Home Kesehatan Jalan Kaki Kurang dari 5.000 Langkah Tetap Bisa Bermanfaat
KesehatanNews

Jalan Kaki Kurang dari 5.000 Langkah Tetap Bisa Bermanfaat

Share
Dokter: Jaga kaki sehat dengan sepatu yang tepat
Ilustrasi berjalan kaki. Foto : HO/ Daniel Reche dari Pexels | popularitas.com
Share

POPULARITAS.COM – Berjalan kaki menjadi salah satu aktivitas fisik sederhana yang dapat membantu menjaga kebugaran tubuh. Selama ini, target 10.000 langkah sehari sering dijadikan acuan  banyak orang untuk mempertahankan kesehatan. Namun, penelitian terbaru menunjukkan kecepatan berjalan juga berkaitan dengan risiko kematian, bahkan ketika jumlah langkah harian belum mencapai angka tersebut.

Studi terhadap lebih dari 64.000 orang dewasa menemukan jumlah langkah dan kecepatan berjalan memiliki hubungan dengan risiko kematian selama delapan tahun pengamatan. Orang yang berjalan lebih cepat dengan jumlah langkah lebih sedikit maupun mereka yang berjalan lebih banyak dengan kecepatan lebih lambat sama-sama menunjukkan risiko kematian yang lebih rendah.

Temuan ini menunjukkan, manfaat berjalan kaki tidak hanya berkaitan dengan seberapa jauh seseorang melangkah, tetapi juga seberapa cepat ia bergerak. Meski demikian, hasil penelitian tersebut tidak berarti kecepatan berjalan tertentu dapat menjamin seseorang hidup lebih panjang.

Penelitian tersebut menganalisis data lebih dari 64.000 orang dewasa paruh baya yang terdaftar dalam UK Biobank. Para peserta menggunakan perangkat pemantau aktivitas di pergelangan tangan selama tujuh hari untuk mencatat jumlah langkah dan kecepatan berjalan.

Peneliti kemudian mengelompokkan peserta berdasarkan jumlah langkah harian dan kecepatan berjalan. Hubungan antara pola aktivitas tersebut dan risiko kematian diamati selama delapan tahun.

Melansir Health, Kamis (22/10/2026), Nicholas Koemel, peneliti senior di School of Psychological Sciences, Monash University, sekaligus salah satu penulis studi, mengatakan penelitian tersebut bertujuan mengidentifikasi hubungan antara jumlah langkah, kecepatan berjalan, kesehatan, dan risiko kematian.

Kedua faktor itu sebelumnya belum banyak diteliti secara bersamaan. Melalui penelitian ini, para peneliti berupaya memahami bagaimana kombinasi jumlah langkah dan kecepatan berjalan berkaitan dengan risiko kematian dalam jangka panjang.

Haris Vakil, dokter kedokteran olahraga di Houston Methodist Clear Lake Hospital yang tidak terlibat dalam penelitian, menjelaskan, sebenarnya tidak ada jumlah langkah harian tertentu yang menjadi patokan mutlak untuk mendukung umur panjang.

Menurut temuan tersebut, manfaat aktivitas berjalan berkaitan dengan jumlah langkah yang dikumpulkan sekaligus kecepatan seseorang saat bergerak.

Kurang dari 5.000 Langkah Sehari Tetap Bisa Memberi Manfaat

Hasil pengamatan selama 8 tahun menunjukkan, risiko kematian lebih rendah ditemukan pada kelompok yang berjalan kurang dari 5.000 langkah sehari dengan kecepatan lebih tinggi maupun kelompok yang mengumpulkan lebih banyak langkah dengan kecepatan lebih lambat.

Dokter Vakil menyebut, berjalan kurang dari 5.000 langkah sehari dengan kecepatan sekitar 80 langkah per menit dikaitkan dengan penurunan risiko kematian yang serupa dengan berjalan 5.000–7.000 langkah sehari pada kecepatan sekitar 60 langkah per menit.

Temuan itu memperlihatkan, kecepatan berjalan dapat menjadi salah satu pertimbangan ketika seseorang ingin meningkatkan aktivitas fisik sehari-hari.

Bagi orang dengan keterbatasan waktu atau belum terbiasa berjalan jauh, meningkatkan kecepatan secara bertahap dapat menjadi pilihan untuk tetap aktif. Namun, jumlah langkah juga tetap berperan dalam kaitannya dengan kesehatan.

