POPULARITAS.COM – Provinsi Aceh daerah paling porak-poranda diterjang banjir bandang dan tanah longsor. Meski tak mengecilkan dampak terhadap Sumbar dan Sumut, namun daerah berjuluk serambi mekkah itu memang butuh perhatian lebih untuk merekontruksi kembali pascabencana.
Tuntutan elemen-elemen di Aceh, suarakan agar bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumut dan Sumbar, bisa ditetapkan sebagai bencana nasiona, kurang mendapat respon positif dari Presiden RI Prabowo Subianto.
Meski Prabowo tiga kali berkunjung ke Aceh, namun persoalan mendasar menata kembali Aceh pascabencana, belum mendapatkan perhatian serius dari pusat.
Warga menjerit, pemerintah mengeluh, ulama Aceh bersuara, namun suara-suara itu dianggap angin lalu.
Beruntung, Aceh punya gubernur seperti Muzakir Manaf. Sosok mantan Panglima GAM itu, tampak tegar hadapi semua persoalan. Ia tak banyak bicara. Namun, hari demi hari dihabiskannya dengan mendatangai rakyatnya di posko-posko pengungsian.
Dua kali sudah Mualem menetapkan status bencana provinsi. Aceh masih dalam fase tanggap darurat hingga 29 Desember 2025 mendatang.
Merujuk data yang dikeluarkan Posko Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh, kerusakan yang ditimbulkan akibat banjir dan tanah longsor sangat masif dan skala kehancurannya begitu luas.
Jiwa melayang 430 orang, ratusan luka berat, ribuan luka ringan, 164.906 unit rumah rusak parah. Lebih dari 186 ekor ternak sapi mati, 89 ribu hektar sawah rusak, dan 40 ribu hektar tambak.
Belum lagi kehancuran infrastruktur, ada 332 jembatan hancur, 461 titik jalan rusak parah. Perkantoran dan fasilitas umum, sekolah, pesantren, rumah ibadah dan puskesmas pun tak terbilang kerusakannya.
Fase tanggap darurat bencana ke-2, fokus pemerintah masih soal keselamatan warga, akses jalan vital, dan distribusi logistik. Setelah itu, tahapan penting, merekontruksi kembali Aceh pascabencana.
Hitung-hitungan BNPB, butuh Rp25 triliun. Tapi itu hanya untuk biaya merekonstruksi jalan-jalan dan insfrastruktur yang rusak. Terus, bagaimana mengembalikan mata pencaharian dan ekonomi warga yang ikut hancur.
Petani tak bisa lagi menggarap sawah, warga banyak kehilangan ternak dan kebuh. Tambak-tambak tak lagi bisa menghasilkan ikan dan udang untuk hidup.
Semua itu tak mungkin dibebankan pada Mualem seorang. Muzakir Manaf tak bisa dibiarkan sendiri, terlalu berat persoalan itu untuk disematkan dipundak pemimpin Aceh itu.
Mualem sadar benar apa yang Ia hadapi. Jika tak cepat mencari alternatif dan jalan keluar dari masalah yang ada, maka, kehancuran ekonomi Aceh diambang mata. Rakyat Aceh makin jatuh kedalam jurang kemiskinan.
Muzakir Manaf tak berteriak, Ia hanya menyampaikan rasa yang dia tahan lewat air mata yang tak keluar. Tangis mendalam dari lubuk hati seorang lelaki yang mencintai rakyatnya.
Meski tak teriak, Mualem secara pasti mengirimkan surat ke lembaga-lembaga PBB, yakni UNDP dan Unicef. Untuk membantuk rekontruksi Aceh, menolong masa depan anak-anak Aceh pascabencana.
Kita, tak boleh membiarkan Mualem sendiri. Mari bergerak membantu Gubernur Aceh itu. Jangan biarkan lagi pria itu menangis tanpa air mata. Cukup sudah, apa yang kita harapkan dari pusat. Toh, hati mereka tak bergerak melihat apa yang kita rasakan. (***EDITORIAL)










Leave a comment