POPULARITAS.COM – Bursa Efek Indonesia (BEI), setujui enam emiten baru untuk melantai di pasar bursa saham Indonesia pada Juli 2026 nanti.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat masih terdapat enam perusahaan yang berada dalam antrean pencatatan saham (pipeline IPO). Di tengah mulai pulihnya aktivitas pasar perdana, total penghimpunan dana di pasar modal sepanjang tahun ini telah mencapai Rp 80,28 triliun yang berasal dari IPO, penerbitan efek bersifat utang dan sukuk (EBUS), serta rights issue.
“Dari delapan perusahaan tersebut, satu merupakan perusahaan dengan aset skala kecil, satu perusahaan aset skala menengah, dan enam perusahaan aset skala besar,” ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna dalam keterangan tertulis, Minggu (28/6/2026) dikutip dari laman beritasatu.com
Berdasarkan sektornya, pipeline IPO didominasi sektor kesehatan sebanyak empat perusahaan, disusul dua perusahaan sektor barang konsumsi (consumer non-cyclicals), satu perusahaan sektor consumer cyclicals, dan satu perusahaan sektor infrastruktur.
Sementara itu, belum terdapat calon emiten yang berasal dari sektor basic materials, energi, keuangan, industri, maupun properti dan real estat.
Nyoman menambahkan, sepanjang 2026 penghimpunan dana melalui pasar modal telah mencapai Rp 80,28 triliun. Nilai tersebut terdiri atas dana hasil IPO sekitar Rp 300 miliar, penerbitan efek bersifat utang dan sukuk (Ebus) sebesar Rp 76,09 triliun dari 71 emisi yang diterbitkan 43 penerbit, serta rights issue senilai Rp 3,89 triliun dari empat perusahaan tercatat hingga 26 Juni 2026.
Ramainya pipeline IPO terjadi seusai aktivitas pasar perdana sempat melambat akibat tekanan di pasar saham sejak Februari lalu. Sejumlah perusahaan kini kembali memanfaatkan momentum stabilisasi pasar untuk melantai di bursa.
Berdasarkan data e-IPO BEI, sedikitnya enam perusahaan sedang dalam proses penawaran umum perdana saham, yakni PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), PT Bach Multi Global Tbk (BACH), dan PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS). Keenam calon emiten tersebut diperkirakan mampu menghimpun dana sekitar Rp 2,14 triliun.
Di antara calon emiten tersebut, PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) menjadi perusahaan dengan target penghimpunan dana terbesar sekitar Rp 683 miliar. Sementara PT Niramas Utama Tbk (JELI) membidik dana Rp 392 miliar, PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) sekitar Rp 269 miliar, PT Bach Multi Global Tbk (BACH) hingga Rp 307,5 miliar, PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) sekitar Rp 62,7 miliar, serta PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS) yang berpotensi meraih dana sekitar Rp 340 miliar hingga Rp 428 miliar sesuai kisaran harga penawaran.
Menurut Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta, meningkatnya aktivitas IPO menunjukkan perusahaan mulai melihat peluang untuk menghimpun dana di pasar modal, meski kondisi pasar masih dibayangi berbagai tantangan.
“Perusahaan tentu melihat adanya peluang untuk memperoleh pendanaan melalui pasar modal. Artinya, mereka menilai kondisi pasar sudah lebih kondusif dibandingkan beberapa bulan sebelumnya, meskipun investor tetap sangat selektif dalam menilai kualitas emiten yang akan IPO,” ujar Nafan kepada Investor Daily.
BACA JUGA
IPO, RANS Milik Raffi Ahmad Tawarkan Harga Rp 135-Rp 170 Per Saham
Ia menambahkan, keberanian emiten kembali menawarkan saham perdana juga menjadi sinyal bahwa pasar mulai memasuki fase normalisasi setelah mengalami tekanan cukup panjang pada awal tahun.
Meski demikian, Nafan mengingatkan keberhasilan IPO tidak lagi semata-mata ditentukan oleh sentimen pasar. Investor kini lebih menitikberatkan perhatian pada kualitas fundamental perusahaan, prospek bisnis, tata kelola, serta valuasi yang ditawarkan.
“Investor sekarang jauh lebih rasional. Mereka akan memilih perusahaan yang memiliki fundamental kuat, model bisnis yang jelas, prospek pertumbuhan berkelanjutan, serta valuasi yang menarik. Jadi tidak semua IPO otomatis akan diserap pasar dengan baik,” katanya.







Leave a comment