POPULARITAS.COM – Tim nasional Italia dipastikan gagal lolos ke Piala Dunia 2026 usai kalah adu penalti dari Bosnia-Herzegovina pada laga penentuan di Stadion Bilino Polje, Zenica, 31 Maret 2026. Hasil ini membuat Gli Azzurri absen untuk ketiga kalinya secara beruntun dari putaran final, setelah sebelumnya juga gagal tampil pada edisi 2018 dan 2022.
Kegagalan tersebut mempertegas krisis berkepanjangan dalam sepak bola Italia. Sebagai negara peraih empat gelar juara dunia, absennya Italia kembali dari panggung tertinggi sepak bola internasional menjadi sorotan besar. Pelatih Gennaro Gattuso mengakui hasil itu sebagai pukulan berat, terutama karena tim dinilai membutuhkan kelolosan tersebut untuk kepentingan perkembangan sepak bola nasional.
Dalam pertandingan melawan Bosnia-Herzegovina, Italia sempat unggul lebih dulu melalui gol Moise Kean pada menit ke-15. Namun, situasi berubah setelah Alessandro Bastoni menerima kartu merah langsung menjelang turun minum. Unggul jumlah pemain, Bosnia-Herzegovina menyamakan kedudukan lewat Haris Tabakovic pada menit ke-79 sebelum akhirnya menang 4-1 dalam adu penalti. Kegagalan eksekusi dari Pio Esposito dan Bryan Cristante menjadi penentu tersingkirnya Italia.
Meski gagal melalui jalur kualifikasi, Italia disebut masih memiliki peluang tampil di Piala Dunia 2026 apabila terjadi perubahan peserta. Skenario itu berkaitan dengan situasi Iran, yang lolos ke putaran final namun kini berada dalam ketidakpastian menyusul eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.
Ketegangan meningkat setelah serangan udara Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026 dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Kondisi tersebut memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan Iran mundur dari Piala Dunia. Menteri Olahraga Iran, Ahmad Donyamali, bahkan disebut menyatakan bahwa tim nasional negaranya tidak akan berpartisipasi dalam kondisi apa pun.
Jika Iran benar-benar mengundurkan diri, FIFA memiliki kewenangan menunjuk peserta pengganti. Mengacu pada Pasal 6.2 regulasi resmi, badan sepak bola dunia itu dapat menetapkan “peserta alternatif” tanpa harus menggelar proses kualifikasi ulang. Dalam konteks ini, muncul dua kemungkinan, yakni penunjukan tim pengganti dari zona Asia atau pemilihan berdasarkan diskresi FIFA secara global.
Secara normatif, Uni Emirat Arab dinilai menjadi kandidat terdepan jika FIFA memilih menjaga alokasi kuota Asia. Namun, Italia juga masuk dalam pembahasan karena saat ini menempati peringkat ke-12 FIFA, tertinggi di antara negara-negara yang gagal lolos. Asisten pelatih tim nasional Irak, Rene Meulensteen, mengungkapkan adanya rumor bahwa FIFA dapat memilih tim dengan peringkat tertinggi sebagai pengganti Iran, dan Italia berada pada posisi tersebut.
Kendati demikian, Presiden FIFA Gianni Infantino menegaskan bahwa hingga saat ini organisasi tersebut masih berpegang pada “Rencana A”, yakni Iran tetap ambil bagian di Piala Dunia 2026. Sikap ini menunjukkan bahwa belum ada keputusan resmi terkait kemungkinan penggantian peserta, meskipun spekulasi terus berkembang.
Apabila FIFA pada akhirnya menunjuk Italia, keputusan tersebut berpotensi memicu protes dari asosiasi sepak bola Asia. Penunjukan tim Eropa untuk menggantikan wakil Asia dinilai dapat menimbulkan perdebatan mengenai keadilan sistem kualifikasi antarwilayah, sekaligus memunculkan tudingan bahwa faktor komersial lebih diutamakan dibanding prinsip kompetitif.
Untuk saat ini, peluang Italia menuju Piala Dunia 2026 masih sepenuhnya bergantung pada keputusan FIFA dan perkembangan situasi Iran. Namun, terlepas dari kemungkinan tersebut, kegagalan di jalur kualifikasi tetap menjadi sinyal kuat bahwa sepak bola Italia membutuhkan evaluasi menyeluruh agar mampu kembali bersaing secara konsisten di level tertinggi.
sumber: beritasatu










Leave a comment