda Aceh-Medan, ambruk dan tak bisa difungsikan. Banjir besar yang melanda...

Relawan cilik asal Medan, bagi mainan anak untuk korban banjir di Aceh Tamiang
Headline

Relawan cilik asal Medan, bagi mainan anak untuk korban banjir di Aceh Tamiang

POPULARITAS.COM – Ayunindya Clarissa, masih berusia bocah. Umurnya baru 6 tahun. Tapi, semangatnya dan rasa empatinya terhadap korban banjir di Aceh Tamiang, gerakkan...

Amina siswi SMA Aceh tengah kirim surat terbuka ke Prabowo minta dana MBG untuk banjir
Headline

Amina siswi SMA Aceh tengah kirim surat terbuka ke Prabowo minta dana MBG untuk banjir

POPULARITAS.COM – Amina Tazakia, siswi SMA Unggul 8 Takengon, Aceh Tengah, kirimkan surat terbuka untuk Presiden RI Prabowo Subianto. Lewat kabar tertulis itu,...