Peneliti menyebutkan, risiko kematian secara keseluruhan paling rendah ditemukan pada kelompok yang berjalan sekitar 7.500-10.000 langkah setiap hari.

Dengan demikian, seseorang tidak harus selalu mencapai 10.000 langkah untuk mulai memperoleh manfaat dari aktivitas berjalan kaki. Meski begitu, hasil penelitian ini tidak memperlihatkan jumlah langkah yang lebih sedikit selalu memberikan manfaat yang sama bagi setiap orang.

Hasil penelitian ini dapat menjadi kabar baik bagi orang dengan jadwal aktivitas padat atau kesulitan memenuhi target 10.000 langkah sehari. Artinya, individu seperti ini tetap dapat meningkatkan aktivitas fisik melalui kebiasaan berjalan secara teratur dan menyesuaikan kecepatan dengan kemampuan tubuh.

Meski demikian, ada sejumlah keterbatasan yang perlu diperhatikan sebelum hasil penelitian digunakan sebagai acuan kesehatan.

Pertama, penelitian ini bersifat observasional. Artinya, peneliti mengamati hubungan antara pola berjalan dan risiko kematian, tetapi tidak membuktikan bahwa jumlah langkah atau kecepatan tertentu secara langsung menyebabkan penurunan risiko tersebut.

Kedua, aktivitas peserta hanya diukur selama 7 hari. Catatan tersebut belum tentu mencerminkan kebiasaan berjalan mereka sepanjang delapan tahun masa pengamatan.

Terlepas dari keterbatasannya, penelitian ini memberikan gambaran mengenai hubungan aktivitas fisik dan kesehatan jangka panjang.

Dokter Cox menilai masyarakat sebaiknya tidak hanya berfokus pada jumlah langkah atau kombinasi kecepatan tertentu. Pesan utamanya adalah tetap bergerak dan aktif, alih-alih terpaku pada angka yang dianggap paling ideal.

Membangun kebiasaan berjalan kaki secara teratur alias konsisten dapat menjadi langkah awal yang realistis. Seseorang tidak perlu langsung memaksakan diri mencapai target tinggi apabila aktivitas tersebut belum sesuai dengan kemampuannya.

Selain menghitung langkah per menit, talk test atau tes berbicara untuk membantu memperkirakan intensitas berjalan kaki.

Metode ini dilakukan dengan memperhatikan kemampuan berbicara saat sedang berjalan. Jika napas terasa lebih berat, tetapi seseorang masih mampu mengucapkan kalimat-kalimat pendek, intensitas tersebut kemungkinan sudah cukup tinggi untuk aktivitas berjalan cepat. Tes berbicara dapat menjadi cara sederhana untuk memperkirakan intensitas aktivitas tanpa harus terus menghitung langkah.

Berjalan kaki merupakan aktivitas sederhana yang dapat dimasukkan ke dalam rutinitas sehari-hari. Namun, aktivitas ini sebaiknya menjadi bagian dari pola hidup sehat secara menyeluruh.

Latihan kekuatan atau resistance training dua kali seminggu juga dapat mendukung kesehatan jangka panjang. Selain itu, latihan mobilitas, tidur cukup, dan pola makan seimbang turut berkontribusi dalam menjaga kebugaran tubuh.

Pengendalian tekanan darah, gula darah, dan kolesterol juga perlu diperhatikan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan secara keseluruhan. Pada akhirnya, jumlah langkah harian bukan satu-satunya ukuran keberhasilan dalam menjaga kesehatan.

 

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
News

Suahasil Pastikan Gaji PNS Tak Disalurkan lewat Kopdes Merah Putih

POPULARITAS.COM – Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara menegaskan gaji pegawai negeri sipil...

News

Kapolri: Kapal Tanker Pembawa 1 Ton Narkoba Ketamine Sudah Dipantau 3 Bulan

POPULARITAS.COM – Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto mengungkapkan, petugas gabungan telah melakukan...

InternasionalNews

Gempa Magnitudo 7,0 Guncang Tibet, 16 Orang Tewas dan 46 Luka-luka

POPULARITAS.COM – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,0 mengguncang wilayah terpencil Tibet, China,...

News

Kemlu Pastikan 49.000 Jemaah Umrah Indonesia di Arab Saudi dalam Kondisi Aman

POPULARITAS.COM – Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memastikan 49.000 jemaah umrah Indonesia...