POPULARITAS.COM – Prospek harga emas diperkirakan masih menghadapi tekanan hingga akhir 2026 seiring meningkatnya daya tarik obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury). Kondisi tersebut dinilai dapat mengurangi status emas sebagai aset safe haven pilihan investor.
Kenaikan imbal hasil (yield) obligasi AS dalam beberapa pekan terakhir telah menjadi hambatan bagi pergerakan harga emas. Yield yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) untuk memiliki emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi.
Meski yield obligasi mulai mengalami penurunan, Senior Market Strategist Bloomberg Intelligence, Mike McGlone, menilai kondisi itu belum cukup untuk mendorong reli harga emas pada paruh kedua 2026.
Dalam laporan komoditas tengah tahun (mid-year commodity report), McGlone mempertahankan pandangan bearish terhadap emas. Ia mengatakan apabila penguatan pasar saham mulai melambat, obligasi pemerintah AS berpotensi menjadi aset safe haven yang lebih murah dan lebih menarik dibandingkan emas.
“Indeks obligasi pemerintah AS telah merosot dibandingkan indeks S&P 500 sejak 2021 akibat gelontoran likuiditas terbesar dalam sejarah. Pertanyaannya, apakah obligasi akan terus tertinggal dari saham, atau justru mulai berbalik? Kami cenderung melihat skenario kedua karena ruang pemulihannya masih sangat besar,” ujar McGlone, dikutip dari Kitco News, Minggu (28/6/2026).
Ia menambahkan, emas mencatat kinerja luar biasa pada 2025, bahkan menjadi tahun terbaik sejak 1979. Namun, menurutnya, fokus investor kini mulai bergeser ke pasar saham.
“Apabila saham terus naik, suku bunga kemungkinan tetap tinggi, sehingga menjadi pesaing bagi emas. Sebaliknya, apabila pasar saham melemah, obligasi pemerintah AS justru berpotensi menjadi pemenangnya,” katanya.
McGlone menilai hubungan antara emas dan obligasi AS kini memasuki titik balik baru.
“Emas terlihat rentan pada 2026 apabila pengetatan kebijakan moneter dan kenaikan suku bunga riil menjadi tema utama ekonomi global,” ujar McGlone.
Memasuki paruh kedua 2026, sejumlah lembaga keuangan mulai menyesuaikan proyeksi harga emas untuk jangka pendek. Meski demikian, sebagian besar analis tetap meyakini prospek jangka panjang logam mulia ini masih positif.









Leave a comment