POPULARITAS.COM – Penghujung malam pergantian tahun, Kota Banda Aceh tak ada gemuruh, riuh, dan pesta kembang api. Semua berjalan normal. Meski kerumuman warga sempat terjadi di detik-detik pergantian kalender, secara umum, di wilayah itu nyaris biasa saja.
Tak ada kemacetan berjam-jam. Langit malam itu cerah, hiasan kembang api dan suara mercon sama sekali tak ada. Banda Aceh begitu damai.
Ya, jauh-jauh hari, ulama, pemerintah, dan pemerintah kota, telah ingatkan, larangan perayaan tahun baru. Bukan tahun ini saja, tapi sudah bertahun-tahun hal itu terus disampaikan. Jadi, setiap pergantian kalender, di Banda Aceh tak ada pesta kembang api.
Malam Tahun Baru di Banda Aceh Berlangsung Aman Tanpa Pesta Kembang Api
Simpang Lima di Banda Aceh, episentrum warga kota, malam itu lalu lintas kenderaan tampak ramai. popularitas.com yang memantau situasi malam pergantian tahun, hanya mendapati masyarakat memilih berkeliling-keliling mengenakan sepeda motor dan mobil pribadi.
Sejumlah personel kepolisan, Dinas Perhubungan, terlihat mengatur arus lalu lintas agar tidak mengalami kemacetan.
“Dari momentum pergantian tahun baru, memang di daerah kita tidak ada perayaan,” kata Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal kepada wartawan di Banda Aceh, Kamis (1/1/2025).
Illiza mengatakan, berdasarkan pantauan aktivitas warga pada malam pergantian tahun kali ini memang tidak seramai tahun-tahun sebelumnya.

Meski demikian, lanjut Illiza, bertepatan dengan hari libur, sebagian masyarakat tetap keluar rumah sekadar berkeliling untuk melihat kondisi kota, yang sempat menimbulkan kepadatan lalu lintas di beberapa titik.
“Namun secara umum, jumlah warga yang beraktivitas di malam hari mengalami penurunan cukup signifikan,” jelasnya.
Selain itu, Illiza juga mengajak seluruh warga Kota Banda Aceh untuk menumbuhkan empati dan kepedulian terhadap para korban bencana banjir dan longsor pada 26 November 2025. Apalagi, kata Illiza, Banda Aceh pernah merasakan solidaritas besar dari berbagai pihak pascatsunami.
“Oleh sebab itu, kami mengimbau masyarakat untuk melakukan muhasabah dan introspeksi diri, serta mendoakan keluarga dan saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah,” ujarnya.
Illiza berharap doa dan empati masyarakat dapat menjadi kekuatan moral bagi para korban bencana banjir dan longsor di Aceh. “Semoga Allah memberikan jalan keluar terbaik, mempercepat proses pemulihan, dan tidak lagi terjadi bencana, sehingga kita bisa kembali hidup sebagaimana biasanya,” pungkasnya.











Leave a comment