POPULARITAS.COM – Empat warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja sebagai pelaut di kapal tanker asing MT Honour 25 dilaporkan masih disandera kelompok perompak di perairan Somalia selama 2 bulan terakhir. Kondisi para sandera disebut semakin memprihatinkan akibat krisis makanan, air bersih, serta tekanan psikologis yang berat.
Sebuah video amatir yang beredar memperlihatkan para kru kapal duduk di sebuah ruangan kapal sambil menunjukkan kondisi logistik yang sangat terbatas. Dalam rekaman tersebut, terlihat makanan seadanya serta air minum yang tampak keruh.
Kapten kapal, Azhari Samadikun yang merupakan warga Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, tampak menyampaikan permohonan bantuan dalam video tersebut.
“Saya Kapten Honor 25 memohon bantuan segera kepada kami, karena kondisi kami sekarang sangat-sangat kritis. Kami tidak tahu harus bertahan dengan apa,” ujarnya.
Ia juga menyebut kondisi para kru semakin memburuk, dengan sejumlah awak kapal mengalami sakit akibat keterbatasan pasokan makanan dan air bersih.
“Sekarang kru saya banyak yang sakit. Mereka mengalami diabetes, infeksi. Banyak yang sudah tidak mampu bertahan sekarang, karena kami makan dengan makanan seadanya dan air kotor,” sambungnya.
Dalam video tersebut, para kru terlihat kesulitan mendapatkan kebutuhan dasar. Pasokan makanan disebut telah menipis, sementara air bersih sudah tidak tersedia sehingga mereka terpaksa mengonsumsi air yang tidak layak.
Kondisi ini diperburuk dengan putusnya komunikasi antara para sandera dan keluarga dalam beberapa minggu terakhir.
Orang tua Azhari yang tinggal di Dusun Moncongloe, Desa Paccellekang, Kecamatan Pattallassang, Gowa, mengungkapkan anaknya bersama kru lain telah disandera selama 2 bulan tanpa kepastian penyelamatan.
Ia juga menyebut tidak ada komunikasi yang intens antara pihak keluarga dengan perusahaan pemilik kapal maupun upaya negosiasi yang jelas.
“Pihak perusahaan tidak ada yang peduli terhadap orang-orang yang ada di atas kapal. Dan Pemerintah Indonesia juga tidak ada sama sekali negosiasi ke perompak, sehingga anak saya di atas itu terkatung-katung keadaannya dan mengalami stres,” ujarnya.
Menurutnya, komunikasi terakhir dengan anaknya terjadi sekitar 3 minggu lalu. Sejak saat itu, kondisi para kru terus memburuk.
Keluarga besar para pelaut berharap pemerintah Indonesia, termasuk Presiden Prabowo Subianto dan DPR dapat segera mengambil langkah diplomatik dan konkret untuk membebaskan para WNI tersebut.
Kapal MT Honour 25 sendiri diketahui berbendera Uni Emirat Arab. Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi mengenai perkembangan proses negosiasi pembebasan para sandera.









Leave a comment